Pengaruh Terorisme Osama Bin Laden Terhadap Anak-Anak

0
62

.Kematian pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden, di tangan pasukan Amerika Serikat pada 1 Mei 2011 lalu ternyata membawa ingatan beberapa anak pelajar sekolah menengah – Mariah William (16), Lazaro Dubrocq (17), dan Chantal Guerrero (16) – pada saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar kelas dua, Sarasota, Florida.

Seperti diketahui, ingatan anak kecil sangatlah kuat. Saat masih di sekolah dasar, baik William maupun Dubrocq bersekolah di tempat dan kelas yang sama, yakni kelas ibu Sandra Kay Daniels, sekolah dasar Emma E. Booker. Hari itu sangat istimewa. George W. Bush yang saat itu masih menjadi Presiden negeri Paman Sam berkunjung ke sekolah mereka. Presiden bersama anak-anak yang lain membaca cerita The Pet Goat. Entah kenapa, ekspresi Bush berubah menjadi pucat, shock, terkejut, tegang, dan memerah ketika kepala staf White House saat itu, Andrew Card, datang mendekat dan berbisik di telinga sang presiden.

Ya, kala itu Selasa, 11 September 2001. Hari dan waktu yang sama dengan aksi serangan bunuh diri Al Qaeda terhadap Amerika Serikat yang ditengarai didalangi oleh Osama Bin Laden. Saat itu, 19 teroris membajak empat pesawat jet komersial. Dua pesawat pertama ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center, New York City. Pesawat ketiga menabrak The Pentagon di Arlington, Virginia, sedang yang terakhir hancur di tanah lapang dekat Shanksville, pedesaan Pennsylvania. Rencananya, pesawat tersebut akan menghancurkan Capitol Building atau White House, namun digagalkan oleh para penumpang. Tidak ada satu pun penumpang dan pelaku bunuh diri yang selamat hari itu.

Mereka memang tidak mengerti seberapa berbahayanya situasi negara mereka saat itu dan apa yang sebenarnya terjadi, namun ekspresi itu memberi tahu mereka, bahwa ada sesuatu yang buruk dan salah telah terjadi. Anak-anak itu pun bertanya-tanya dalam hati. Ketakutan, apakah mereka salah mengeja pada saat membaca bersama tadi? Semua anak yang rata-rata masih berusia 6-7 tahun tersebut merasa bingung, deg-degan, dan ikut merasa ketakutan melihat ekspresi presiden yang berubah drastis di hadapan mereka itu.

“Dalam hitungan detak jantung, dia (presiden) bersandar ke belakang dan terlihat menganga keheranan, shock, ketakutan setengah mati,” ungkap Dubrocq mengenai apa yang dilihatnya saat itu. “Aku bingung. Maksudku, apa kami salah membaca? Apa ia marah atau kecewa dengan kami?” lanjutnya lebih lanjut.

Hal serupa dinyatakan Mariah William, “Aku tidak mengingat cerita apa yang sedang kami baca – apa itu tentang babi? Tapi aku akan selalu ingat melihat wajahnya (presiden) berubah menjadi merah. Tiba-tiba dia menjadi sangat serius. Aku benar-benar tidak mengerti. Usiaku baru 7 tahun saat itu.”

Kelihatannya Bush menahan diri dan emosi agar tidak segera meninggalkan tempat dan anak-anak kecil itu begitu saja.

“Aku hanya bisa bersyukur dia tidak bangkit berdiri dan pergi, karena bila demikian aku akan menjadi lebih takut dan bingung,” tambah Chantal Guerrero. Dia lega sekali bahwa saat itu Bush bisa kembali tenang dan tetap bersama para murid hingga pembacaan cerita selesai dilakukan. Lebih lanjut Guerrero mengatakan, “Menurutku presiden waktu itu berusaha agar kami tidak mengetahui hal tersebut, supaya kami semua tidak panik dan ketakutan.”

Untunglah presiden Amerika saat itu mampu untuk ‘melindungi’ emosi anak-anak. Kini anak-anak itu merasa beruntung mereka bisa melewati masa itu dengan presiden langsung. Hal ini membuka mata mereka tentang arti ‘dunia’ yang sebenarnya. Mereka belajar dari ketenangan Bush dan mengatasi masalah jauh lebih baik dari anak-anak lain seumuran mereka yang tidak merasakan langsung hal tersebut.

(Berbagai sumber)

SHARE