Ngapain Bikin Musik yang Jadi Sampah?

0
46

.Setelah tiga tahun tidak mengeluarkan album, september tahun ini Efek Rumah Kaca (ERK), bila sesuai rencana, akan merilis album ketiga. Terakhir ERK merilis album Kamar Gelap pada tahun 2008 yang melejitkan lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika”.

Ditemui ketika ERK akan mengisi acara di sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat, Ghiboo berbincang seputar album ketiga. “Ya, sudah 40 persen proses rekamannya,” jelas Akbar Bagus Sudibyo seraya menambahkan ada kendalanya pada penulisan lirik. Cholil Mahmud yang bertanggung jawab pada penulisan lirik pun memberikan alasan bahwa dia memang tidak tahu mau menulis lirik tentang apa. Disinggung tentang lagu-lagu terdahulu yang menyerempet ke kritik sosial, Cholil mengatakan,”saking banyaknya masalah yang ada (di Indonesia) jadi bingung mau memilihnya”. Mereka pun akhirnya memilih untuk mengalir saja kemana lagunya akan membawa. Begitu juga dalam hal penggunaan kalimat kiasan dalam lagu.

Kendala lainnya adalah sakitnya pemain bass ERK, Adrian Yunan Faisal. ERK menyesuaikan jadwal rekaman dengan kondisi Adrian. Diakui oleh Cholil bahwa Adrian mempunyai semangat yang sangat besar untuk mengerjakan album. Namun mereka berusaha untuk mempertimbangkan kesehatan Adrian agar tidak mengalami penurunan kondisi kesehatan lagi.

Album ketiga ini menurut Akbar adalah mix album pertama dan kedua. “(Di album ketiga) ada yang bentuknya kita main lebih ke disko”, terang Akbar sambil menambahkan bahwa hal tersebut disesuaikan tema lagu lebih cocok dibawa kemana. Di album baru nanti, hanya akan ada 6 lagu tapi dengan durasi yang panjang. “Bila ditelaah”, jelas Akbar lagi,”dari satu lagu itu terdapat beberapa komposisi lagu”. Dengan demikian, diperkirakan sebuah lagu akan berdurasi 10 menit.

Salah satu lagu yang akan masuk di album ini berjudul “Hilang”. Lagu ini adalah sebuah lagu lama yang sempat masuk dalam album kompilasi Amnesty International yang dirilis tahun 2010. Dalam kompilasi tersebut dilibatkan juga antara lain Ryuichi Sakamoto, The Vines, Tahiti 80, I?m From Barcelona, Vive La F?te, Patrick Wolf, Van She, DMX Krew, Starfucker, Dandy Warhols, serta Voxtrot. Sedangkan dari Indonesia, selain ERK, ada juga Mocca dan White Shoes & the Couples Company.

Dengan konsep tersebut, Akbar dan Cholil mengakui musik yang mereka ciptakan menjadi rumit. Rumit dalam hal komposisi, karena durasi yang lama tersebut. “Tantangannya adalah bagaimana ketika musik bisa “bernyanyi” ketika vokal tidak mengisi”, jelas Akbar berkaitan dengan tantangan yang dihadapi. Intinya, ERK tidak mau membuat atau mengulang hal yang sama pernah dibuat di album sebelumnya. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keharusan, karena kalau sama saja tidak ada gunanya. “Ngapain bikin musik yang jadi sampah”, ujar Akbar menyindir kondisi musik Indonesia saat ini.

ERK tidak takut bila musik yang mereka hasilkan dinilai “rumit dan berat”. Cholil berpendapat semoga saja hal tersebut bisa jadi strategi marketing untuk menarik perhatian khalayak. “Kalau semua musik ringan jadi banyak (orang akan menjadi bosan) jadi ga didengar”, tambah Cholil. Akankah ini menjadi album masterpiece ERK? Cholil mengatakan bahwa semua album yang pernah dibuat bagi mereka adalah sebuah karya masterpiece.

(Ghiboo)

SHARE