Fira Basuki : Dilukis Jeihan!

0
82

.Saya tidak pernah lupa Sabtu sore di awal April itu. Jeihan, pelukis Indonesia yang namanya sudah mendunia, melukis saya. Mengapa saya? “Saya selalu tertarik dengan perempuan yang berkarakter,” ujar beliau ketika pertama kali menghubungi saya. Tanpa berpikir dua kali, merasa tersanjung saya mengiyakan, bahkan sebuah kehormatan. Siapa pencinta seni, terutama lukisan, yang tak mengenal nama Jeihan?

Bertempat di studionya di Padasuka, Bandung, Jeihan memulai tahap pelukisan mengobrol dengan saya. “Lukisan itu memang benar mencerminkan status sosial seseorang. Apakah ia memasang lukisan yang dibelinya dari pinggir jalan, atau sebaliknya membelinya di lelang eksklusif,” ujarnya.

Walau menghasilkan banyak karya lukisan berbagai tema bahkan juga karya seni lain seperti patung, namun Jeihan paling dikenal dengan lukisan perempuan bermata hitamnya. Namun sejalan waktu, Jeihan juga ingin dikenal sebagai filsuf. Seperti ketika saya terpana masih tidak percaya sungguh saya akan dilukis Jeihan (bahkan bukan cuma satu tapi dua kali, karena satu lukisan close-up wajah saya nantinya akan diberikan ke saya). Bayangkan, studio Jeihan penuh dengan lukisan para perempuan hebat dari berbagai negara, di antaranya banyak istri duta besar negara asing. Jeihan menangkap kebingungan saya dan berujar, “Kalau sesuatu terjadi tidak masuk akal pikiranmu lagi, itu namanya takdir, Fira.”

Setelah mengobrol Jeihan membuat dua sketsa, wajah saya secara close up dan seluruh tubuh. Lalu beliau mengeluarkan kamera digital kecil dari kantong celananya dan meminta saya berpose. Beberapa jepretan diambilnya dengan berbagai angle dan lokasi. Kami berkeliling studio, hingga ke tingkat tiga studionya.
 
Lalu saya disuruh duduk di bangku kayu panjang di tengah-tengah studio di lantai satu. Jeihan meminta para asistennya menyiapkan alat dan kanvas berukuran kecil. Beliau menatap mata saya tajam-tajam dan tersenyum sambil manggut-manggut. Setelah seluruh peralatan siap, Jeihan berhenti bersuara dan mulai mengayunkan tangan kanannya. Kuas dicelupkan ke kaleng-kaleng cat minyak. Saya deg-degan. Singkatnya, setelah kurang dari satu jam ia menghela napas. “Sini, boleh lihat!”
   
Cepatnya! Dan ketika saya melihat hasilnya?…Speechless! Bukan sekadar kata “bagus” tapi hm…hm…apa ya? Ada daya magis di sana.
 
Lukisan wajah saya close-up dengan mata hitam. Saya merinding. “Ini buat kamu nanti. Kamu bawa pulang. Cat minyak itu membawa aura manusia. Jiwa saya di lukisan ini,” ujar Jeihan. Konon lukisan Jeihan dihargai minimalnya 50 juta rupiah (Jeihan terkekeh saat saya tanya, katanya bahkan lebih-batas minimalnya tidak segitu lagi). Tapi bukan masalah harga dan investasi-karena saya berjanji ke diri sendiri tidak mau menjualnya, namun kesempatan atau privilege untuk dilukis seorang maestro seperti Jeihan.
 
Jeihan bercerita kini ketika sore ia melambat karena kondisi kesehatannya yang memiliki ginjal baru. Ginjalnya berharga milyaran, dengan uang pengobatan rutin yang ratusan juta, bahkan setiap hari ia menelan pil untuk seumur hidup yang harganya jutaan. “Saya berharga ‘mahal’, tapi saya kaya, Fira, hahaha. Gak pa-pa lagipula rambut saya menghitam dan bintik-bintik hitam di kulit saya memudar karena donor ginjalnya cocok,” ujarnya terkekeh.

Saya terharu. Langit memerah, senja menjingga terlihat jelas karena kaca-kaca lebar di studionya menghadap mentari undur diri. Sambil selonjor Jeihan mengatur napasnya. Walau kecapaian Jeihan berkata ia akan menyelesaikan satu lukisan besar saya, kali ini dengan acrylic. “Lukisan ini akan saya pamerkan mungkin Juli mendatang di Jakarta. Semoga SBY datang,” ujarnya.

Luar biasa. Tangannya seakan memiliki otak sendiri yang bergerak dengan cepat secara menakjubkan, menghasilkan karya-karya masterpieces. Lukisan kedua saya pun diselesaikan Jeihan dalam waktu kurang dari satu jam. Dengan kanvas berukuran raksasa, bahkan setinggi saya.
 
Saya terharu. Masih tidak habis pikir, siapa saya, kenapa Jeihan mau melukis saya? Jeihan menatap saya dan menyemangati agar saya terus menulis, karena itulah ia mengenal saya. “Jangan takut menjadi besar, takutlah untuk tidak menjadi apa-apa,” tambahnya lagi.

Jeihan menyemangati saya untuk menjadi seorang sastrawan yang ‘besar’. Jeihan bersahabat dengan seorang penyair senior Sapardi Djoko Damono sejak masa muda. Bahkan Jeihan sendiri juga dikenal juga sebagai penyair ‘mbeling’, karena puisi-puisinya yang ‘tidak lazim’, misal menuliskan deretan angka-angka dan bentuk. Seperti puisinya Buat Kau D. Sudiana (Jeihan, 1969):

0123456789
bulan kehilangan magis
ABCDEFGHI
      JKLMNOPQR
    STUVWXYZ
manusia kehilangan diri
    hitam-putih hitam-putih
      hitam-putih hitam-putih
    dunia kehilangan warna

(Terima kasih banyak, Jeihan.)

Fira Basuki

SHARE