Menyimak Karpet Bandara

0
50

.Ketika sedang berada di bandara, apa yang Anda perhatikan? Rombongan yang setengah berlari, rak buku dan majalah yang mencuri perhatian, tas dan koper yang bersliweran, atau justru tempat yang sebentar lagi akan menjadi persinggahan? Well, apapun itu, pada kenyataannya ketika kita sedang berada di bandara, kita justru tidak memperhatikan lekuk, fitur, bentuk, dan pesonanya. Dan apalah hal yang paling sering luput dari perhatian kita selain karpet bandara?

Sebagai salah satu medium-desain-visual dalam ruang terluas di dunia, karpet bandara biasanya berbagi karakteristik yang sama, terutama dalam hal sensitifitas warna dan kepandaian mereka dalam menyembunyikan noda.

Karpet dan dunia penerbangan telah menjalin kisah dan romansa sejak ribuan tahun yang lalu, setidaknya kalau berdasarkan dari catatan dalam buku. Dalam kisah 1001 Malam, Aladin mendapat selembar karpet yang bisa membawanya terbang bersama sang putri impian, menyusuri istana, kota, dan padang pasir Arabia di bawah temaram cahaya rembulan. Dalam kisah yang lainnya lagi, Raja Sulaiman dikabarkan juga memiliki sebuah karpet terbang dari sutra berwarna hijau dengan rumbai berwarna emas yang dapat terbang secepat kilat. Berkat karpet terbangnya, Raja Sulaiman dapat menyantap hidangan sarapan di Damaskus dan makan malam di Medinah yang berjarak 1,055 km atau sekitar 1.5 kali jarak Jakarta-Surabaya.

Dalam kehidupan nyata, karpet bandara memiliki peran yang kemungkinan besar tak kalah pentingnya dengan seorang duta wisata. Karpet bandara adalah selembar tim penyambut yang corak, warna dan kelembutannya seperti sebuah ucapan selamat datang yang mewakili sebuah negara dalam menyambut para tamunya. Meskipun kalau dipikir-pikir posisinya lumayan penting, namun masa depannya sendiri seringkali tidak terjamin, terutama akibat kecenderungan para pengelola bandara yang menghilangkan unsur karpet dari sana.

Lalu, apa yang menyebabkan karpet hilang dari bandara? Ketakutan adalah jawabannya. Semenjak terjadinya tragedi 9/11, bandara di Amerika dan seluruh dunia dicekam horor dan teror hingga akhirnya standar keamanan bandara ditingkatkan sampai level yang luar biasa. Salah satu akibatnya adalah terganggunya kegiatan pemasangan dan perawatan karpet bandara karena terbatasnya waktu yang dimiliki para pekerja yang diikuti dengan lonjakan biaya dan upah lembur yang menimpa para pengusaha. Jalan tengah untuk menyelesaikan masalah adalah dengan menggulung karpet bandara dan menggantikannya dengan kilau lapisan marmer, seperti yang baru saja dilakukan oleh Terminal 3 Beijing Capital International Airport.

Kini selagi Anda memiliki waktu untuk menikmatinya, perhatikan kanvas seni yang menjadi pijakan kaki Anda di bandara. Ucapkan halo ketika Anda pertama berjumpa, dan ucapkan selamat tinggal di akhir pertemuan. Siapa tahu di kedatangan Anda berikutnya, si karpet sudah tidak lagi bertugas menyambut Anda di bandara.

(Berbagai sumber)

SHARE