Fira Basuki : Kate, a new Diana?

0
97

.Kate, a new Diana? I don’t think so!

Jangan salah, seperti perempuan pada umumnya yang dibesarkan dengan kisah Cinderella, saya pencinta kisah happily ever after ala putri kerajaan. Namun, mengikuti perkembangan berita pernikahan Kate Middleton dan Pangeran William 29 April 2011 dan membandingkan si calon puteri kerajaan Kate dengan almarhumah Lady Diana, seperti membandingkan apel dan jeruk. Sama-sama buah, sama-sama enak, tapi ‘rasa’ dan ‘bentuknya’ beda.

BLUE VS. RED
Mari kita lihat dari latar belakang keduanya. Putri Diana atau lebih dikenal dengan Lady Di dan akhirnya Princess of Wales, berdarah bangsawan. Diana lahir dengan nama Diana Frances Spencer, anak bungsu dari Edward Spencer dan isteri pertamanya Frances Spencer, 1 July 1961 di Park House, Sandringham Estate. Diana sekolah di Riddlesworth Hall di Norfolk dan di West Heath Girl’s School, di Sevenoaks, Kent, dan dikenal sebagai pelajar yang biasa-biasa saja.
Usia 16 tahun Diana bosan belajar dan drop out dari West Heath dan akhirnya dia dikirim orangtuanya ke Swiss untuk menyelesaikan studi di Chateau d’Oex. Karena jenuh, ia kembali ke Norfolk dan bekerja sebagai asisten guru TK. Diana pacaran enam bulan dengan Pangeran Charles dan mereka menikah di saat usia Diana 20 tahun, 29 Juli 1981.

Catherine Elizabeth “Kate” Middleton, tidak memiliki darah yang disebut-sebut ‘biru’. Wanita yang memang dikenal cantik oleh teman-temannya ini lahir 9 Januari 1982 dan meraih gelar Master of Art dari Universitas St Andrew. Anak pertama dari tiga bersaudara dari orangtua pilot dan ibu pramugari yang berbisnis sebagai penyalur alat-alat pesta.  Disebut media sebagai ‘Waitey Katey’ karena demikian lama berpacaran dengan Pangeran William sejak 2001 ketika sama-sama kuliah di Universitas St. Andrews sebelum akhirnya menikah 29 April 2011 dengan usia Kate 29 tahun.

TRADITIONAL MODERN VS. SIMPLE MODERN
Siapakah yang menjadi the fashion icon? Saat menikah Diana mengenakan gaun sutera taffeta berenda, dengan ekor 7,5 meter, rancangan David dan Elizabeth Emanuel.

Diana memulai gayanya dengan mengikuti tradisi Inggris dan memilih desainer Inggris seperti Bruce Oldfield, Amanda Wakeley, dan Catherine Walker. Lalu ia mulai berani mengenakan gaun yang direkomendasikan desainer Eropa lainnya seperti Versace, Christian Lacroix, dan Chanel. Salah satu gaun terkenalnya adalah gaun inkblue velvet rancangan Victor Edelstein yang dikenakan Diana sangat berdansa dengan John Travolta di White House tahun 1985. Namun, selain aksesori topi yang beraneka ragam, Putri Diana masih setia dengan tiaranya. Diana masih menampilkan sisi ‘keputriannya’.

Di sisi lain, saat saya menulis ini, Kate disebut-sebut akan melangkahkan kaki ke altar dengan gaun rancangan desainer Inggris Sarah Burton, direktur kreatif dari label Alexander McQueen. Ada pula yang menyebutkan gaun pengantinnya adalah hasil rancangan Sophie Cranston, desainer lokal London, pemilik label Libelula. Kate senang berbusana santai. Di beberapa kesempatan para kritikus mode melihat Kate tampil bak Diana, dengan busana yang mirip. Tapi Kate membuktikan ia memiliki kepribadian tersendiri. Tak jarang ia berani tampil memakai sepatu boot, favoritnya adalah LK Bennett.

Kate adalah penggemar Diane von Furstenberg, Burberry dan Alice Temperley serta dari tempat-tempat seperti Whistles dan Jigsaw. Kate tak segan muncul di tempat bargain atau diskon. Ia juga penggemar highstreet brands-di antaranya Topshop, Banana Republic, Warehouse, dan Dune. Busana pertunangannya yang senada dengan warna cincin memang yang paling terkenal, juga gaun merah muda saat berdansa di Boodles Boxing-keduanya rancangan Issa. Kate juga penggemar topi, bahkan ia disebut-sebut membuat tren fashion memakai hiasan kepala berbulu kembali ‘in’. Namun ia bukan penggemar tiara, ia lebih senang membiarkan gaya rambut panjangnya terurai menggoda.
 
Menarik sekali kalau membandingkan gaya rambut Diana yang pendek dan terlihat modern di zamannya dengan tiara tradisional. Sementara Kate tanpa tiara tapi memilih rambut panjang dengan potongan ‘biasa’. Seperti kedua putri ini sama-sama ada sisi tradisional dan modern-nya. Faktanya, baik Diana atau Kate sama-sama sering terpilih menjadi wanita berbusana terbaik versi banyak majalah.

SHY VS. WITTY
Dilihat dari foto-fotonya. Dari foto masa kecil hingga dewasa, jelas terlihat bagaimana bahasa tubuh Diana terlihat ia seorang pemalu. Postur tubuhnya yang tinggi sering membungkuk saat berhadapan dengan orang. Matanya tidak menantang para paparazzi. Pandangannya lembut dan halus.

Bandingkan dengan pose-pose berani Kate dengan pandangan mata tajam, tubuh tegap dan membusung dada. Dengan percaya diri menggandeng Pangeran William. Senyumnya sering lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Hal ini tidak mengherankan, karena saat kuliahpun Kate pernah berjalan di catwalk untuk fashion show kampusnya. Saya pun yakin, Kate pasti tidak ragu menjabat erat tangan lawan bicaranya dan beradu mata saat berbicara.

Kalau ditanya, siapa yang tercantik? Menurut saya sebuah polling tidak perlu membuktikan itu. Walau menurut BeautifulPeople.com, Kate mendapat 84 persen suara dari 127 ribu responden dan berada di peringkat tiga sebagai putri tercantik sedunia. Peringkat pertama Putri Grace Kelly dari Monaco, kedua Ratu Rania Yordania. Sementara Putri Diana berada di peringkat ketiga, di bawah Putri Kate. Bukankah beauty is in the eye of the beholder?

Setelah pembahasan ini, kalau ditanya, siapa yang saya pilih? Dua-duanya memiliki pesona tersendiri. Tolong berhenti membandingkan kedua putri, Kate atau almarhumah Diana, karena paling tidak mereka memiliki persamaan yang sama: jari manis mereka dihiasi oleh cincin 18-karat oval safir dengan berlian disekelilingnya desain Garrad. Cincin yang sama. Walaupun ‘aura’ pemakainya berbeda, tapi mereka tetap seorang putri. Perwujudan mimpi semua wanita di dunia. Di zaman yang berbeda.

Kalau Diana lebih lembut dan jarang berbicara ‘lantang’ ke media, namun secara nyata menunjukkan pesonanya dengan membantu sesama, saya prediksi Putri Kate akan lebih berani secara terang-terangan menyuarakan pendapatnya. Kalau Diana membuat orang jatuh hati dengan gaya berbusananya yang tradisional modern, Kate akan membuat orang merasa ‘dekat’ dengan gaya simpel dan modern-nya.

Perbedaan ini justru bagus, membuat putri kerajaan Inggris bukan duplikat. Putri Kate, bukan duplikat Putri Diana. Saya menyukai keduanya, baik Puteri Diana atau Putri Kate, dan bahkan tidak sabar mengetahui apakah Putri Kate akan menjadi seorang putri yang kian memesona tiap harinya dengan caranya sendiri. Oh ya, dan saya berdoa semoga Putri Kate lebih beruntung dari Putri Diana soal cinta dan hidup bahagia selama-lamanya bersama Pangeran William.

Fira Basuki

SHARE