Anak Katastropis Butuh Sudut Pandang Positif

0
149

.Seorang anak dapat terlahir dengan jiwa optimis berlebih hingga menjadi congkak atau pesimis hingga tidak berani melakukan apapun. Anak yang pesimis selalu memikirkan skenario dan kemungkinan terburuk akan tindakan yang hendak dilakukannya. Anak katastropis, misalnya.

Bila anak lain tidak mau ikut pelajaran olahraga karena takut tidak bisa menandingi kecepatan berlari teman-temannya, maka anak katastropis menghindari kelas olahraga karena takut terjatuh dan patah kakinya akibat berlari. Dengan begitu, ia harus ke rumah sakit dan tidak bisa ke sekolah, sehingga akan jauh dari teman-temannya.

Pada kasus lain, dia merasa dirinya tidak hanya akan mendapat muka masam gurunya ketika dia terlambat datang ke sekolah. Buah hati Anda ini berpikir bahwa sang guru akan menghukumnya di sebuah gudang sekolah dan teman-temannya akan mencemooh atau mengejeknya karena dia terlambat ke sekolah.

Anak katastropis cenderung membiarkan dan menutupi dirinya dengan perasaan-perasaan negatif. Hidupnya terasa sangat gelap dan berat. Seperti telah diungkapkan di atas, ini tidak bagus. Anak akan terhambat. Dia tidak akan berani melakukan kemajuan karena selalu memikirkan hal terburuk yang dapat terjadi dalam suatu hal.

Sebagai orangtua, Anda harus dapat memberikan banyak aura positif di sekitarnya untuk mengimbangi kenegatifan tersebut. Berikan dia sudut pandang lain dalam memandang suatu hal, yakni sudut pandang positif. Bila dia berlebihan mengemukakan kemungkinan negatif yang akan terjadi, Anda harus bisa mengungkapkan dan menggambarkan kemungkinan paling positif dan menggiurkan yang dapat diperolehnya dalam suatu hal. Deskripsikan hal tersebut sehingga terasa hidup dan nyata dalam imajinasi dan kepala si kecil. Dengan demikian, ia akan merasa bahwa perkataan Anda jauh lebih masuk akal dan jauh lebih bisa terwujud nyata dibanding kemungkinan-kemungkinan negatif yang dipikirkannya.

Katakan juga, meski terjadi hal buruk pada manusia, kebaikan juga akan terus bergulir datang silih berganti menggantikan keburukan tersebut. Tidak selamanya orang akan mengalami hal buruk. Dia harus menyadari dan mengerti, bahwa dirinya juga pasti menerima banyak hal baik yang dapat mengimbangi kesialan dan kekacauan hidupnya. Keseimbangan inilah yang akan membuat hidupnya baik-baik saja. Mendengar penjelasan tersebut dia tidak akan lagi kerap mengkhawatirkan hal-hal kecil dengan imajinasi negatif yang berlebihan.

Be positive thinking around your kids!

(Berbagai sumber)

SHARE