Pementasan Teater Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh

0
39

.Sabtu (26/03) malam Komunitas Salihara mementaskan kembali teater Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh. Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh bercerita tentang perjalanan hidup Nyai Ontosoroh, atau Sanikem, yang ketika masih berusia belasan tahun dijual kepada seorang Belanda oleh ayahnya. Nyai Ontosoroh digambarkan memiliki karakter yang progresif, bahkan untuk ukuran perempuan sekarang. Menggunakan alur cerita kilas balik, naskah drama ini merupakan hasil adaptasi Faiza Mardzoeki dari roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Drama dengan durasi satu setengah jam ini merupakan versi baru dari drama Nyai Ontosoroh yang berdurasi tiga jam. Pada 2007, Nyai Ontosoroh versi panjang telah dipentaskan sembilan kali oleh sembilan sutradara di sembilan wilayah di Indonesia dan mendapatkan sambutan yang luar biasa.

Pada 2010, drama Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh telah sukses dipentaskan di Tropentheater, Amsterdam; Tong Tong Festival, Den Haag; dan di Zuiderpershuis Culturel Centrum, Antwerpen. Sebelumnya, pertunjukan ini terlebih dahulu dipentaskan di beberapa tempat di Indonesia, seperti di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, dan di Erasmus Huis Jakarta.

Sita Nursanti yang merupakan mantan personel grup vokal RSD, dipercaya menjadi pemeran utama. Diawali dengan tokoh Nyai Ontosoroh yang masuk ke panggung membawa koper tua. Koper tua dibuka dan cerita pun mulai bergulir. Berkisahlah Nyai Ontosoroh bagaimana dia dijual oleh ayah ibunya kepada Tuan Mellema (Willem Bevers) kemudian perjuangannya mempertahankan keutuhan keluarga serta perusahaan yang dimilikinya.

Sita cukup lancar memainkan perannya. Perpindahan emosi yang dilakoni cukup menggambarkan perasaan yang dialami Nyai Ontosoroh. Emosi sedih seketika berubah menjadi gembira, sosok yang rapuh sekaligus tegar, berhasil disampaikan.

Dalam pementasan ini, humor disampaikan dengan pas. Adegan Minke (Bagus Setiawan), seorang pelajar HBS, yang datang mengunjungi Annelis (Anita Bintang) kemudian “diinterogasi” oleh Nyai Ontosoroh berhasil mengundang tawa penonton. Kekikukan Minke serta keluguan dan kepolosan Annelis diimbangi dengan ketegasan Nyai Ontosoroh.

Kalimat “kita sudah melawan…dengan sebaik-baiknya” menjadi kalimat pamungkas Nyai Ontosoroh. Penonton pun memberikan standing applause untuk keempat pemeran tersebut.

(ghiboo)

SHARE