Terbang Tinggi, Tarif Makin Tinggi

0
75

.Konflik di negara-negara penghasil minyak di kawasan Timur Tengah dan Afrika adalah petaka, yang tak hanya menyiksa bagi para warga sipil korban konflik, namun juga bagi perusahaan penerbangan dan para konsumennya.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan bahwa untuk setiap kenaikan US $ 1 harga minyak per barel, industri penerbangan membutuhkan biaya tambahan hampir US $ 1,6 milyar untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional. Dan untuk kenaikan harga bahan bakar hingga US $ 10 per barel, maka keuntungan perusahaan penerbangan kemungkinan akan berkurang antara 20 hingga 28 persen. Bagai sebuah efek domino, konflik di sana juga berarti konflik di sini. Itulah mengapa kenaikan harga minyak bisa berarti tarif yang lebih tinggi dan beban biaya tambahan bagi penumpang, khususnya mereka yang bepergian untuk liburan.

Meskipun harga BBM dunia meningkat makin pesat, namun untuk menaikkan tarif juga dirasa sulit mengingat daya beli masyarakat yang terbatas. Beberapa maskapai penerbangan di Indonesia sudah mulai menunjukkan indikasi tersebut. Kini kondisi tersebut membawa mereka pada beberapa pilihan pahit, diantaranya memangkas paket promosi dan bahkan meniadakan tiket dengan harga terbawah untuk rute domestik, serta mengenakan biaya fuel surcharge (biaya atas kenaikan harga bahan bakar pesawat) untuk rute internasional.

Bagai sebuah efek domino, konflik di sana juga berarti konflik di sini. Well, setidaknya konflik batin. From Libya, with fuel surcharges.

(Berbagai sumber)

SHARE