Maaf, Terima Kasih, Tolong

0
28

.Bertumbuh besar tentu bukan sekedar bertambah umur, namun juga kedewasaan yang melibatkan perkembangan watak dan kepribadian ke arah yang lebih baik. Seperti itulah yang selalu diharapkan orangtua terhadap anak-anaknya kelak.

Kata ‘maaf’, ‘terima kasih’, dan ‘tolong’ kerap lupa diucapkan kepada orang lain. Sepele, namun efeknya besar bagi mereka yang mendapatkan dan tidak menerima kata-kata tersebut, di saat mereka sangat pantas dan berhak memperolehnya. Untuk itulah anak juga harus mengerti bahwa ketiga kata tersebut sangat penting agar diucapkan pada orang lain.

Maaf
Bukan sekedar mengucapkannya. Si kecil juga harus tahu makna terdalam dari kata ‘maaf’, yakni mengakui kesalahannya dan tidak akan melakukannya lagi di kemudian hari. Kata ini bisa juga berarti ‘memaafkan’. Dengan memaafkan, berarti buah hati harus siap pula melupakan dan merelakan semua rasa sakit hatinya terhadap orang yang pernah berbuat salah dan meminta maaf padanya.

Terima kasih
Apa susahnya berterima kasih? Tidak berhakkah suster si kecil atau asisten rumah tangga menerima rasa terima kasih dari anak Anda, karena telah membantu menyiapkan makanan di meja setiap hari untuk si kecil? Jangan sampai membuat anak memiliki pola pikir, bahwa dengan ‘membayar’ semua jasa mereka, buah hati pun tidak perlu lagi berterima kasih. Anggap saja mengucapkan hal itu sebagai imbalan atas pertolongan orang lain. Bila tidak bisa turut berbuat baik, berterimakasih sudah akan sangat ‘mengembalikan’ jasa-jasa tersebut. Tidak berlebihan, kok, bahkan di banyak sekolah dasar masih ada ‘ritual’ mengucapkan secara serempak, “Terima kasih, Pak/Bu!” pada bapak atau ibu guru di kelas sesaat sebelum pulang sekolah.

Tolong
Selain maaf dan terima kasih, biasakan si kecil untuk mengucapkan kata ‘tolong’ pada orang lain sebelum meminta orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Caranya, jangan pernah berkata pada anak, “Adik, sana suruh si mbak ke pasar beli permen cemilan kesukaanmu.” Ganti kalimat itu dengan mengucapkan, “Adik minta tolong si mbak sana, supaya ke pasar beli permen cemilan kesukaanmu.” Dengan ini, buah hati akan menerima ‘fakta’, bahwa dia bukan memerintahkan seseorang, melainkan meminta tolong. Lebih halus dan sopan, bukan?

Untuk mengajarkan anak mengucapkan kata-kata ‘mulia’ di atas, Anda harus mempraktekkan dan mencontohkan pada anak dalam mengucapkan kata-kata itu setiap hari dengan benar.

(Berbagai sumber)

SHARE