Sayonara, Ginza

0
32

.Distrik Ginza yang tersemat diantara hiruk pikuk Kota Tokyo sejak lama dikenal sebagai salah satu distrik belanja paling mewah di dunia. Di sinilah para perempuan berpakaian rapi berlenggang setiap hari, di sinilah flagship butik paling trendy milik Chanel, Dior, Gucci, Louis Vuitton, Sony dan Apple Store bisa Anda temui, dan di sini pula secangkir kopi seharga 1.000 Yen (Rp. 103.000) dapat Anda nikmati. Kalau kawasan seperti Shibuya dan Shinjuku adalah surga bagi kerumunan anak muda, Ginza adalah magnet bagi para creme de la creme.

Jepang merupakan salah satu raksasa perekonomian dunia dan penduduk di sana memiliki kontribusi yang luar biasa besar terhadap pertumbuhan industri barang mewah dunia. Tahun lalu saja hampir 24% dari seluruh produk mewah yang dipasarakan di dunia ini dibeli oleh masyarakat Jepang (bandingkan dengan 22% penjualan di pasar Eropa, 20% di Amerika Utara, 19% di Cina dan 15% di belahan dunia lainnya), sehingga tak mengherankan kalau Hermes, Bulgari, Gucci, Louis Vuitton, Bottega Veneta, Yves Saint Laurent dan banyak merk high-end lainnya masih begitu mengandalkan Jepang untuk mencerahkan angka penjualan.

Tapi semuanya berbeda setelah kini Jepang baru saja diguncang tragedi gempa bumi, tsunami dan bencana nuklir. Prioritas hidup telah berubah dan masyarakat Jepang pun sedang tidak ingin untuk bermewah-mewah. Wajah jalan-jalan di distrik perbelanjaan Ginza yang biasanya begitu berkilauan, akhir-akhir ini terasa begitu gelap dan sepi mengingat program penghematan listrik masih harus dijalankan. Tak hanya lampu yang redup di Ginza. Optimisme dan semangat konsumerismenya pun sepertinya juga mengalami hal yang sama. Sebuah hal yang sangat ditakutkan oleh Gucci dan teman-temannya mengingat redupnya wajah Ginza secara tak langsung juga akan mempengaruhi rona wajah mereka.

Banyak yang melihat bahwa triple bencana yang menimpa warga Jepang kemarin telah menyentak dan membawa mereka dalam realitas kehidupan yang baru, yang lebih sederhana dan lebih membumi, jauh dari materialisasi.

Mungkin memang untuk saat ini warna Jepang sedang redup dan sedikit kehilangan keceriaan. Namun perlahan, Jepang pasti akan kembali bangkit, berkibar dan memamerkan pesonanya yang luar biasa, seperti sebelum-sebelumnya.

(Berbagai sumber)

SHARE