Menikah Akibat Tekanan Sosial Berdampak Parah

0
170

.Tergesa-gesa menikah tidak akan maksimal hasilnya. Entah apa yang membuat masyarakat timur membatasi kebebasan seseorang untuk menikah kapanpun dia mau dan hanya boleh menikah paling lambat pada umur-umur tertentu.

Pertimbangan orangtua tentu adalah kekhawatiran kesulitan Anda dan pasangan untuk mencoba memiliki anak. Usia yang semakin tua akan membuat kesempatan seseorang semakin kecil mempunyai keturunan, karena dia akan semakin jauh dari masa-masa produktif subur.

Hal kedua adalah sulitnya berinteraksi dengan anak yang akan lahir nanti. Perbedaan usia yang terlalu jauh antara anak dan orangtuanya akan membuat hubungan mereka tidak bisa terlalu dekat seperti sahabat. Anda tidak akan mempunyai tenaga dan energi yang cukup banyak untuk menemaninya bermain dan bersosialisasi, di samping itu generasi Anda yang jauh melampaui anak semakin menunjukkan ketidakcocokkan dengan perkembangan zaman buah hati Anda nanti. Tidak menikah muda akan membuat Anda tidak lagi mampu memahami pola pikir anak.

Selain itu, pandangan dan pola pikir masyarakat sepertinya menjadi hal yang harus paling ‘disalahkan’ akibat ketidaknyamanan Anda dipojokkan untuk segera menikah hanya karena dinyatakan sudah cukup umur. Dewasa ini, perempuan diharapkan sudah menikah selambat-lambatnya sebelum umur 30. Melewati batasan usia tersebut, banyak orang beranggapan bahwa perempuan tersebut tidak akan pernah menikah, karena telah melewati masa ranumnya. Sayangnya orangtua kita terjebak dan terbawa dengan persepsi masyarakat timur yang tidak masuk akal ini.

Bila terlalu mengikuti ‘budaya’ masyarakat konvensional, akankah generasi selanjutnya (anak-anak Anda) nanti akan mulai dinyatakan sudah layak menikah dan dipaksa menikah, segera setelah mengalami masa akil balik, (menstruasi pada perempuan) yang banyak dialami sejak usia 11-12 tahun? Hal ini benar-benar terjadi di Arab Saudi dan kematian perempuan muda kerap terjadi akibat hal ini. Penetrasi yang dilakukan pada malam pertama menyebabkan pendarahan hebat dari vagina yang masih sangat kecil dan belum sempurna.

Apakah kita juga akan menjadi bodoh seperti negara lain hanya karena mengikuti pola pikir kuno masyarakat mengenai pernikahan? Terlepas dari masalah agama, tujuan pernikahan tentu lebih luas dan dalam dari sekedar melahirkan keturunan. Manusia bukan mesin yang hanya bertugas ‘membuat’ dan melahirkan bayi tanpa perasaan. Seharusnya kita menikah dengan tujuan akhir membentuk keluarga bahagia. Anda dan pasangan saling mencintai. Bila hadir seorang bayi di tengah keluarga, maka Anda berdua akan mendidiknya dengan memberikan pendidikan, kesehatan, ekonomi yang selayaknya dalam lingkup cinta kasih.

Pernikahan yang terburu-buru hanya karena tekanan sosial akan membuat Anda memilih pasangan bagai menyortir baju. Dalam hitungan hari, Anda sudah memiliki banyak kekasih. Setiap hari melihat foto mereka masing-masing dan menilai, mana yang paling menarik dari segi fisik. Kemudian Anda memutar lagi ingatan tentang karakter mereka satu per satu dari beberapa kencan yang telah Anda lakukan bersama mereka, secara terpisah. Minggu depan, Anda sudah harus menentukan pilihan dan menikahinya. Sayang, dari semua kandidat, tidak ada yang terbaik di hati Anda. Second best pun diambil, dengan alasan konyol ‘daripada tidak ada’. Bisa dipastikan kehidupan rumah tangga Anda kelak tidak akan bahagia. Anda tidak akan pernah merasa puas dan selalu merasa kosong, karena menikahi orang yang tidak Anda cintai. Tidak ada pilihan lain, pikir Anda.

Siapa bilang tidak ada pilihan? Setiap manusia memiliki pilihan untuk menikah dengan siapapun dan kapanpun dia mau. Budaya belum tentu benar karena budaya merupakan pemikiran bersama sekelompok manusia dalam periode tertentu. Bila Anda tidak suka dengan budaya menikah yang dipaksakan, then don’t do it. Antar berbagai budaya berbeda, tidak ada benar ataupun salah, hanya perbedaan pola pikir. Dengan demikian, masyarakat harus mulai menghargai pandangan Anda untuk tidak lagi mau dipaksa menikah, hanya karena ‘sudah cukup umur’.

(Berbagai sumber)
 

SHARE