Hahaha! Anak Tertawa Atau Gila?

0
56

.Anak juga butuh tertawa. Cara membuat si kecil tersenyum dan tertawa tentu saja dengan memberikannya lelucon. Humor is good, right? Tapi ingat, tidak semua bentuk humor pantas dan cocok untuk diterapkan pada buah hati.

Ajarkan si kecil mengerti dan memahami apa itu lelucon. Bagaimana membuatnya, apa yang lucu, mengapa bisa lucu, dan sebagainya. Mungkin pada awalnya, semua hal yang ada di sekitarnya akan dilihat anak sebagai sesuatu yang aneh dan lucu. Orang-orang dewasa di sekitarnya akan tertawa mendengar cerita lucu, sementara ia sendiri terbengong-bengong melihat kehebohan tersebut. Jelaskan padanya, mengapa Anda tertawa. Anak mungkin tetap tidak akan mengerti apa lucunya hal-hal tertentu yang Anda tertawakan.

Bercanda juga harus tahu tempat dan waktu. Ajarkan pada anak agar tidak bercanda dan tidak tertawa dalam suatu upacara pemakaman. Meskipun ada sesuatu yang mebuatnya sangat geli, ia harus menahan ketawanya untuk menjaga sikap sopan dan menghargai. Memahami perasaan dan suasana hati seseorang juga perlu dilakukan sebelum tertawa ataupun melontarkan humor. Jangan sampai si kecil dibenci sahabatnya yang kesakitan setelah jatuh dari sepeda, karena ia menertawai celana sang sahabat yang sobek akibat kecelakaan tersebut. Bisa juga setelah membaca kalimat ini, Anda mencoba tertawa. Hahahaha! Bagaimana? Aneh, kan, rasanya? Mulut hanya akan terasa pegal, karena tidak ada yang lucu tapi mulut terbuka lebar. Seperti itulah mungkin caranya menjelaskan pada anak Anda.

Menjadikan kekurangan fisik seseorang sebagai obyek lawakan juga tidak baik. Sebaiknya buah hati tidak membiasakan hal ini. Lelucon dibuat untuk menghibur hati seseorang, bukan untuk menyakitinya, setuju? Selain itu, bentuk-bentuk humor seperti sarkasme, sindiran, menggunakan kata-kata kotor dan jorok juga tidak patut diajarkan atau bahkan dipraktekkan di depan anak. Anda bisa, kok, memberikan contoh banyak joke cerdas yang mendidik, tanpa harus menjatuhkan, mempermalukan, ataupun menyerang orang lain.

Sensitifitas akan hal-hal lucu dan cerdas sekaligus mengembangkan toleransi terhadap perasaan orang lain adalah kunci untuk mendidik anak memahami ‘lelucon’ dengan benar.

(Berbagai sumber)

SHARE