Remaja Tidak Pernah Mau Mendengarkan

0
45

.Anak remaja selalu merasa dirinya sudah besar. Sudah dewasa sehingga tidak merasa perlu lagi untuk diatur-atur dan mendengarkan perkataan orang lain, bahkan orangtuanya sendiri. Bila Anda mengalami hal ini, maka Anda tidak sendirian.

Anak-anak ini cenderung mengabaikan kehadiran Anda dengan bersikap mengesalkan dan tidak sopan. Ia tidak mau mendengarkan perkataan Anda, pura-pura tidak mendengarnya, tidak mau menyapa Anda ataupun orang lain yang ditemuinya. Ia berjalan melewati Anda seakan-akan Anda tidak berada di situ. Semua ini dilakukan karena ia merasa superior dan berkuasa bila bisa ‘mengalahkan’ Anda dengan tidak menuruti dan tidak menganggap Anda ada.

Menghadapi ini Anda harus tetap tenang dan kalem. Tidak perlu terbawa emosi. Mungkin juga anak membutuhkan sesuatu dari Anda. Sementara mencari tahu apa yang diinginkan anak dari Anda, Anda harus tegas kepadanya dan sekaligus santai di dalam hati. Bila ia ingin bermain-main dengan Anda, maka Anda juga bisa ‘mempermainkannya’. Jangan mau kalah dengan anak remaja!

Langkah pertama, hindari konfrontasi langsung dan ceramah berkepanjangan. Hal ini hanya akan menyulut api di antara Anda berdua. Bila ia hanya ingin diam dan apatis selama beberapa saat, maka biarkan saja selama dia berada dalam lingkungan dan aktifitas yang aman serta sehat. Bila keadaan sudah mulai keterlaluan, seperti buah hati yang menolak menyapa tamu yang datang ke rumah. Maka Anda harus mendatangi anak segera setelah para tamu pulang. Katakan padanya, “Ayah atau ibu selalu menghormati dan menghargai teman-temanmu yang datang ke sini. Kalau kamu tidak bisa menghormati tamu-tamu ayah dan ibu, maka kami juga akan melakukan hal yang sama terhadap ‘tamumu’ di rumah ini. Setiap rumah dan keluarga memiliki aturan sendiri-sendiri. Kamu tinggal di sini, kamu patuhi aturan yang berlaku di sini.” Setelah itu, beri mereka hukuman. Sita telepon selulernya, larang dia menonton televisi, atau larang dirinya bermain ke luar rumah. Bila dia mulai berargumentasi, balas kata-katanya dengan, “Jangan pernah bicara seperti itu dengan orangtuamu. Kalau kamu ingin bicara, redakan dulu emosimu baru datang lagi ke ayah atau ibu.” Segeralah meninggalkan dia setelah mengatakan hal tersebut.

Begitu pula bila anak tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga karena marah-marah, anak belum juga mencuci piring padahal waktu sudah menunjukkan pukul 15:00. Biarkan saja dia mau mulai kapan mengerjakannya. Anda hanya perlu memberinya batasan waktu. Bila ia belum selesai mencuci piring pada jam 15:30, maka akan ada hukuman untuknya (seperti pada paragraf sebelumnya). Dengan ini, ia juga akan terdidik untuk belajar time management secara mandiri, karena ia memiliki tenggat waktu.

Hal yang paling mengesalkan adalah ketika buah hati sudah mulai berani menutupi telinganya dengan earphone atau headphone setiap saat untuk mendengarkan lagu di iPod ataupun handphone, di rumah dan di luar. Ia sengaja melakukan ini agar tidak perlu mendengarkan celotehan Anda. Meski ia mengatakan bahwa ia masih bisa mendengar suara Anda ketika Anda memintanya melepaskan benda itu dari telinganya, maka Anda tetap tidak boleh berbicara padanya. Anak yang mendengarkan ceramah orangtua dengan memasang earphone di telinga adalah sangat tidak sopan. Jangan mendidiknya seperti itu. Berbicaralah padanya, hanya ketika ia melepaskan benda-benda tersebut dan dengan total serta hormat mendengarkan dan memahami perkataan Anda.

Tidak perlu berteriak di depan mukanya atau di sebelah telinganya untuk menunjukkan kemarahan Anda. Pasangkan telinga Anda dengan earphone juga. Lakukan ini di depan mukanya agar dia melihat. Kemudian saat dia melihat, tunjukkan secarik kertas dengan tulisan, “Ayah atau ibu juga suka mendengarkan musik dengan earphone.” Melihat ini, anak remaja akan mengerti bahwa ia sudah menyulut ‘perang’ dengan orangtuanya. The game is on.

Ia akan ketakutan. Bagaimanapun juga, ia masih membutuhkan Anda sebagai orangtua. Contoh, ia harus mendatangi dan mengucapkan kalimat untuk meminta jatah uang sakunya kepada Anda. Lakukan ‘pembalasan’ kecil. Abaikan dia seperti dia mengabaikan Anda. Nyanyikan lagu dari musik yang sedang diputar. Bila anak mulai melepas earphone-nya dan berteriak, “Ayah/ Ibu! Aku mau minta uang saku!” Tinggalkan saja dirinya dan terus pasang earphone di telinga Anda. Anak akan merasakan sakitnya diabaikan dengan cara seperti itu. Ia akan merasa tak berdaya dan ‘kalah’. Tak lama dia akan mengatakan, “Ibu/ Ayah, aku minta maaf.” Mendengar ini, segeralah mematikan iPod dan lepas earphone itu. Tatap matanya dan minta dia duduk. Tanya, kenapa dia minta maaf. Tanya juga kenapa Anda harus memaafkannya dan pastikan ia tidak mengulangi perilakunya tersebut.

Buktikan siapa yang berkuasa pada anak remaja Anda tanpa kekerasan dan dia akan mulai mematuhi Anda.

(Berbagai sumber)

SHARE