Sensasi Sensor Turki

0
70

.Belum lama ini pemerintah Turki melakukan atraksi yang cukup mendebarkan hati, yaitu melakukan pembatasan terhadap penggunaan beberapa kata yang dianggap “kata terlarang” di internet, plus mem-block beberapa situs yang mereka anggap kurang bagus.

Jadi misalnya saja kebetulan Anda sedang berada di Turki dan ingin menikmati sajian serta pesona lokal khas Turki. Ketika Anda kemudian memasukkan kata “Yerli” yang dalam bahasa Turki berarti “lokal” ke dalam entry, maka sim salabim, aktivitas internet Anda pun secara otomatis terhenti karena terkena sensor oleh pemerintah Turki. Selain kata “Yerli”, setidaknya ada 138 kata dan istilah  yang dilarang oleh Turkish Telecommunication Communication Presidency untuk Anda gunakan di website. Beberapa kata terlarang tersebut antara lain: 

Adrianne, Animal, Hayvan (?hewan?), Baldiz (‘saudara ipar perempuan’), Beat, Buyutucu (‘pembesar’), Ciplak (‘telanjang’), Citir (‘renyah’), Escort, etek (‘rok’), Fire, Girl, Ateşli (‘bergairah’), Frikik (‘Freekick’), Free, Gey (‘gay’), Gay, Gizli (‘rahasia’), Haydar, Hikaye, Homemade, Hot, İtiraf (‘pengakuan’), Liseli (‘siswa sekolah tinggi’), Nefes (‘nafas’), Nubile, Partner, Pic, Sarisin (‘pirang’), Sicak (‘panas’), Sisman (‘overweight’), Teen, Yasak (‘terlarang’), Yerli (‘lokal’), Yetiskin (‘dewasa’), dan masih banyak lagi…

Bayangkan… Apa kabar dengan kisah para ibu-ibu yang mencari resep di internet kalau kata Citir (‘renyah’), Fire, Homemade, dan Sicak (‘panas’) saja rawan menimbulkan sensor. Alasan resmi dari pemerintah adalah kata-kata kategori terlarang tersebut biasa digunakan di situs porno.

Selain kata-kata terlarang tersebut, pemerintah juga mem-block ribuan situs internasional, termasuk diantaranya situs YouTube (dengan alasan mengandung video yang menghina Turki), LastFM, Grooveshark, dan Blogspot (karena masalah Hak Cipta), serta situs FFFFound dan Vimeo, dan masih banyak lagi.

Sensor dan pembatasan kebebasan akses informasi di Turki inilah yang saat ini memicu Behance untuk menggelar <art href=, sebuah kontes mendesain poster bertema “Restrictions in Media and Censorship”. Untuk mengetahui detail dan informasi mengenai kontes ini, Anda dapat melihat langsung di situs berikut ini.

(Berbagai sumber)

SHARE