Kedekatan Dengan Calon Mertua Buat Keadaan Rumit

0
39

.Ketika hubungan tidak berjalan lancar, satu kata akan terus melintas di kepala, ‘putus’. Namun tidak semudah itu. Anda dan pasangan telah bersama sekian lama. Kebersamaan tersebut akhirnya ‘mempersilakan’ masing-masing keluarga ikut terlibat di dalamnya.

Pada saat hubungan sedang tidak dalam keadaan baik, Anda pun menjauh darinya. Orangtua kekasih menjadi bertanya-tanya, mengapa Anda sudah lama tidak pernah berkunjung dan main lagi ke rumah itu? Intervensi pun mulai terjadi. Si tante (ibu sang pacar) sering mengirimkan pesan-pesan pendek melalui SMS dan ‘mengganggu’ Anda dengan telepon. “Kamu apa kabar? Kok enggak pernah lagi main ke rumah om dan tante? Ribut, ya sama Cesza? Ada apa?”

Pernikahan belum dilangsungkan, namun orangtua sudah mulai ikut campur dalam hubungan Anda berdua. Selalu ingin tahu, ‘memaksakan’ nasehat yang belum tentu sesuai dengan keinginan hati Anda berdua dengan tujuan mendamaikan, dan masih banyak lagi aksi dilakukan. Kepala seperti mau pecah menahan rasa pusing memikirkan hubungan dengan kekasih yang sedang bermasalah dan menahan emosi kesal, karena ‘dipaksa’ membahas sesuatu yang sebenarnya ingin disimpan untuk diri sendiri.

Sebelum Anda terlibat dalam ‘kekacauan’ di atas, ada baiknya mempertimbangkan lebih jauh sebelum menginjakkan kaki ke rumah pasangan pada awal-awal pacaran. Bahkan, hubungan yang berlangsung cukup lama dan ‘mulus’ tidak harus dibuat ‘keruh’ oleh kehadiran orangtua, bukan?

Anda bisa, kok, tetap menjaga privacy hubungan. Buatlah perjanjian dengan pasangan. Katakan Anda baru akan mau berkunjung ke rumahnya dan mengenal keluarganya secara langsung, bila Anda berdua sudah memutuskan akan menikah dalam waktu dekat. Anda pun tidak akan perlu merasa sungkan dan tidak enak Anda kepada orangtuanya – hanya karena sudah dianggap sebagai anak sendiri – bila ternyata memutuskan berpisah dengan anak mereka pada saat usia hubungan masih seumur jagung.

Usahakan menjalin kedekatan dengan keluarganya bila hubungan sudah ‘pasti’. Keep it simple until the wedding bell ringing!

(Berbagai sumber)

SHARE