Kembalinya Tan Malaka

0
57

.Apakah sejarah membosankan? Stigma bahwa sejarah adalah buku-buku tebal membosankan dan kunjungan merepotkan ke museum tampaknya harus kita singkirkan sejenak. Pada hari Sabtu dan Minggu besok (23-24 April 2011) Seorang Goenawan Mohamad menghadirkan sejarah dalam sajian bingkai yang berbeda. Sosok tokoh nasional, Tan Malaka kembali diperkenalkan melalui pentas bernama Opera 3 Babak Tan Malaka.

Opera Tan Malaka merupakan karya budayawan Goenawan Mohamad yang berkolaborasi dengan komposer Tony Prabowo. Opera ini pernah dipentaskan perdana di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Oktober tahun lalu. Pada pementasan perdana tiket terjual habis tanpa sisa, hal yang diluar dugaan. Sebab menurut Goenawan, opera bukanlah tontonan lazim bagi orang-orang di Indonesia.

Dalam rangkaian peringatan HUT ke-40 TEMPO Media, Opera ini kembali dipentaskan pada 23-24 April mendatang di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Berbeda dengan pementasan perdana di tahun lalu, pementasan Opera Tan Malaka kali ini mengalami banyak penyempurnaan, baik pada komposisi musik maupun aspek pemanggungan.

Pementasan opera ini bisa disebut sebagai ‘opera-esai’. Sebab yang dipentaskan bukanlah sebuah cerita, melainkan sebuah wacana tentang salah satu tokoh terpenting revolusi Indonesia: Tan Malaka. Tidak ada aktor yang memerankan satu tokoh. Tidak ada dialog antar-peran. Tapi ada dua penyanyi aria dan dua pembaca teks yang terkadang bersilangan, terkadang paralel.

Sejarah bukan lagi sekedar pendokumentasian masa lalu. Sejarah telah berhasil dilestarikan melalui karya seni berupa opera. Pada akhir pekan besok, Pentas Opera 3 Babak Tan Malaka bisa saja menjadi pilihan agenda yang menarik. Menikmati sejarah, melalui pementasan opera.

(Ghiboo)

SHARE