Juara di SEA Games 2011?

0
16

.Mendekati akhir tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para atlet Indonesia yang akan berlaga di SEA Games 2011 untuk berkomitmen meraih hasil terbaik agar tuan rumah Indonesia bisa menjadi juara umum. Presiden selain ingin penyelenggaraan event olahraga terbesar se-Asia Tenggara ini sukses, ingin juga kontingen Indonesia meraih juara umum. Lalu kemudian Menpora pun menyuarakan hal yang sama.

Mungkin saja kedua figur politisi ini hanya menyuarakan yang sudah lazim disuarakan di bidang mereka. Di bidang politik, apa yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan atau dicapai, tetap saja harus dilantangkan meskipun pada kenyataannya nanti berbeda. Karena bagi kami yang berada di dalam dunia olahraga Indonesia mengetahui bahwa apa yang disuarakan mereka adalah mimpi.

Indonesia terakhir menjadi juara umum SEA Games tahun 1997 saat menjadi tuan rumah SEA Games XIX. Jika ada yang berpikir bahwa kali ini saat Indonesia kembali menjadi tuan rumah dan mengharapkan hal yang sama, pemikiran itu salah adanya. Indonesia sudah tidak lagi mendominasi cabang-cabang olahraga ‘tambang emas’ seperti renang, atletik, senam dan menembak yang menyediakan lebih dari 50% total medali emas yang diperebutkan. Tanpa menjadi dominan di sebagian besar cabang-cabang olahraga tersebut, mustahil gelar juara umum diraih. Matematikanya saja tidak masuk akal. Tetapi jika harapan menjadi juara umum yang disuarakan bapak Presiden dan Menpora adalah benar-benar yang mereka percayai, maka semua informasi yang diberikan kepada mereka adalah salah atau orang-orang yang menyuplainya menganut falsafah ‘asal bapak senang’.
   
Prestasi olahraga tidak bisa dibeli dengan instan atau dengan biaya penyelenggaraan. Tidak dengan kondisi prestasi Indonesia yang sudah terlanjur terpuruk seperti saat ini. Sudah terlalu besar jurang yang terjadi antara Thailand, Singapura dan Malaysia di terlalu banyak lini dengan kita. Thailand merajai di lintasan atletik, Singapura di kolam renang dan Malaysia juga lebih kurang sama. Indonesia sudah terdepak ke tier II di olahraga Asia Tenggara, bertarung dengan Vietnam dan Filipina. Beberapa SEA Games belakangan, kita harus berjuang susah payah untuk posisi ketiga. Dan dengan pola pembinaan pemerintah beserta KONI/KOI yang ada sekarang, jangan kaget kita akan tetap berjuang untuk posisi yang sama tahun ini di Palembang dan Jakarta, jika kita menjadi penyelengara yang fair.

Prestasi olahraga tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan. Indonesia yang berpenduduk terbesar di Asia Tenggara ini, justru tidak memanfaatkan fakta itu dengan membuat sebuah ‘mesin’ pencetak atlet berprestasi. Apakah ‘mesin’ itu? Mesin itu adalah berupa pola pembinaan terpadu secara nasional dengan dunia pendidikan. Saya dulu sempat ditanya oleh guru dari sekolah yang ‘serius’ untuk memilih: ‘Mau sekolah atau mau renang?’. Pertanyaan itu sedihnya masih saja berkumandang dari para pendidik saat ini, seakan para atlet hanya mempunyai satu nasib saja? Menjadi murid atau atlet.

Akhirnya banyak atlet Indonesia yang memilih sekolah ‘kelas bawah’ atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Akan tetapi sewaktu saya menjalani pendidikan formal di Amerika Serikat, kemampuan saya di bidang olahraga justru menjadi sebuah kelebihan untuk menjalani pendidikan di institusi pendidikan prestisius. Di lain pihak, para atlet juga harus sadar bahwa pendidikan formal adalah penting. Bukan saja untuk masa depan mereka, tetapi juga untuk perkembangan prestasi mereka saat masih menjadi atlet. Saya adalah salah satu yang mempunyai keyakinan bahwa perkembangan intelejensia atlet berdampak langsung terhadap perkembangan prestasinya di lapangan.

Kedua, tentang infrastruktur olahraga kita yang hampir punah. Berbagai lahan olahraga satu persatu menjadi korban bisnis komersial jutaan dolar. Tengok saja fasilitas kolam renang 50 meter yang sudah mulai langka di kota Jakarta atau di kota manapun Anda berada di Indonesia. Satu-satunya fasilitas kolam renang ‘state of the art’ Indonesia adalah Stadion Renang Gelora Bung Karno Senayan. Dan fasilitas tersebut sudah berumur lebih dari 50 tahun. Seharusnya fasilitas stadion renang besar seperti itu, untuk ukuran kota megapolitan Jakarta, ada di kelima kotamadyanya. Demikian halnya dengan lapangan sepak bola, lapangan atletik, lapangan menembak, gymnasium senam dan fasilitas olahraga prestasi lainnya.

Kedua defisiensi Indonesia dalam olahraga tersebut diatas adalah resep manjur untuk stagnansi prestasi olahraga kita. Di saat para negara tetangga kita membangun fasilitas latihan dan pertandingan yang berstandar internasional, Indonesia membangun berbagai mall dan perkantoran mewah di lahan olahraga. Indonesia gagal melihat olahraga sebagai salah satu alat pembangkit moral dan martabat bangsa, seperti yang disuarakan Presiden pertama kita dahulu, Bung Karno. Itulah yang dilakukan Afrika Selatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia-nya yang lalu, dan itulah yang melejitkan Korea Selatan dengan penyelenggaraan Olimpiade 1988 lalu. Mereka tidak hanya membangun fasilitas untuk pertandingannya saja, tetapi dari beberapa tahun sebelumnya sudah menyiapkan program pembinaan yang memadai agar atlet mereka sendiri akan sukses di event yang mereka selenggarakan.

Mudah-mudahan event penyelenggaraan SEA Games XXVI yang akan datang di Palembang dan Jakarta ini akan menjadi sebuah titik tolak atau titik bangkit bagi olahraga Indonesia. Tetapi jika melihat maraknya pencampuran politik perpartaian di olahraga, saya pesimis Indonesia akan bangkit kembali. Semoga saya salah.

Richard Sam Bera

SHARE