Ragam Batik Corak Kerajaan

0
183
Kegiatan membatik

Corak Parang Barong [parang yang besar-besar] merupakan kain sakral. 

Batik (Photo by: Bayu Herdianto)
Batik (Photo by: Bayu Herdianto)

Teks @innesspw
Foto @bayuherdianto88

Ghiboo.com – ​Batik adalah kesenian gambar di atas kain yang dijadikan pakaian dan menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia sejak zaman dulu.

Tak ada yang tahu persis muasal sejarah batik di Jawa bermula. Tapi dilihat dari peninggalan motif-motif candi, diperkirakan sejak abad ke-9, batik sudah ada.

Hingga kini, asal mula batik yang diyakini berasal dari kraton dan dipakai untuk kalangan sendiri juga masih diperdebatkan. Mengingat rakyat biasa juga ada yang mengenakan batik.

Kondisi ini membuat Ghiboo penasaran dan ingin lebih banyak tahu seputar batik kerajaan. Gian Hawk, Staf Koleksi dan Pameran Museum Tekstil Jakarta, menyambut ramah.

Pria yang dulunya bekerja di bidang IT ini rela meninggalkan pekerjaannya dan mengabdikan dirinya untuk batik karena kecintaannya terhadap seni itu. Dari sini Gian banyak bercerita seputar batik.

Menurutnya, ada corak tertentu yang dikhususkan bagi kerajaan untuk menunjukkan status sosial, salah satunya corak Parang Barong.

Corak Parang Barong [parang yang besar-besar] merupakan kain sakral yang hanya diperbolehkan dipakai para pemimpin kerajaan di Solo dan Yogyakarta. Corak Parang Barong menggambarkan kekuasaan dan kekuatan. Putri dan rakyat jelata dilarang mengenakannya.

“Bila ada rakyat biasa kedapatan oleh Sultan memakai batik corak Parang Barong di jalan, maka dia bisa diusir. Jadi jika Anda ke kraton, sebaiknya hindari memakai pakaian-pakaian yang dilarang di sana. Kalaupun mau pakai batik, pilihlah corak biasa,” jelas Gian bersemangat.

Meskipun begitu, Gian tak menampik jika di masa kini, batik boleh dipakai siapa saja tanpa mengenal status sosial. Corak Parang Barong pun kini sudah banyak dijadikan pakaian sehari-hari hingga aksesoris.

Corak batik Yogyakarta dan Solo selalu berpola geometris karena adanya pengaruh agama Hindu. Tentu karena batik berkembang di zaman kerajaan-kerajaan Hindu.

“Kalau diperhatikan di kraton atau candi, corak Kawung pasti ada di candi-candi Hindu,” tambah Gian.

Yang membedakan antara corak batik Solo dan Yogyakarta adalah dari segi warna. Batik Solo identik dengan soga, warna cokelat kekuningan yang berasal dari pewarna alami dari batang kayu pohon soga tingi, sedangkan Yogyakarta lebih didominasi latar putih.

Selain Solo dan Yogyakarta, ada satu lagi corak kerajaan yang cukup terkenal dan mudah diidentifikasi, yaitu corak Paksi Naga Liman yang berasal dari Kraton Cirebon. Corak batik Paksi Naga Liman mendeskripsikan kereta kencana raja Cirebon yang terdiri dari tiga hewan sakral, yaitu: Paksi [burung phoenix], Naga, dan Liman [gajah].

Adakah corak kerajaan lain?
Batik tak hanya ada di Jawa tapi juga di Sumatera. Gian menunjukkan sebuah kain batik dengan corak yang agak tidak biasa. Namanya batik Besure.

Yang menjadi ciri khas batik Besure adalah penggunaan bahasa Arab dalam motifnya. Tetapi aksara tersebut tidak bisa diartikan secara lisan karena memiliki makna sakral.

“Batik Besure tidak boleh dijadikan baju. Pada zaman kerajaan Islam di Bengkulu, batik Besure dipakai sebagai tatakan al-Quran atau ikat kepala. Bahkan dijadikan selendang karena ketika dinilai dari sisi agama dapat sebagai pelindung atau jimat,” tutup Gian.

SHARE