Stigma Sulung Melawan Bungsu

0
56

.Wajar rasanya bila Anda kerap berselisih paham dengan saudara kandung saat masih kecil. Akan menjadi berbahaya bila Anda masih meneruskan ‘tradisi’ ini ketika Anda sudah sama-sama beranjak dewasa.

Sebut saja ikatan darah antara dua bersaudara, si sulung dan si bungsu. Sulung selalu tidak pernah mau disalahkan, karena ia merasa lebih tua dan lahir lebih dulu dibanding adiknya. “Tahu apa adikku itu,” pikirnya. Dengan keangkuhannya, sang kakak selalu menyuruh adiknya melakukan berbagai macam pekerjaan layaknya bos kepada anak buahnya. Seperti dalam suatu geng, anggota yang masuk lebih dulu akan lebih berkuasa. Ya, sikap ‘bossy‘ dan ‘senioritas’ kerap disandang para anak sulung.

Lain lagi dengan sang bungsu. Sejak kecil ia selalu mendapat perlindungan dan pembelaan di bawah ketiak orangtua, meski dirinya bersalah. Alasannya hanya satu, ia anak terkecil dan anggota keluarga termuda. Pintu maaf dari orangtua selalu terbuka lebar untuknya. Umur yang sedikit menjadi senjata kekebalan untuknya dari segala macam dakwaan kesalahan. Terlebih dengan slogan “Anak dan orang yang lebih tua harus mengalah pada mereka yang lebih muda.” Hal ini semakin membuat si bungsu semena-mena terhadap kakaknya.

Perang sulung melawan bungsu semakin memanas. Kakak memanfaatkan senioritasnya untuk ‘menggencet‘ sang adik. Sedang si bungsu sibuk memikirkan cara licik ‘menyiksa’ dan mengambil keuntungan dari kakaknya dengan berpura-pura menjadi korban, yang tentu akan langsung dipercaya orangtua mereka.

Menyedihkan. Tidak seharusnya Anda masih saling sikut dengan saudara sendiri saat telah dewasa. Untuk mengakhiri kekonyolan-kekonyolan ini, berhentilah merasa iri terhadap keuntungan-keuntungan kakak atau adik Anda hanya karena terlahir menjadi sulung atau bungsu dalam keluarga.

Kini ketahuilah dan pahamilah beban dan negatif menjadi kakak atau adik Anda. Bila Anda pikir menjadi sulung itu enak, karena bisa memerintah, Anda salah. Anak sulung akan selalu mendapat beban untuk menjadi ‘contoh’, role model yang baik bagi adiknya. Ia harus sukses dalam segala hal, pekerjaan dan keluarga. Untuk berbuat nakal, ia harus sembunyi-sembunyi, karena takut citra ‘sempurna’ sebagai seorang kakak ternodai.

Sebaliknya, seorang adik memang selalu dibela oleh orangtua, walaupun dialah yang melakukan kesalahan. Namun justru inilah sumber masalah baginya nanti. Sang bungsu akan selalu tidak dipercaya oleh ayah atau ibu. Kenapa? Tidak lain karena ia akan selalu dianggap anak kecil yang lemah, tidak tahu apa-apa, dan akan selalu membutuhkan pertolongan dari keluarganya. Keingingan si bungsu untuk berpendapat atau menentukan langkah sendiri akan sangat dihalangi-halangi oleh keluarga.

Memahami kelebihan dan kekurangan adik atau kakak Anda akan membuka cara pandang yang berbeda. Dengan ini Anda akan bisa saling menghargai dan menahan emosi ketika mulai berbeda pendapat ataupun menemukan ketidakcocokan. Bila akan memulai pertengkaran dengannya, cukup ingat bahwa saudara Anda juga memiliki ‘beban’ yang harus dipikulnya sendiri, itu sudah cukup membuatnya menderita, bukan? Tidak perlu diperburuk dengan kekonyolan masing-masing.

(Berbagai sumber)

SHARE