Incognito Bawa Pesan Perdamaian dan Cinta

0
55

.Setelah dibuka oleh opening act yang segar berturut-turut dari Lala Suwages dan Barry Likumahuwa Project, pukul 21:20 sepuluh personel band jazz legendaris ini naik panggung.

Incognito dan Indonesia sudah tidak asing lagi satu sama lainnya. Sempat beberapa kali tampil di event-event Jaz akbar seperti Jakjazz dan Java Jazz, Jean-Paul “Bluey” Maunick tidak canggung lagi menyapa “Hello, Jakarta!”. Seakan memperjelas keyakinannya bahwa penonton konser semalam berasal dari berbagai penjuru, ia menyapa juga “Mana yang datang dari Bandung? Dari Surabaya? Mungkin ada juga yang dari Medan?”.

“Tiap orang memiliki satu tahun dalam hidupnya, saat ia menentukan jalan mana yang akan ia ambil dalam hidupnya” begitu menurut Bluey. Baginya, tahun itu adalah 1975 dan akhirnya menjadi judul lagu yang mereka bawakan. Perjalanan panjang Incognito selama  32 tahun berawal di album pertama mereka di tahun 1979. Satu lagu dari album tersebut mereka bawakan semalam yakni “Parisian Girl”.

” … and representing your beautiful country Indonesia, … Dira Sugandhi” begitu frontman Jean-Paul “Bluey” Maunick memperkenalkan penyanyi Jazz perempuan yang kini semakin menanjak karir musiknya ini kepada para penonton. Di satu event JakJazz – yang tahunnya tidak berapa diingat oleh Bluey – saat Incognito pentas di atas panggung, dia melihat seorang gadis belia berdiri di tepi panggung, turut menyanyikan setiap bait lirik. “She knows the song better than us,”seloroh Bluey. Kemudian bakat Dira makin terasah. Lewat kedekatan yang makin terbangun, pada akhirnya Bluey turut memproduseri album pertama Dira “Something about the Girl”.

“This is like a big small jazz club, if you know what I mean” begitu puji Bluey melihat ribuan penonton di gedung Istora begitu mengapresiasi setiap lagu yang mereka bawakan sehingga suasana begitu intim. Bukan saat itu saja Bluey memuji penontonnya. “This is what I like about Indonesia: you love music”. Misi konser ini sangat jelas: cinta, perdamaian, kebersamaan. “Di dunia ini sudah begitu banyak bencana alam. Tapi banyak lagi bencana yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia sendiri,” begitu papar Bluey. Tapi menurut Incognito, “Don’t You Worry About A Thing”. Pesan mendalam dari lagu tersebut begitu mewujud saat Vanessa membawakannya dalam aransemen ballad dengan iringan kibor Matt Cooper. Lalu seluruh pemain kembali mengambil instrumen masing-masing, pesan yang senada seolah disampaikan lewat nomor hit mereka “Still a Friend of Mine”.

Menjelang tengah malam, suasana syahdu kemudian berganti dengan kemeriahan pesta. “Are ready to party?” teriak Bluey yang disambut dengan antusiasme penonton yang siap bergoyang. Kemudian sederetan lagu bertempo upbeat menggetarkan gedung Istora Senayan. Confetti bertaburan dan kemudian mereka siap-siap pamit ke belakang panggung. Namun teriakan “We want more!” yang berulang-ulang diseru penonton kemudian menghasilkan satu nomor encore. Mereka kembali membawakan “Don’t You Worry About A Thing” yang dibawakan dalam tempo aslinya.

Setelah ditutup dengan penampilan DJ Nino Bali dan atraksi break dance Jumpsuit Rush East, penonton yang belum ingin pulang juga masih bisa menikmati penampilan Groovebox, Sweet Potato, Gamila, Extralarge, Nubie dan Speakeasy di panggung Rising Star di lobby Istora.

Disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono Sebelum Incognito naik ke atas panggung, 10% dari tiket konser disumbangkan ke Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (Community for Children With Cancer) untuk membantuk mengurangi jumlah kasus kanker di Indonesia terutama pada anak-anak. Majalah-majalah dalam group MRA Printed Media turut serta sebagai media partner dalam konser bertema “Let’s groove, sing and share” ini.

Thankyou Incognito!

(Ghiboo)

SHARE