Musisi Kok Seperti Bebek

0
54

.Bagi Dwiki Dharmawan, partiture adalah panduan, namun ketika dimainkan sebuah karya niscaya menuntut keterlibatan emosi dan kepenuhan hati para musisinya. “Dan itulah main musik yang enak menurut saya,” jelas Dwiki ketika ditemui usai pementasannya bersama Donny Sunjoyo dan Jogya String Quartet. Ketika menjadi conductor orkestra, Dwiki tidak terlalu sering melihat partitur dan bisa merasakan sensasi yang lain.

Ketika berkolaborasi, Dwiki selalu memberi kebebasan kepada setiap musisi. “Kalian itu main musik apa (meniru) bebek sih?,” kata Dwiki mengibaratkan musisi yang hanya terpaku pada partitur sehingga tidak berkembang permainannya seperti bebek yang hanya mengikut.

Peraih penghargaan Penataan Musik Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 1991 ini, bersama dengan World Peace Ensemble akan tampil di Belanda, Swiss, Italia dan Austria pada bulan Juli nanti. Dwiki akan berkolaborasi dengan musisi-musisi Eropa dan Timur Tengah. Kemudian pada musim gugur akan tampil lagi di luar negeri dengan Donny Sunjoyo dan Jogya String Quartet.

Ketika ditanya tentang karyanya yang lebih diterima di luar negeri ketimbang di negara sendiri, Dwiki dengan bijak menjawab,”perlu proses dan waktu untuk belajar mengapresiasi, tetapi kita tidak boleh berhenti berkarya.” Dwiki juga mengakui bahwa dirinya dan juga orang lain masih perlu belajar. Karena itu Dwiki mengatakan akan tetap berkarya meski pun hanya sedikit yang menikmati karyanya tersebut.

Jadwal yang padat tidak menghalanginya untuk tetap berkarya. Dwiki sudah memiliki segudang rencana lain. Antara lain dengan grup Eastmania yang merupakan kolaborasi Dwiki dengan Kamal Musallam, Kai Eckhardt, Rascha Rizk dan Nasser Salameh akan merilis album bersama Billy Cobham. Dengan grup Krakatau, Dwiki berencana untuk membuat Celebes Fantasy yang mengeksplor kekayaan budaya Sulawesi.

9 April nanti bila tidak ada halangan Dwiki akan berkolaborasi dengan musisi dan saxophonist Jepang, Sadao Watanabe, di Jakarta. Ini adalah sebuah acara amal yang diusulkan oleh Sadao karena dia melihat simpati dunia yang terbesar datang dari Indonesia. “Disitulah yang membuat saya bangga dengan Indonesia,” pungkas Dwiki.

(Ghiboo)

SHARE