Ahmad Fuadi : Sebuah Trilogi Tentang Usaha, Kesabaran dan Konsistensi

0
56

.Tuhan bersama orang yang sabar. Jadi selama kita bela, selama kita terus berusaha, selama kita bersabar, Tuhan bersama kita. Itulah yang coba disampaikan oleh Ahmad Fuadi. Seorang pria ramah yang merupakan founder Komunitas Menara, photography enthusiast, scholarship hunter dan mega best selling author dengan menulis novel Negeri 5 Menara dan sekuelnya, Ranah 3 Warna.

Tanggal 23 Januari lalu, Gramedia selaku penerbit melakukan road show buku sekuel Ranah 3 Warna di tiga tempat yaitu Depok, Bintaro dan Matraman. Baru tiga hari sejak road show dilakukan, buku sekuel Ranah 3 Warna ini sudah melakukan cetak ulang yang ketiga. Buku pertamanya sendiri, Negeri 5 Menara, akan segera difilmkan.

Ghiboo berkesempatan mengunjungi kediaman Ahmad Fuadi di daerah Bintaro. Rumah yang juga berperan serta melahirkan buku yang mampu menginspirasi jutaan orang dengan kisahnya yang luar biasa. Disana Ahmad Fuadi bercerita kepada Ghiboo tentang mimpi dan usaha yang dia lakukan untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bagaimana dia memulai semua harapannya dengan sebuah kisah yang mampu membuka pikiran banyak orang? Ghiboo membagi ceritanya disini dengan anda : 

Tentang sekuel Ranah 3 Warna

“Ranah 3 Warna adalah buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Negeri 5 Menara itu cerita tentang perjalanan seorang anak dari sebuah kampung kecil kemudian dia end-up dengan jalan-jalan keliling dunia, dia sekolah di berbagai negara. Tapi yang menarik adalah gimana perjalanan dia dari kampungnya kemudian masuk pesantren dan bertemu banyak orang (pada buku Negeri 5 Menara)”.

“Ada pesan kuat dari buku ini yaitu Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Cerita di Negeri 5 Menara berhenti ketika tokoh utamanya (Alif) dan teman-temannya itu lulus pesantren dan kemudian melompat ke cerita  ketika mereka sudah berhasil belasan tahun kemudian dan bereuni di Trafalgar Square London”.

“Buku Ranah 3 Warna melanjutkan perjalanan itu tapi mem-pickupnya itu setelah si ALif lulus pesantren. Jadi Alif sudah masuk ke dunia luar dan dia sangat semangat untuk kuliah. Saat itu dia sudah berpisah dengan teman-temannya dan seperti memasuki belantara bebas setelah digodog disebuah kawah candradimuka bernama Pondok Madani”.

“Pesan utama di Ranah 3 Warna itu Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Ranah 3 Warna adalah sebuah hikayat bahwa impian atau cita-cita wajib dibela habis-habisan at all cost. Walaupun hidup itu kayanya penuh cobaan, hidup itu penuh badai, tapi tetap impian tidak boleh kita lupakan dan harus dibela. Itu juga yang digambarkan pada cerita ini ketika bagaimana Alif begitu mau masuk kuliah banyak cobaan, setelah kuliah banyak cobaan juga, sementara cita-cita tetap tinggi. Mau keluar negeri, mau selesai kuliah tapi ga punya duit dan ga punya berbagai fasilitas. Itulah yang diperlihatkan di Ranah 3 Warna”.

“Ada 3 setting dalam ranah 3 warna. Ada setting Indonesia, Jordania dan Kanada. Cover buku ini merupakan representasi dari cerita besarnya. Ada gambar daun maple yang represent Kanada, pasir yang represent Jordania dan rumput represent Indonesia. Pemilihan rumput untuk represent Indonesia karena teringat kalo pagi-pagi di Bandung itu banyak rumput hijau yang dujungnya ada embun yang sejuk. Ada sepasang sepatu diatas itu yang merupakan representasi perjalanan anak rantau yang penuh cobaan namun terus berusaha coba berjalan. Makanya sepatunya itu bulukan dan nanti akan menjadi sebuah karakter dalam cerita ranah 3 warna yang disebut Si Hitam”.

Tentang Trilogi Negeri 5 Menara

“Trilogi ini tetap novel tapi terinspirasi oleh kisah nyata. Jadinya ibarat rumah, tiang utamanya itu kisah nyata tapi gordinnya, pintunya ada yang ditambahin. Jadi ada pengembangan karena dia bukan memoar atau biography”.

“Sebelum saya menulis buku pertama, ada konsep besar yang sudah dibikin. Awalnya sempat berpikir mau membuat tujuh buku karena setiap tahun di Pondok Madani uda kaya Harry Potter, bisa dijadiin buku sendiri. Tapi kemudian berpikir apa cukup energi nya? Akhirnya dimampatkan menjadi tiga buku. Buku pertama itu masa sekolah, buku kedua itu masa kuliah dan buku ketiga itu masa kerja. Bagaimana growth nya Alif dari karakter seorang anak, menjadi remaja, menjadi pemuda dan nanti menjadi dewasa”.

Tentang Promo dan Rencana Buku Ketiga

“Karena sudah ada konsep awalnya jadi begitu buku pertama selesai, saya langsung membuat mind mapping untuk buku kedua dan langsung nulis. Begitu juga saat ini, ketika rilis buku kedua, saya langsung menulis untuk buku ketiga. Begitu naskah selesai dibaca dulu sama istri saya, karena dia dulu juga wartawan Tempo, sama seperti saya. Dia punya sense dalam menulis yang baik tapi dia juga pembaca novel. Jadi seperti ada editor pribadi dulu, lalu baru masuk ke editor penerbit”.

Ranah 3 Warna pada hari ketiga mulai masuk pada cetakan ketiga. Menurut Ahmad Fuadi, cetakan pertama berjumlah 30.000 eksemplar, kedua 20.000 eksemplar dan ketiga 20.000 eksemplar. Menurut pemaparannya, “Hari ketiga, editor saya nelfon. Mas ini Alhamdulillah kita akan cetak yang ketiga. Banyak permintaan. Karena dalam kontrak, penerbit harus ngasih tau penulis kalo ada cetak ulang karena berhubungan sama kontrak, royalti, dan revisi. Karena tiap cetak ulang kita berkesempatan untuk revisi tentang apa yang kurang”.

“Pemilihan lokasi road show di Depok, Bintaro dan Matraman itu ditentukan oleh pihak Gramedia selaku penerbit. Di Bintaro karena mencatat penjualan terbesar untuk buku Negeri 5 Menara setelah Padang. Matraman karena terbesar dan Depok karena pertimbangan pasar. Beberapa bulan sebelum rilis, saya sudah memberitahukan informasinya melalui FB dan twitter. Selanjutnya sudah disusun dimana saja saya akan berbicara. Lalu sebulan kedepan dari Februari sampai Maret akan dikosongkan dulu jadwal promo karena Saya dan Istri akan umroh dan dilanjutkan travelling dan backpacking ke beberapa negara timur tengah seperti Mesir, Syria dan Jordania sekitar sebulan”.

Its more than a book. Karena ketika saya promo tentang buku ini, saya juga berbicara tentang spirit, tentang menulis, tentang motivasi, tentang scholarship dan tentang photography”.

Tentang Penulisan Buku Lain

Karena banyak sekali pengalaman dan hobi yang dimiliki oleh Ahmad Fuadi, dia berencana untuk membuat buku dari semua pengalaman dan hobinya. Menurut Ahmad Fuadi, “Terdekat itu tips merebut beasiswa berdasarkan pengalaman saya mendapat beasiswa luar negeri. Tinggal di edit dikit dan tunggu terbit. Sudah ada banyak judul buku yang ada dalam laptop saya (untuk buku tentang beasiswa). Ada juga rencana menulis buku travelling, buku tentang photography, buku tentang menulis, buku novel sejarah, buku novel anak-anak, tinggal tunggu waktu”.

Tentang Pembuatan Film Negeri 5 Menara

“Ketika buku pertama itu terbit, sekitar sebulan kemudian ada seorang produser film ternama yang menghubungi. Kita (Ahmad Fuadi dan tim) tertarik dan kaget juga karena ga ngira juga karena ini baru terbit. Beberapa minggu kemudian ada PH lain yang juga menghubungi dan sampai terakhir ini ada sepuluh pihak yang menghubungi untuk pembuatan film buku pertama. Akhirnya setelah ngobrol sama istri dan tim, kalo ternyata ada pilihan, kita lihat yang paling cocok aja. Ngobrol dulu mana yang paling cocok sama misi kami. Ini kan buku tentang pendidikan, tentang semangat hidup, dari situ baru dipilihlah mitranya. Saat ini masih proses skenario oleh penulis Salman Aristo. Kita sudah riset ke Gontor, sudah sampai draft dua skenarionya dan rencananya tengah tahun ini akan merekrut crew dan casting. Rencananya akhir tahun akan tayang kalau lancar. Peran saya nanti sebagai creative consultant dan saya terlibat semua proses penulisan draft”.

Tenta
ng Proyek dan Impian

“Sebagian dari royalti buku ini akan dibangun untuk sebuah yayasan sosial. Sebelumnya kita pernah membangun kembali sebuah sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang runtuh di Pariaman waktu terjadi gempa bumi di Padang. Kita membangun sekolah itu lagi, secara fisik, sekarang sudah berdiri kembali dan sudah berjalan kembali”.

“Saya melihat menulis buku bukan terminal akhir. Menulis hanya alat. Misi utama saya sebetulnya membuat yayasan yang membantu pendidikan orang yang tidak mampu dan mimpi saya adalah untuk membesarkan itu. Saya ingin dalam sepuluh tahun lagi komunitas menara ini bisa jadi penggerak gerakan massal di Indonesia bahwa pendidikan itu sangat penting bahkan sebelum sekolah”.

“Selama ini dana masih mandiri dari royalti buku dan dari keluarga. Konsepnya adalah berbasis relawan. Siapa saja welcome untuk join dan mereka bisa menyumbang sesuai kemampuan mereka. Konsepnya adalah mari ikhlas berbagi dan spiritnya adalah sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Sekarang yang mengisi formulir relawan ada sekitar 500 orang di seluruh Indonesia. Ini merupakan jejaring seluruh Indonesia dimana orang sudah berniat untuk siap berbagi dengan caranya masing-masing”.

Inilah empat rencana besar yang akan dilakukan Ahmad Fuadi dan Komunitas Menara :

1. PAUD yg berbasis karakter. Kita akan buka tanggal 5 bulan Februari ini sekolah gratis di belakang Bintaro, buat orang-orang yang ngga mampu. Gurunya khusus dan kurikulum nya tentang karakter. Ini merupakan proyek pertama yang kita bangun sendiri dan kita handle sendiri. Ini adalah pilot project, kalau berhasil kita akan replikasi di beberapa tempat lain. Impian saya dalam sepuluh tahun lagi akan ada sebuah network of school seperti ini di seluruh Indonesia. Sehingga kalau network of school itu banyak, generasi Indonesia dari awal paling tidak sudah ada standar sentuhan pembangunan karakternya. Sehingga nanti kalau mereka sudah besar mudah-mudahan lebih baik. Jadi ini merupakan investasi jangka panjang yang mungkin kita tidak akan melihat. Pendidikan akan dilakukan sambil bermain. Kurikulumnya sudah dibuat oleh yayasan bernama Indonesia Heritage Foundation, mereka sudah jalan bertahun-tahun dan sudah memiliki lebih dari seribu sekolah sejenis yang juga membangun karakter. Kurikulum ini bukan tiba-tiba tapi dari hasil riset di berbagai negara. Jadi ini sudah well prepared dan semua pengembangan karakter itu diselipkan dalam bermain.

2. Pengembangan perpustakaan komunitas. Jadi di setiap sekolah itu tadi akan perpustakaan yang dibuka setelah anak-anak itu pulang sekolah.

3. Pengembangan beasiswa juga tapi kita belum punya kriteria yang jelas. Sekarang ini baru beasiswa personal aja tapi nanti kita perlu bikin semacam standarisasi.  

4. Sharing motivasi. Jadi saya sering diundang untuk sharing di depan murid-murid dan guru-guru tentang motivasi mereka tentang semangat hidup dan tentang karakter. Kalau itu dirasa mereka tidak mampu, kita yang akan menanggung semua biaya transportasi.

Tentang Pembajakan dan Teknologi

“Melihat buku sendiri dibajak (terdiam) sebaiknya jangan. Tapi akhirnya saya berpikir juga seperti ini, yang mau saya sampaikan sebetulnya berbagi inspirasi. Kalau kemudian yang membaca itu terinspirasi ya Alhamdulillah. Cuma kalau orang membeli bajakan kan artinya ada hak orang yang ga dibayarkan, hak penerbit, hak penulis, hak toko”.

Saat ini Negeri 5 Menara sudah tersedia dalam versi e-book. Tapi e-book tersebut baru terbatas untuk kalangan pengguna Galaxy Tab. Ketika ditanya perihal adakah rencana peluncuran e-book gratis, dia baru akan memikirkan tentang hal tersebut karena dia ingin membuat pleatihan teknik menulis secara gratis based on pengalaman Ahmad Fuadi menulis novel dan menjadi wartawan di Tempo.

Trivia

Ada cerita menarik tentang pembaca Negeri 5 Menara. Menurut cerita Ahmad Fuadi, “Ada orang Malaysia, datang dari Malaysia ke Bukittinggi untuk membeli buku Negeri 5 Menara. Belinya buku bajakan pula. Karena memang di Bukittinggi, kampung saya sendiri, banyak buku bajakannya. Dia baca terus dia terinspirasi banget. Dia punya tanah di Malaysia beberapa hektar dan dia akan bangun pesantren seperti yang ada di buku Negeri 5 Menara. Sekarang dia sedang dalam proses pembangunan fisik”.

Negeri 5 Menara sudah tersedia dalam bahasa Malaysia dan Ranah 3 Warna sekarang sedang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan direncanakan selesai tahun ini.

Ada banyak bahasa yang di
eksplore  di buku ini. Ada bahasa Minang, Sunda, Inggris, Arab
bahkan Perancis.

Hmm, begitu banyak cerita tentang Ahmad Fuadi yang sangat menarik. Bagi anda yang belum membaca karya dari Ahmad Fuadi, Ghiboo merekomendasikan anda untuk membaca Negeri 5 Menara atau Ranah 3 Warna. Sebuah trilogi tentang pendidikan, semangat hidup, mimpi dan perjuangan. Dan bila anda tertarik bergabung menjadi relawan untuk Komunitas Menara, silahkan log on ke www.negeri5menara.com atau langsung saja melalui twitter resmi Ahmad Fuadi @fuadi1.

Ini merupakan langkah awal dari rencana hebat jangka panjang seorang pemuda asal ranah Minang. Kita menantikan dan tentunya berpartisipasi semampu kita untuk mendukung dunia pendidikan Indonesia dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik lagi dengan cara dan kemampuan kita masing-masing. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain.

(Ghiboo)

SHARE