Musik Berisi dari RaflyWaSAJA

0
53

.Gitar yang dipetik oleh Agam Hamzah tengah asik “berdialog” dengan alunan suling Saat Syah. Dari balik panggung kemudian muncul Adi Darmawan dengan membawa sesuatu dalam plastik putih. Perlahan Adi mendekati bass yang tergeletak di lantai panggung kemudian mengeluarkan…pisau. Pisau itu kemudian digesek-gesek ke senar bass. Tidak hanya pisau, masih ada seng, paku, palu, sebuah papan, serta alat masak. Di antara alunan gitar dan suling, Adi mengisi dengan suara-suara yang dihasilkan oleh paku-paku yang menghantam seng. Ketukan palu yang menghantam paku ke papan juga ikut menghiasi. Suara perkusi ditabuh oleh Jalu G. Pratidina menambah “kegaduhan” di panggung. Seperti lazimnya musik jazz, improvisasi pun terjadi di antara mereka. Agam, Adi, Saat dan Jalu bergantian menunjukan kehandalan mereka berdialog dengan alat musiknya. Berkat pertemanan yang sudah terjalin cukup lama, semua mengalir dengan indah.     

Masih ada Rafly yang memukau dengan karakter vokalnya yang membius. Tidak hanya menyanyi, Rafly cukup atraktif untuk mengajak penonton terlibat. Baik hanya untuk mengajak bertepuk tangan serta bernyanyi. Rafli sempat menari kecil dan bergabung sejenak dengan Jalu menabuh perkusi. Sesekali juga menjelaskan makna lagu-lagu yang dinyanyikan.

Rafly, Agam, Jalu, Saat, dan Adi tergabung dalam sebuah grup musik dengan nama RaflyWaSAJA. Grup ini terbentuk pada awal juli 2010 dimana dalam kurun waktu tiga bulan sudah menghasilkan sepuluh lagu. “Perahu”, “Shalawat”, “Kalimah Taibah”, “Entah/Hom”, dan “Haro Hara Kiamat” adalah beberapa lagu yang ditampilkan di konser RafliWaSAJA di Teater Salihara, Jumat, 4 Februari kemarin. “Seperti free jazz” kata Agam ketika ditanya mengenai improvisasi yang melibatkan benda sehari-hari tersebut. Sedangkan Saat lebih menyerahkan kepada pendengar untuk mendefinisikan musik yang mereka mainkan. Hal ini seolah menegaskan pernyataan seorang pianis, Enos Payne, yang mengatakan “Jazz is a feeling, more than anything else. It isn’t music, it’s language“.

Lagu-lagu karya mereka tidak hanya sekedar lagu. Ada pesan-pesan yang mereka sampaikan. “Musik harus ada makna”,terang Rafly ketika ditemui usai pentas. Meski pun ada beberapa lagu yang menggunakan bahasa aceh, tapi mengandung pesan dan cerita untuk disampaikan ke semua orang. Haro Hara Kiamat dengan musik dinamis seolah menggambarkan peristiwa kiamat. Ada puji-pujian kepada Tuhan di lagu Shalawat dan Kalimah Taibah. Bahkan bercerita mengenai konflik Aceh di lagu Hom/Entah. Untuk lagu Perahu, Rafly menggunakan sebuah syair milik Syeikh Hamzah al-Fansuri. Beliau adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17.  Tema religi dan balada, dengan corak musik jazz etnik (Aceh-Melayu) yang diusung RaflyWaSAJA, tidak menjadi halangan bagi sekitar 140 penonton untuk menikmati musik yang ditampilkan.

SHARE