Sehati Dalam Uang

0
57

.Oke, si dia memang belahan jiwa sejati. Namun apakah dirinya merupakan pasangan yang ‘sehati’ dalam hal keuangan? Jangan remehkan hal yang satu ini. Perselisihan seputar finansial bisa menyebakan kerusakan rumah tangga atau perceraian. Sebelum memutuskan bersama selamanya, lebih baik lakukan beberapa langkah di bawah ini.

Cari tahu kepribadian uang Anda dan uang pasangan

Seperti apa cara pasangan memperlakukan uang? Apakah dia boros? Suka menghambur-hamburkan uang tanpa mengerti arti ‘menabung’, mungkin? Bisa jadi juga ia justru tipe orang yang selalu rajin ke bank tiap kali mendapat rezeki, seberapa kecil atau besarnya jumlah uang tersebut. Orang yang suka membicarakan, merencanakan, dan mengatur pemakaian uangnya bisa dijadikan pasangan hidup yang tepat. Bayangkan, uang Anda dan uangnya akan terpakai dan tersimpan dalam suatu rencana matang dan teratur untuk kebutuhan berumah tangga.

Perhatikan lampu kuning yang menyala

Ada beberapa tanda bahaya dari perilaku orang-orang tertentu dalam masalah uang, yang harus Anda hindari. Bila Anda selalu mengalami perbedaan pendapat dalam membicarakan uang dan akhirnya selalu menghindari topik ini, maka lebih baik Anda menghindari juga sang pemilik uang, yakni pasangan Anda tersebut. Berjalan bersama seseorang tanpa pernah mengetahui atau membicarakan uang akan membawa Anda berdua dalam banyak masalah besar. Sebut saja, Anda tiba-tiba dikagetkan dengan tagihan hutang pasangan dalam jumlah besar! Salah Anda, tentunya, karena tidak pernah membicarakannya. Bila memang sering berselisih paham, mengapa tidak mengakhiri hubungan. Perbedaan cara mengatur uang akan banyak menyebabkan perbedaan pengambilan keputusan penting dalam berumah tangga. Ekonomi menyangkut banyak hal, setuju?

Lakukan pembicaraan mendalam

Sebelum menikah, hilangkan dan singkirkan perasaan malu, tabu, dan sungkan. Ajak pasangan untuk duduk bersama dan membicarakan tentang keuangan Anda berdua. Tanyakan, apa dia menginginkan adanya rekening bersama atau terpisah? Bagaimana cara orangtuanya dahulu dalam menghabiskan dan menyimpan uang? Apakah dia mengikuti cara orangtuanya? Bila tidak, bagaimana caranya melakukan hal-hal tersebut? Semua ini juga akan berkaitan ketika memiliki anak. Siapakah yang akan berhenti bekerja dan berada di rumah menemani anak? Ini berarti penghasilan hanya bisa mengandalkan satu orang dengan rezeki yang lebih baik. Diskusikan pula, bagaiamana meraih tujuan-tujuan besar, seperti memiliki rumah, kehidupan saat pensiun, atau bahkan kemungkinan mendirikan dan menjalankan usaha kecil-kecilan bersama.

Samakan visi dan misi. Pernikahan tidak sekedar melihat hati, namun juga ekonomi.

(Berbagai sumber)

SHARE