Turki, oh, Turki

0
54

.Ada banyak hal dan cara yang bisa membuat sosok dan eksistensi seorang kepala negara terasa begitu langgeng, begitu hidup dan hadir dalam keseharian masyarakat, baik yang sedang dipimpin maupun yang pernah dipimpinnya.

Torehan wajah dalam lembaran poster atau kepingan mata uang adalah sesuatu yang lazim terjadi. Tentu saja menorehkan gambar wajah dalam lembar dan kepingan uang adalah cara yang paling mudah untuk senantiasa mendekatkan diri dengan rakyatnya, termasuk juga dengan mengabadikan diri dalam bentuk patung seluruh badan, dari atas sampai bawah, dalam pose yang membanggakan. Namun bukan itu yang ditempuh oleh Recep Tayyip Erdogan, sang bapak perdana menteri Turki.

Seolah-olah tahu hendak ke mana arah angin politik dan perekonomian Turki akan berhembus, pak perdana menteri ini telah mendaftarkan inisial namanya menjadi sebuah merk dagang yang telah dipatenkan. Inisial nama RTE yang kadang-kadang dapat kita lihat sebagai sebuah monogram penghias kemejanyanya ini akan menjadi alamat website “rte.com.tr” serta usaha lain yang meliputi bisnis perangkat alat tulis dan kantor, produk media, iklan dan administrasi bisnis, radio & televisi, komunikasi, dan bahkan pendidikan. Sangat luas dan sangat potensial sekali mencakup setiap sendi kehidupan masyarakatnya.

Sepertinya perdana menteri yang telah memimpin Turki sejak 14 Maret 2003 (dan belum menunjukkan tanda-tanda ingin mengundurkan diri karena beliau kembali bertarung dalam pemilu yang akan digelar 12 Juni nanti) ini telah belajar banyak hal dari apa yang mungkin  tidak dipelajari oleh Mustafa “Ataturk” Kemal, sang pendiri republik Turki, termasuk dalam hal patenisasi nama dan diri.

Meskipun nama dan kiprahnya di dunia politik dan merchandise belum selegendaris dan selaris Ataturk (meninggal sekitar 70 tahun yang lalu, namun sampai hari ini kharisma dan sosoknya masih hadir dan menemani kehidupan sehari-hari warga Turki dalam bentuk sarung pembungkus iPhone hingga gantungan kunci), namun di masa mendatang siapa yang akan tahu buah apa yang akan dipetik oleh Recep Tayyip Erdogan memalui aksi patenisasi diri yang telah dia jalani.

Ngomong-ngomong tentang Recep Tayyip Erdogan dan Turki, saat Indonesia dan 9 temannya sedang mempersiapkan diri dengan wacana visa tunggal di kawasan ASEAN, Turki dan Rusia sudah sampai di babak baru dalam hubungan kedua negara melalui sebuah nota kesepakatan yang memungkinkan warga kedua belah pihak untuk melakukan perjalanan bebas visa antara kedua negara mulai bulan depan. Perjanjian yang disyahkan bebarengan dengan acara kunjungan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan ke Moscow ini efektif berlaku mulai tanggal 16 April, bulan depan.

Hmmm, kira-kira kalau dalam surat perjanjian tersebut tertera inisial “RTE”, pihak Rusia harus membayar royalti pada pak Perdana Menteri Turki atau tidak ya??

(Berbagai sumber)

SHARE