R.I.P Pinetop Perkins

0
68

.Blues pianis Pinetop Perkins meninggal di usia 97 tahun. Berita duka cita tersebut disampaikan oleh managernya selama 15 tahun ini, Hugh Southard. Perkins meninggal pada hari senin karena serangan jantung ketika akan tidur di Austin, Texas.

Perkins lahir di Belzoni pada tahun 1913 dan dipercaya sebagai musisi old-time delta blues tertua yang masih aktif tampil. Dalam rentang 80 tahun karirnya Perkins pentas di berbagai klub malam dan festival. Perkins sempat bergabung dengan Sonny Boy Williamson di acara radio King Biscuit yang disiarkan oleh KFFA di Helena pada era 1940-an, tur dengan Ike Turner di era 1950-an, dan bergabung dengan band Muddy Waters pada tahun 1969. Dia tidak membuat rekaman dengan namanya sendiri sampai berusia 70 tahun dan merilis lebih dari 15 album solo sejak tahun 1992. Southard menjelaskan kepada Billboard bahwa semangat Perkins untuk tetap memainkan blues yang membuatnya tetap hidup.“He is the blues, he is the epitome of it, he lived it, breathed it,” ujar Southard.

Tahun 2005, Perkins mendapatkan A Lifetime Achievement di ajang Grammy Award. Di tahun 2007 di ajang yang sama, album kolaborasinya “Last of the Great Mississippi Delta Bluesmen: Live in Dallas” menang di kategori Best Traditional Blues Album. Terakhir, pada Februari 2011, menang lagi di kategori yang sama di Grammy Award untuk album “Joined at the Hip: Pinetop Perkins & Willie “Big Eyes” Smith”, membuat Perkins tercatat sebagai peraih Grammy tertua.

Meskipun usianya sudah senja, Perkins tetap tampil reguler di klub-klub blues Austin. Untuk tahun ini sudah ada lebih dari 20 pertunjukan yang akan diselenggarakan. Bahkan setelah menang Grammy, Smith dan Perkins sudah berdiskusi untuk membuat rekaman lagi. Sepertinya pepatah tua-tua keladi, makin tua makin jadi, cocok disandang Perkins.

Smith menyatakan bahwa Perkins pernah mengatakan dia sangat senang ketika bermain musik. Perkins sangat menyukai fast food dan seorang perokok berat sampai akhir hidupnya. “Two cheeseburgers, apple pie, a cigarette and a pretty girl was all he wanted,” tambah Southard.

B.B. King pun mengungkapkan rasa duka atas kepergian temannya tersebut. “He was one of the last great Mississippi Bluesmen. He had such a distinctive voice, and he sure could play the piano. He will be missed not only by me, but by lovers of music all over the world,” kata King melalui email.

(berbagai sumber)

SHARE