Senjata dan Bahan Membatik

0
630

Malam atau lilin batik adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik.

Ibu Ani Yudhoyono dalam kegiatan membatik
Ibu Ani Yudhoyono dalam kegiatan membatik

Teks @ghewakary
Foto Courtesy of Kepresidenan RI dan ITB.com

Ghiboo.com – Bagi Tumbu Ramelan, batik bukan hanya sekedar fashion semata, melainkan bagian dari sejarah indahnya kekhasan dan ragam budaya di Indonesia.

Tak heran, mantan dokter ini begitu antusias mengajak Ghiboo untuk berkeliling di Galeri Batik di Museum Tekstil Jakarta, beberapa waktu lalu. Tampak bersemangat, Tumbu memperlihatkan ragam dan motif batik yang menjadi andalannya, serta beberapa alat dan bahan utama yang digunakan untuk menciptakan sebuah kain menjadi batik.

“Jika Anda sudah bisa membedakan batik dan tekstil bermotif batik, tidak akan lengkap pengetahuan Anda tentang batik, jika tidak mengetahui alat dan bahan yang digunakan untuk membuat batik,” tutur wanita yang menjabat sebagai Kepala Galeri Batik di Museum Tekstil Jakarta ini.

Dan lagi-lagi, istri mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia di Kabinet Reformasi Pembangunan, Rahardi Ramelan ini kembali mengingatkan tentang arti batik yang sebenarnya.

“Batik asal katanya memang dari amba dan nitik. Namun batik sebenarnya adalah proses pembuatan sebuah kain menjadi sebuah kain yang bermotif yang kemudian disebut kain batik. Prosesnya seperti apa? Ini dia yang akan kita lihat,” kata Tumbu lagi sambil menghentikan langkah Ghiboo, dan merujuk pada sebuah galeri kaca mungil yang menyimpan beberapa alat membatik yang lengkap.

Ngebatik 2
Alat yang tidak kalah penting dalam membatik adalah canting

Mulailah wanita paruh baya yang masih terlihat enerjik ini, menjelaskan satu persatu alat dan bahan yang digunakan untuk menciptakan sebuah kain batik yang indah dan unik.

Ada berbagai teknik dalam membatik yaitu batik tulis, batik cap, kombinasi batik tulis dan batik cap. Batik tulis adalah seni melukis dengan tangan, menggunakan canting dan hati. Setiap goresan bersambungan erat dengan hati sanubari sang pembatiknya. Dan proses ini dimulai dengan dengan menyiapkan gawangan, bandul, dan wajan, terang Tumbu.

Gawangan adalah alat bantu yang dipakai untuk menyangkutkan dan membentangkan kain saat dibatik. Desain gawangan dibuat simpel, ringan, dan kuat agar mudah dipindah-pindah. Bahannya terbuat dari dari kayu, atau bambu.

Bandul juga termasuk alat bantu para pembatik tulis. Terbuat dari timah, atau kayu, atau batu yang dikantongi, fungsi bandul untuk menahan kain yang sedang dibatik agar tidak mudah tergesar tertiup angin, atau karena tarikan si pembatik secara tidak sengaja.

Untuk mendapatkan hasil yang baik saat membatik maka dibutuhkan juga wajan. Karena alat ini digunakan untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat.

Dan tidak akan lengkap kehadiran wajan tanpa kompor, karena kompor amat penting kehadirannya untuk seorang membatik, untuk membuat panas pada wajan yang isinya malam.

Kegiatan membatik menggunakan canting
Kegiatan membatik menggunakan canting

Alat yang tidak kalah penting dalam membatik adalah canting. Alat ini dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan malam panas. Canting terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan lilin.

Kemudian bahan yang tidak kalah pentingnya dalam proses membatik adalah kain mori dan malam atau lilin batik. Menurut Tumbu, sejak dahulu, kain mori merupakan bahan utama untuk membatik. Kualitas kain mori bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan.

Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Jenis kain mori yang dipakai untuk membatik adalah: kain primissima [terbaik], prima [sedang], belacu [rendah], belacu abu-abu [buruk].

Malam atau lilin batik adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis [hilang], karena akhirnya diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam atau lilin biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorodan.

Kita juga bisa membuat malam sendiri. Bahan-bahan yang digunakan gondorukem [sejenis resin dari pohon cemara], microwax, lemak binatang, lilin kote [dari sarang tawon], parafin, mata kucing [sejenis tanaman], lilin gladagan [malam hasil daur ulang dari proses nglorod]. Malam mudah didapatkan di pasar tradisional. Komposisi malam bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lainnya.

Dibutuhkan juga pewarna batik, biasanya pewarna yang digunakan adalah warna alam dan warna sintetis. Zat warna alam berupa kulit kayu tingi, kulit kayu tegeran, kayu nangka, daun alpukat, dan lain sebagainya.

“Harapan saya, batik makin lebih dicintai dan para pembatik di daerah akan terus mendapat perhatian dari pemerintah,” tutup Tumbu, yang hingga kini masih terus melakukan pencarian terhadap beberapa kain batik kuno. Pasalnya, warisan budaya seni tingkat tinggi pada zaman dahulu itu diduga sebagian sudah berada di luar negeri. Tumbu dan kawan-kawannya berencana untuk membawa kain-kain itu kembali ke Indonesia, dan menjadi koleksi Museum Tekstil Jakarta.

Nah, bisa Anda bayangkan, proses panjang yang luar biasa untuk mendapatkan sebuah kain batik. Memang, alat dan bahannya sepintas terlihat mudah didapat. Namun, untuk mendapatkan alat dan bahan tersebut juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk itu, mari kita beri apresasi khusus untuk batik dan para pembatik itu. «

SHARE