Ducati Monster Jadi-Jadian

0
88

.JAKARTA – Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Ungkapan inilah yang sangat tepat buat Edi Basuki (45).

Pemilik EO (Event Organizer) ternama di Jakarta itu ngebet ingin memiliki Ducati Monster tapi tidak bisa terealisasikan. “Bukan tak mampu beli Ducati, tapi saya tahu diri badan saya pendek dan pasti berat membawanya, makanya motor yang ada saja disulap jadi motor Ducati,” buka Edi kepada Ghiboo.com dikediamannya dikawasan Ciganjur, Jakarta selatan.

Untuk mewujudkan keinginanya memiliki Monster dari Italia, Edi pun nekad merombak Honda Tiger miliknya. Bengkel modifikasi Tauco Custom (TC) dikawasan Kebagusan, Jakarta Selatan dipercaya Edi guna mewujudkan angan-angannya memiliki Ducati Monster.

Tiba di markas besar TC banyak obrolan dan tawaran konsep ubahan yang diberikan sang owner Topo Goedel Atmodjo. Mulai dari jenis motor pacuan Casey Stoner dimusim balap tahun lalu sampai ide untuk dibuat menajdi Ducati 696 terbaru. Tapi pilihan Edi tetap mengacu ke model Monster.

?Saya sudah dari dulu maniak touring dan cenderung penggila kecepatan. Makanya tipe simple dan street fighter begini yang jadi idaman saya. Kebetulan saya kenal lama sama TC karena hasil modifnya sering saya pinjam buat property iklan dan bahan bodinya plat bukan fiber,” beber Edi.

Konsep Ducati Monster tidak begitu sulit buat kru TC dalam menerapkannya ke Honda Tiger. Sebagai tahap awal, seluruh bagian motor sport Jepang ini dilucuti hampir tinggal mesin sama rangka utama saja yang tersisa.

Sebagai penopang kaki kakinya Topo memboyong segelondong suspensi Aprilia RS 125. Mulai dari shock depan, swing arm, monosok, berikut velg depan belakang dan tak ketinggalan perangkat remnya dengan mudah terpasang.

Dengan balutan ban Battlax berukuran 110/70/17 di depan dan 130/70/17 dibelakang, sangat cocok, apalagi sekarang sudah terpasang juga perangkat rem belakang bawaan Aprilia serta tampilan monosok yang menopang swing arm model banana. “Sungguh cantik terpasang,” sebut Topo.

Setelah pondasi kaki terpasang, bodi adalah proses selanjutnya. Dengan ciri khas TC, plat galvanis 0,8 mm menjadi bahan baku pokok ubahan, dari head lamp sampai buntut belakang. Dimensi dan harmonisasi bentuk terujud, dan tidak lupa satu hal yang paling menarik adalah model delta box tubular.

“ini adalah rangka tipuan, kalau aslinya Monster atau jenis Ducati yang lain adalah rangka asli. Kami tetap mempertahankan main frame atau rangka utama Honda Tiger, modelnya macam delta box, yang cara bikinnya pakai pipa seamless ukuran 1/4 dim dan pasangnya ditempel dan terikat baut. Jadi sistem knock down atau bongkar pasang,? terang modifikator asli Sragen, Jawa Tengah ini.

Untuk lampu depan Topo masih pakai bawaan Tiger yang dibungkus dengan bodi macam visor berikut kaca windsilnya. Sementara buat stoplamp dipilih copotan dari Suzuki Thunder 125 yang terpasang rapi diburitan belakang. Tapi sebelumnya kru TC membentuk rangka belakang atau sub frame untuk mencari dimensi yang pas.

Stang jenis fatbar, footpag Yamaha V-ixion, dan model jok menjadi pertimbangan akhir Topo, untuk mengejar kenyamanan. “Pak Edi tinggi badannya 165 cm, agak susah untuk menyesuaikan, makanya tiga hal tadi saya jadikan segitiga kenyamanan,? lanjut Topo.

Setelah didapat ramuan yang pas, maka pilihan kelir merah striping putihmengentalkan identitas dari Ducati. Tapi rasanya kurang gahar kalau tampang sudah gagah tapi mesin standart. Karena itulah Topo memberikan ubahan di penggantian cdi dengan model racing, porting polish, tak lupa knalpot diganti dengan Kwangen Custom Products.

Jenis trioval yang sengaja dibikin merupakan inovasi dari Topo. “Sengaja dipilih model lain biar tidak terlalu meniru banget,” tutup Topo mengomentari karyanya.

(Ghiboo)

SHARE