Apa Anda Menonton Film Porno Bersama Anak?

0
59

.Sejak kecil anak akan mulai banyak bertanya seputar seks. Dari mana datangnya bayi, mengapa alat kelamin adik perempuannya berbeda dengan milik ayahnya, mengapa ibu berdada besar, dan masih banyak lagi.

Semakin anak bertambah usia, sedikit demi sedikit ia mulai mengenal apa itu ‘seks’. Mengenal bukan berarti memahami. Anak hanya mengetahui permukaannya saja. Satu hal yang salah di sini. Ia mengenal seks sebagai hal yang tabu dibicarakan.

Menginjak umur belasan, bisa dipastikan buah hati tidak lagi banyak bertanya mengenai seks, alat kelamin, ataupun masalah keintiman antara seorang laki-laki dan perempuan. Ini berarti anak sudah paham! No. Anda salah.

Ia berhenti bertanya bukan karena sudah mengerti. Pertanyaan-pertanyaan – bagaimana rasanya melakukan hubungan seks? Mengapa orang melakukan itu? Bagaimana caranya? – tidak lagi dilontarkannya karena ia merasa malu.  Ia takut Anda menuduhnya yang tidak-tidak. Tidak hanya itu, anak juga yakin bahwa Anda akan buru-buru menutup mulutnya atau memotong pembicaraannya jika ia sudah mulai membuka pembicaraan seputar seks. Semua karena Anda selalu menanamkan ide di otaknya, bahwa seks itu tabu, jahat, tidak baik, kotor, memalukan, dan segala hal negatif lainnya.

Belum selesai rasa ingin tahunya, Anda tidak lagi memberikan jawaban atas rasa penasarannya. Solusi pun didapatkan dari teman sebaya. Mereka bersama-sama menonton film porno. Tidak mengerti baik buruknya, ia pun meniru dan mempraktekkan adegan-adegan tersebut dengan teman sekolahnya yang berlawanan jenis. Kecolongan! Mungkin itu pikir Anda. Tapi bila ditelusuri, semua bisa jadi salah Anda sebagai orangtua.

Terbukalah terhadap anak mengenai masalah seks. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi di sini. Seorang sumber berumur 29 tahun yang tidak mau disebutkan namanya menuturkan pada Ghiboo tentang bagaimana seks ‘disajikan’ secara ‘resmi’ di tengah-tengah keluarga. Sejak berumur 18 tahun, ia bersama seluruh anggota keluarga melihat film porno bersama-sama. Ya, ayah, ibu, kakak, adik, dan dirinya menikmati dan mempelajari semua jenis film porno bersama-sama. Awalnya merasa malu, namun dengan arahan dan bimbingan kedua orangtua yang memberikan penjelasan secara terbuka dan apa adanya, ia dan saudara-saudaranya bisa melihat seks dari segala aspek dan tentu menjadi lebih bijak dalam menghadapi hal tersebut.

Tentu pengalaman ini tidak selalu bisa diterapkan dalam setiap keluarga, namun bisa menjadi contoh bahwa keterbukaan lebih baik daripada anak mencari tahu sendiri dengan cara yang salah. Terbuka dalam hal seks bukan berarti menerangkan secara vulgar ketika anak masih sangat di bawah umur. Jelaskan pada si kecil sesuai dengan kapasitas usia dan kebutuhannya.

(Berbagai sumber)

SHARE