Anak Menutup Diri karena Putus Cinta!

0
43

.Siapa orangtua yang tidak senang, ketika anaknya yang baru duduk di bangku sekolah menengah akhirnya putus dengan pacarnya? Diam-diam Anda akan merasa lega dan bersyukur. Kekhawatiran akan gaya berpacaran yang melewati batas dan mengganggu konsentrasi belajar pun kini telah hilang.

Anda senang, bukan berarti anak merasakan hal yang sama. Sebaliknya, ia akan berada dalam masa-masa keterpurukan untuk sementara. Cinta monyet atau cinta pertamanya akan sangat membekas di hati dan sulit untuk dilupakan. Buah hati menjadi murung, mengurung diri di kamar, tidak mau bersosialisasi, tidak mau makan, tidak mau belajar, dan masih banyak lagi kemunduran lainnya. Wah, gawat!

Segera ambil tindakan. Dekati dirinya. Bila ia diam saja, mungkin ia malu menceritakan kisah cintanya yang telah kandas pada orangtuanya. Pancing saja dengan pertanyaan, “Erik apa kabar? Kok, enggak pernah main ke rumah lagi?” Keadaan mungkin masih akan terasang canggung. Segera saja berikan nasihat, bahwa ‘pertemanan’ akan selalu datang dan pergi, namun keluarga akan selalu ada untuknya.

Tidak apa bila Erik – misal – tidak berteman dekat lagi dengannya. Sadarkan dirinya, bahwa hal tersebut harus dilihat sebagai suatu hal yang positif dan menguntungkan. Dia bisa mencari teman baru lagi. ‘Teman dekat’ yang bisa mengajak dan diajaknya untuk belajar bersama. Tak hanya bermain, namun juga menambah ilmu dan wawasan.

Katakan padanya, bahwa Erik menjauh darinya bukan karena membencinya, namun karena Erik belum bisa melihat kelebihan-kelebihan sang buah hati. Anak yang patah hati perlu diberikan harapan serta pujian agar kembali percaya diri dan bersemangat dalam menghadapi hari-harinya.

Bila perlu, ceritakan pula pengalaman Anda dulu dengan para ‘teman dekat’ Anda sewaktu masih bersekolah. Menceritakan hal tersebut akan memposisikan diri Anda bukan lagi sebagai orangtua, namun sebagai teman. Berbicara tentang ‘pujaan hati’ akan lebih nyaman bila dilakukan dengan teman, bukan dengan orangtua. Bedanya, di sini Anda berperan ganda. Terbuka sebagai teman, namun tetap bijaksana dan tegas sebagai orangtua.

Langkah lain yang bisa Anda ambil tentu saja mengajak dan sedikit memaksanya untuk pergi berjalan-jalan bersama Anda dan keluarga. Pergi ke luar kota dan ke alam-alam yang bersih nan indah akan membantu membersihkan dan menyegarkan kembali hati serta pikirannya dari sang mantan kekasih. Kehangatan di tengah-tengah keluarga juga akan membuatnya merasa tak lagi sendirian dan kesepian, hanya karena ‘ditinggalkan’ seseorang.

Jangan biarkan kisah asmara buah hati berlarut-larut dan menghancurkan prestasi akademisnya di sekolah. Temani anak melewati masa putus cintanya dan tegarkan hatinya!

(Berbagai sumber)

SHARE