Sehatnya Berteman Dengan Khayalan

0
26

.Melatih kreatifitas tidak hanya dapat dilakukan dengan sebuah aktivitas tertentu, namun bisa juga dilakukan dengan berteman. Bukan sembarang teman, melainkan teman khayalan.

Saat kecil, mungkin Anda sering melakukan dialog dan bermain-main seolah ada seseorang yang menemani Anda, meski kenyataannya Anda seorang diri. Seperti itulah yang kira-kira juga terjadi pada si kecil saat ini. Bagi Anda, tingkah laku anak tersebut sangat konyol, tidak masuk akal, dan gila, mungkin. Namun tidak baginya. Anak cenderung menganggap ‘teman khayalannya’ tersebut benar ada, hidup, dan nyata, hanya saja, tidak semua orang bisa melihatnya.

Menciptakan teman khayalan di dalam pikirannya, bukan lantas menandakan bahwa si kecil kesepian. Tidak. Perilaku ini justru dapat diidentifikasikan sebagai tingkah laku seorang anak yang kreatif, imajinatif, dan peka karena dapat merespon menggunakan emosi dengan baik. Keuntungan ‘bermain’ dengan teman khayalan tentu saja untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi si kecil, melatih cara bergaul, dan mangasah kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungan sosialnya, seperti kepedulian yang diterapkannya pada sang teman khayalan.

Meski demikian, Anda tetap harus menjadi orang yang ‘waras’ di sini. Jangan langsung mengatakan bahwa teman khayalannya itu tidak benar-benar ada, namun lakukan pendekatan yang menyatakan dan mengisyaratkan bahwa ‘temannya’ tersebut sebenarnya hanya ciptaan daya pikir si kecil saja. Sadarkan anak melalui kalimat-kalimat yang terselip dalam pembicaraan Anda berdua.

Contoh, ketika ditanya mengenai suatu hal, anak tidak bisa menjawab dan berkata, “Aku akan tanya pendapat Ucil (nama sang teman khayalan).” Melihat ini, Anda tidak boleh marah. Katakan padanya, bahwa Anda tidak membutuhkan pendapat Ucil. Anda membutuhkan pendapat si kecil.

Begitu pula pada saat diminta mengerjakan sesuatu, buah hati menolak dengan alasan, “Aku enggak mau tidur. Ucil bilang, aku tidak harus tidur sekarang, kok.” Kalimat ini bisa kembali Anda patahkan dengan baik dengan berujar, “Itu, kan, pendapat Ucil. Mama ini ibu kamu dan mama tahu ini sudah waktunya tidur. Ucil boleh ikut tidur denganmu kalau ia mau.”

Tidak perlu resah dengan keberadaan teman khayalan. Pertemanan ini hanya akan berlangsung selama beberapa bulan hingga tiga tahun. Bila hal tersebut berlanjut lebih lama dan lebih mengkhawatirkan dari biasanya, maka akan lebih baik bila Anda segera memeriksakan si kecil pada ahlinya.

(Berbagai sumber)

SHARE