Belajar dari Pengalaman Cinta Pertama Adolf Hitler

0
146

.Belajarlah dari pengalaman orang lain. Tidak perlu mengalami kisah cinta yang menydihkan bila Anda bisa menghindarinya hanya dengan bercermin dari kehidupan cinta orang lain. Well, then, learn from Adolf Hitler!

Penguasa Nazi yang saat itu remaja bertempat tinggal di Austria, kota Linz dan Vienna. Menurut orang yang menuliskan biografi Hitler, cerita kehidupan tokoh sakit jiwa tersebut didapatkan dari memoir teman baik Hitler pada periode 1904-1908, yakni August Kubizek.

Hitler yang saat itu berusia 16 tahun mengalami cinta pertama terhadap seorang gadis – yang diyaknini Hitler dan Kubizek saat itu – Yahudi bernama Stefanie Isak (17). Hitler sangat mencintai dan terobsesi dengan perempuan langsing dan pirang ini. Saat melihat Isak di Landstrasse, Linz, Hitler dengan tegas mengungkapkan perasaannya pada temannya, “Apa pendapatmu tentang gadis itu? Kamu harus tahu, aku jatuh cinta padanya.”

Sayang rasa sukanya tersebut tidak diwujudkan secara nyata oleh Hitler. Siapa sangka? Seorang pemimpian gagah berani di mata dunia mempunyai nyali ciut di depan seorang gadis yang disukainya? Ironis. Hitler memendam perasaannya selama empat tahun. Ia tidak berani menyatakan perasaannya pada Isak. Bahkan melangkahkan kaki ke rumahnya untuk berbasa-basi dengan ibu Isak dan meminta izin mengajak pergi anak gadisnya pun tak berani dilakukan Hitler.

Hitler takut bila ia berbicara, ia justru akan menghancurkan keadaannya dengan Isak yang telah sempurna. Hingga berumur 20 tahun, Hitler sukses menjadi penguntit dan penggemar rahasia Isak. Bakat gilanya pun sudah muncul sejak itu. Pada Kubizek dia mengungkapkan impiannya untuk menculik Isak atau untuk mengajak perempuan itu bunuh diri bersamanya di sebuah jembatan. Entah apa yang ada di kepalanya. Hitler bahkan menyatakan dengan rasa percaya diri, bahwa Isak pun mencintainya hanya dengan tersenyum manis padanya saat berpapasan dengannya. Hitler beranggapan bahwa komunikasi verbal tidaklah perlu. Hanya dengan tatapan, seseorang dapat mengetahui isi hati dan pikiran orang lain. Itulah yang terjadi pada Isak, menurutnya. Isak menangkap sinyal rasa suka Hitler dan membalas cintanya dengan tersenyum.

Kegagalan cinta pertamanya ini kerap disebut-sebut orang sebagai penyebab rasa kebenciannya pada orang Yahudi. Kenyataannya, Isak bukanlah orang Yahudi. Namanya hanya mirip nama keluarga Yahudi. Mungkin karena Hitler mengira dia Yahudi, maka dia pun membantai banyak orang Yahudi? Bisa jadi.

Anda tidak perlu berakhir mengenaskan seperti Hitler. Jangan mengalami penyesalan sepertinya. Bila Anda menyukai seseorang, katakan padanya. Berbalas atau tidak cinta itu, bukanlah hal yang terpenting. Membuat seseorang mengetahui perasaan kita padanya, itulah tujuan utamanya.

Dengan memberanikan diri menyatakan dan membuka diri terhadap seseorang, Anda menghapuskan kemungkinan menjadi gila dan penasaran seumur hidup. Bila ditolak, ya tidak apa. Anda bisa cari lagi yang lain. Bila dia menerima pernyataan cinta Anda, Anda akan sangat bersyukur telah mengungkapkan perasaan padanya tanpa buang waktu.

Tidak ada yang memaksa Anda untuk meraih keberanian. Namun, pikirkan, apakah Anda bisa hidup tenang dengan pertanyaan mematikan seputar rasa suka Anda pada seseorang? What if..? Apa yang terjadi jika aku berani memperkenalkan diri padanya? Apa yang terjadi jika saat itu aku berani mengajaknya berkencan? Pertanyaan ini akan berubah menjadi penyesalan dengan kalimat ‘kalau saja’. Kalau saja aku tidak sepengengecut itu, kalau saja aku bisa memutar balik waktu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan masih banyak lagi.

Pikirkan yang terburuk, lebih baik ditolak daripada penasaran seumur hidup. Tidak ada yang lebih nyaman dan menenangkan dari suatu kejelasan.

(Berbagai sumber)

SHARE