Christopher Rungkat Sang Juara French Open, Easy Going, Fun, Reliable!

0
39

.Kesempatan untuk bertemu atlet tenis yang berhasil mengharumkan nama bangsa ini tentu tidak disia-siakan Ghiboo. Di saat Indonesia penuh dengan kejadian tidak kondusif, berita mengenai kemenangan Christopher di pertandingan Davis Cup membawa angin segar. Di sebuah cafe bilangan Senayan, Ghiboo menemui Christopher Rungkat, sang juara.

Christopher Benjamin Rungkat atau lebih akrab dengan sapaan Christo, kelahiran 14 Januari 1990 ini merupakan anak dari Benny Rungkat dan Elfia Mirlianti (mantan atlet tenis nasional). Di usianya yang masih muda, prestasinya  sangat gemilang. Ia pernah menjuarai Grand Slam Perancis Terbuka (French Open) 2008 dalam nomor Boys’ Doubles dan merupakan petenis Asia kedua yang menjuarai turnamen tersebut.

Kini Christo tergabung dalam timnas untuk persiapan Davis Cup melawan Thailand 8-10 Juli dan SEA Games November 2011. Kiprahnya di Davis Cup kemarin cukup penting, ia menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Iran dalam kualifikasi Grup II, Asia/Oceania, 4-6 Maret 2011.

Kini, Ghiboo akan membagikan perbincangan hangat dengan Christo, sang juara  French Open..

Awal karir dan kecintaannya terhadap tenis

Sejak usia 7 tahun saya sudah mengenal tenis. Saya tumbuh besar dari tenis. Mama (Elfia Mirlianti)
sebagai mantan pemain Asean Games akhir 80-an merupakan orang yang pertama mengenalkan saya pada olahraga ini. Keluarga saya sangat mendukung,
bahkan sampai 200%..hahaha (tertawa).

Setelah lulus dari Ora Et Labora tahun 2008, saya ambil scholarship di  Amerika, jurusan audio engineering. Namun setelah sembilan bulan
kuliah, saya harus balik ke Jakarta untuk bermain di SEA Games, diteruskan Davis Cup
awal 2010 yang lalu. Akhirnya cuti dulu setahun, dan sampai sekarang mau fokus ke
tenis dulu, karena kan kuliah bisa diteruskan kapan saja..ha ha ha..

French Open 2008 yang melekat di hati

Saat akan mengikuti French Open 2008, saya menempati rangking 16 dunia di tenis junior, jadi
kita langsung masuk maindraw tidak ada kualifikasi lagi, karena di sana
orang Indonesia hanya saya. Pasangan saya dari Finlandia, namanya Henri
Kontinen. Dia itu teman lama saya, kami sering bertemu di berbagai turnamen
dan kami sudah janjian untuk bermain bersama. Ketika akhirnya menang, itu adalah saat yang tidak akan terlupakan.

French Open 2008  Junior ini adalah pertandingan yang paling berkesan untuk saya.  Karena tingkatnya sudah Grand
Slam dan saya adalah orang Asia kedua yang menjadi juara di kelas Boys’ Doubles. Dua tahun sebelum saya ada Kei Nishikori asal Jepang yang menjadi juara di kelas tersebut. 

Davis Cup dan Kesiapan Indonesia untuk Thailand.

Sebenarnya kan target utama promosi ke grup 1. Tentu saja yang main di grup 2 tahun ini kelasnya lebih bagus karena yang downgrade dari grup 1 tahun lalu yaitu Korea dan Thailand. Kebetulan kita tahun ini ketemu Thailand lagi. Dari chance sih ada, tapi kita juga mesti lihat dari segi materi.

Sekarang ini Thailand ada Danai Udomchoke yang tahun lalu tidak main sekarang main lagi. Ia sekarang berada di 312 dunia. Danai memang pemain kunci Thailand dan kita harus waspada. Tak hanya dia, nomor duanya pun bagus juga, jadi dapat dikatakan materi mereka rata. Salah satu cara melawannya adalah harus mengikuti kompetisi yang mereka geluti. Seperti kalo mereka main di future kita harus main di future juga dan kebanyakan mereka bermain di chalengger dan future.

Menghadapi kembali K.Wachiramanowong, ganda, suporter dan Sea Games

Persiapan khusus untuk menghadapi K.Wachiramanowong sebenarnya secara individual tidak ada. Kita hanya
fokus one by one. Jadi setiap
turnamen harus fokus. Dan sebelum bertanding, kita harus sudah
memikirkan cara melawan dia. (Tahun lalu Christo kalah melawan K.Wachiramanowong-red.)

Kemungkinan saya untuk bermain ganda di Davis Cup nanti memang ada. Saat melawan Iran kemarin, saya berpasangan dengan Sunu, tapi nampaknya formasi ke depan akan berubah. Sekarang format pemain kita belum ketahuan, masih bayang-bayang saja. Saya sih siap-siap saja bermain dengan siapapun.. Dan bicara tentang suporter Thailand saat Davis Cup nanti, sebenarnya sebagai pemain profesional, masalah supporter itu biasa dan tidak bisa dijadikan alasan.

Setelah Davis Cup, saya juga hrus fokus untuk Sea Games. Target saya adalah medali
emas. Indonesia akan mendapat perlawanan berat dari Thailand dan Filipina. Di Filipina akan ada
Cecil Mamiit yang merupakan pemain naturalisasi dari Amerika, namun saya akan tetap berjuang..


Penghargaan dan Lawan Terbaik

Tahun 2007 di London, saya melawan orang Brasil yang memiliki peringkat nomor 2 junior, padahal saya belum pernah main di lapangan rumput sebelumnya. Sudah empat hari London hujan dari pagi sampai malam. Persis keesokan harinya saya harus langsung bertanding dan ternyata saya menang! Saya menang dengan skor tipis 7-6, 6-7, 7-6. Padahal saya belum pernah main di lapangan rumput sebelumnya. Pertandingan itu adalah salah satu yang paling berkesan.

Selain pertandingan itu, ada lagi yang berkesan untuk saya. Ketika di tahun 2009, saya mendapat dua penghargaan. Bulan Maret dari Tabloid Bola sebagai Atlet
Harapan Terbaik dan bulan Oktober saya mendapat penghargaan Parama Krida Utama dari
Menpora Adhyaksa Dault dalam acara Hari Olahraga Nasional.. (tersenyum bahagia)

Bahagia dan Kesedihan Tenis

Jadi kalo kita bilang, tenis merupakan salah satu olahraga yang paling kejam. Little time to celebrate. Short time to cry. Jadi misalkan kita menang di final, dan kalau final itu pasti selalu hari Minggu, maka Selasa kita harus main lagi untuk pertandingan selanjutnya. Jadi cuma ada satu hari untuk merayakan dan keesokan hari langsung main lagi. Begitu juga bila kalah, minggu depannya ada lagi.

Bagi saya saat yang paling bahagia saat dipanggil timnas untuk main SEA Games 2007. Karena saya masih 17 tahun dan sudah dipercaya masuk tim inti SEA Games. Saya sangat senang sekali. Meskipun begitu, saya juga pernah merasakan kesedihan karena tenis. Tahun 2006, pinggang saya cedera. Setelah diperiksa dokter, maka keluarlah surat empat bulan off. Saya merasa kecewa dan frustasi. Karena empat bulan dalam tenis merupakan jangka waktu yang sangat lama. Saya kira bukan hanya tenis ya, karena empat bulan untuk olahraga lain juga sangat lama..

Cita-cita dan Target Masa Depan

Kalau boleh jujur, dari kecil saya tidak bercita-cita jadi pemain tenis..hahaha (tertawa). Saya dulu senangnya main gokart dan pengen jadi pembalap. Bila tidak di tenis mungkin saya sudah jadi pembalap. Dulu saya selalu balapan setiap Sabtu-Minggu, saya senang adrenalin yang mengalir saat balapan. Saya suka sekali Schumacer walaupun dia sudah pindah tim sekarang. Cuma sekarang lagi sibuk di tenis.

Target saya adalah masuk ranking ke 200 dunia. Dari bulan ini sampai dengan SEA Games
kurang lebih ada 17 turnamen lagi, tapi regionnya beda-beda. Mungkin di
tiga bulan mendatang di Asia, tiga bulan kemudian di Amerika dan
terakhir di Eropa. Karir saya saat ini masih permulaan. Masih ada 10 tahun ke depan, dan saya berharap untuk tidak dihantui cedera.. Bila kelak nanti saya tidak bermain tenis lagi, sepertinya saya akan tetap
menjalankan profesi yang terkait dengan olahraga, seperti pelatih, manajer,
atau buat akademi. Pokoknya yang berhubungan dengan olahraga, karena
saya cinta olahraga.. (tersenyum).

Indonesia dan Dukungannya

Saya melihat Indonesia sekarang
complicated. Selesai kasus ini
datang lagi kasus yang lain. Up and
down
. namun bukan berarti hilang harapan. Saya masih melihat
positifnya. Saya cinta negara ini dan berharap kedepannya dapat lebih
baik lagi dan saya yakin pasti lebih baik lagi.

Demikian pula dukungan Indonesia terhadap tenis. Sejak ada program Indonesia Emas,
pemerintah cukup signifikan dalam meperhatikan, tidak cuma tenis saja
tetapi semua cabang olahraga. Untuk tenis sendiri sebenarnya tergantung
PB (pengurus besar)-nya kalo PB-nya bagus Pemerintah juga dukung, so far
sih PB ok.. Kemudian untuk masalah naturalisasi atlet yang sekarng ini marak, saya juga melihatnya sebagai cambuk untuk menjadi lebih baik lagi, dan menurut saya itu bagus..

Idola Sang Idola

Saya punya banyak idola, tak hanya dari dunia tenis, namun juga bidang olahraga yang lain. Untuk petenis luar saya mengagumi Michael Chang, petenis termuda yang pernah
memenangkan Grand Slam French Open (1989) saat berusia 17 tahun. Michael adalah petenis asal
Amerika keturunan Asia yang sangat terkenal di tahun 90-an. Sementara petenis Indonesia saya suka Wailan Walalangi (peserta Olimpiade 1988), karena personality on court dan off court-nya hebat.

Kemudian masih ada lagi idola saya yang lain, Patrick
Rafter (mantan petenis no.1 dunia dari Australia). Saya menyukai cara dia
berkomentar, bermain, menghargai lawan, dirinya sendiri dan respect pada orang lain. Sebagai
nomor satu dunia dengan memberikan respect
kepada orang lain merupakan sesuatu yang luar biasa. Kalau untuk yang
sekarang ini Roger Federer. Untuk di luar tenis, saya
senang Kaka saat di AC Milan, dan kabarnya ia akan kembali lagi ke AC
Milan ya?

Kata-Kata Sang Juara
Easy Going, Fun , Reliable
. Mungkin itu adalah tiga kata yang bisa menggambarkan saya. Saya sungguh berharap anak muda Indonesia tidak membuang waktu dengan narkoba. Olahraga adalah sesuatu yang bagus dan sangat positif. Lebih baik berolahraga karena akan membuat badan sehat dan mungkin bisa berprestasi nantinya..

Hmm sungguh akhir pekan yang menyenangan. Pembicaraan dengan pemuda juara tenis ini menumbuhkan semangat baru untuk terus maju. Cerita-ceritanya memberikan inspirasi, bahwa kita harus selalu maju untuk memberikan yang terbaik bagi diri kita senidri, dan orang di sekitar kita..

Ghiboo sungguh berharap kesuksesan untuk Christo dan semoga olahraga nasional makin maju, terlebih dengan semangat membara atlet muda Indonesia sepertinya..

Ayo tingkatkan olahraga!

(Ghiboo)

SHARE