Jangan Berlagak 'Bossy' Pada Remaja!

0
51

.Mengapa anak Anda yang kini sudah remaja justru tidak mau lagi melakukan apa yang Anda perintahkan? Bukankah seharusnya semakin besar dan dewasa seseorang, maka ia juga akan semakin bisa memahami kesulitan orangtuanya dan akan membantu meringankan pekerjaan di rumah, bahkan tanpa disuruh?

Coba kita selidiki apa permasalahan yang terjadi sebenarnya. Buah hati menolak melakukan apa yang Anda perintahkan, benar? Wajar. Anda melakukan kesalahan fatal di sini. Anda tidak akan pernah bisa ‘memerintah’ seorang remaja.

Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda juga bersedia ‘diperintah’ oleh seseorang dengan cara bossy, selalu meralat pekerjaan Anda, dan mendikte setiap waktu? Tentu tidak. Itupun yang terjadi pada anak Anda. Ia membenci cara ini.

Meski Anda berperan sebagai orangtua, namun bukan berarti Anda boleh bersikap lebih superior kepada buah hati. Keluarga bukanlah lingkungan militer. Memerintah tidak akan memecahkan masalah. Caranya cuma satu, ‘meminta tolong’.

Mendengarnya saja sudah terasa nyaman, bukan? Bayangkan, bila Anda bisa menahan perasaan untuk tidak memerintah, mendikte, dan selalu meralat teman sekantor atau teman Anda demi alasan menghormati dan menghargai, mengapa Anda tidak bisa menerapkan dan merasakan hal yang sama terhadap anak?

Justru karena dia adalah darah daging Anda sendiri, maka Anda harus bisa lebih menghargai dan menghormatinya dibanding dengan orang lain. Bila Anda mengharapkannya menghormati Anda, maka Anda juga harus lebih dulu menghormati dan menghargainya sebagai contoh untuk ditirunya. Mulailah menghormati anak dengan melakukan komunikasi dua arah yang setara dengan baik, bukan perintah satu arah yang turun dari ‘atasan’ kepada ‘bawahan’.

Mintalah ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan suara tenang, kalem, dan pendekatan yang baik. Mintalah sebuah bentuk kerjasama darinya. Ya, tekankan bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.

Contoh, daripada berteriak dari kamar tidur kepada anak yang berada di ruang keluarga dengan mengatakan, “Erik! Cuci piring-piring kotor sekarang!” Akan jauh lebih baik, bila Anda keluar kamar, mendekati anak yang sedang menonton televisi di ruang keluarga dan berujar dengan lembut sambil menatap matanya, “Erik, ibu malam ini akan ada banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan untuk keperluan meeting besok pagi. Tolong cuci semua piring kotor di dapur, ya? Nanti kalau sudah selesai, ibu siapkan makan malam sambil menunggu ayahmu pulang. Tolong bantu ibu, ya?”

Bila Anda tidak ‘meremehkan’ anak, maka dia juga tidak akan meremehkan orangtuanya. Saling menghargai dan menghormati, itu syaratnya. Mulailah memberikan contoh nyata padanya.

(Berbagai sumber)

SHARE