Penantian Panjang yang Terbayar Lunas Oleh Deftones

0
66

.Penantian panjang selama belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun akhirnya terbayar dengan sempurna di Tennis Indoor semalam, kala Deftones menggebrak Jakarta. Penampilan mereka tak main-main, memukau dan memastikan posisi mereka sebagai salah satu band yang dianggap influence besar untuk genre rap metal, hip metal, rock alternative, metal core bahkan trip hop.

Deftones, band yang terbentuk sejak tahun 1988 di Sacramento, California ini telah menangguk kesuksesan pada dekade 90-an, terutama sejak albumnya ‘Adrenaline’ meledak. Musik yang dibawakan Deftones memang berbeda dibanding band metal lainnya, nada-nada yang muncul kerap menyayat hati, atau kalau saya boleh meminjam istilah kini yakni ‘galau’. Dari delapan album yang sudah dihasilkan, hitsnya banyak dibawakan di penampilan mereka semalam, suasanapun ‘pecah’.

Berjejal mengantri sejak sore hari, penonton yang berjumlah kira-kira 2500 orang sempat dihibur oleh 7 Kurcaci, band yang sudah lama tak terdengar namanya. Cukup bisa memanaskan adrenalin untuk menyambut Deftones setelahnya. Pukul 20.15, penantian akhirnya terbayarkan. Melalui pembukaan ruangan yang tiba-tiba gelap, Deftones seketika muncul di atas panggung. Birthmark jadi lagu pertama yang menyebabkan ruangan seakan menggema, penuh dengan koor panjang bersama Chino Moreno sang vokalis. Bisa dipastikan 90% penonton yang hadir adalah fans fanatik Deftones. Perasaan yang jujur dari fans Deftones menguar dengan jelas, nyata dan bukan sekedar euforia.

Deftones pantas menerimanya. Energi Deftones memang tidak main-main. Vokal dan gitarnya meraung dengan mantap. Bass, turntable dan drum membalut dengan tegas dan sangar. Musik yang dihasilkan mereka adalah bukti kebesaran Deftones di rock industry. Satu yang pasti, musik mereka punya sikap, dan itu terus bertahan. Sound yang heavy jadi andalan Deftones semalam, bahkan akustik tennis indoor yang kadang tak bersahabat tak jadi kendala.

Crowd makin pecah kala lagu-lagu berikutnya dibawakan. Be Quite and Drive, Knife Party, Minerva, Change adalah deretan lagu yang seolah membuat impian fans fanatik Deftones jadi nyata seperti barisan best of the best dari mereka. Chino Moreno sebagai frontman Deftones layak diberi penghargaan karena membawakan partnya dengan sangat baik. Staminanya prima, menghasilkan kualitas vokal yang stabil selama membawakan duapuluhan lagu. Chino sempat bercanda tentang satu merk bir Indonesia,”Binteeng is pretty good!”. We have to agree sir, the reason is because you said that.

Meskipun bermain tanpa bassist Chi Cheng yang sedang dirawat karena kecelakaan, namun bassist pengganti Sergio Vega bermain tanpa ampun. Gitaris Stephen Carpenter dengan gitarnya yang mencuri perhatian, Frank Delgado yang bertanggung jawab atas turntable dan gebukan drum Abe Cunningham membuat penampilan makin lengkap dan bulat.

Sound yang maksimal dan tata cahaya yang menakjubkan makin terasa sejak lagu keempat mulai dibawakan. Untuk ini kita harus memberikan acungan jempol kepada Adrie Subono dan Java Musikindo yang berhasil menyajikan sound yang tebal dan sangat baik semalam.

Deftones sempat menghilang di balik panggung sebelum akhirnya muncul kembali untuk encore. Tanpa basa basi mereka kembali dan membawakan Root dan 7 Words sebagai lagu penutup. Disini Chino memberikan kejutan dengan meringsek mendekati penonton di depan panggung. Dia bernyanyi di atas pagar pembatas dengan disangga puluhan tangan penggemarnya. Kegembiraan penonton tak terbendung, ini adalah pesta dimana Deftones menjadi alasannya.

In the end, konser istimewa ini harus berakhir. Chino Moreno mengucapkan terimakasih untuk Jakarta, dan menghilang di balik panggung meninggalkan sejuta kesan yang nampaknya tak mudah dilupakan dalam beberapa minggu kedepan. Penonton terus bertepuk tangan hingga akhirnya Deftones benar benar menghilang. Thanks for a great concert, Chino!

(Ghiboo)

SHARE