Edward Hutabarat dari Cinta Tercipta Karya

0
268
Edward Hutabarat

“Batik itu harus dibikin simpel, karena dia harus ditambah dengan yang lain.”

Edward Hutabarat
Edward Hutabarat

Teks @bartno
Foto Chicmagz.com

Ghiboo.com – Jika nama desainer Edward Hutabarat disebut, maka pikiran kebanyakan orang akan langsung berkolerasi dengan busana nasional. Edo –sapaan akrabnya– lahir di Tarutung, Sumatera Utara, 31 Agustus 1958, merupakan pakar batik Indonesia.

Jebolan lomba Perancang Mode Indonesia tahun 1980 ini memulai eksplorasi batik ketika ia berada di Jambi pada tahun 1991. Gubernur Jambi saat itu, Sayuti, melalui kakaknya, meminta Edo mengembangkan batik dan songket Jambi.

“Saya melihatnya dan langsung tertarik,” tutur Edo kepada Eve Indonesia. Katanya, secara tradisional, batik biasa digunakan sebagai jarit [kain panjang] yang bersanding dengan kebaya. Saat itu, impiannya adalah membuat batik sebagai bintang utama busana.

Selama lima tahun, Edo melakukan riset mengenai batik di beberapa kota seperti di Yogyakarta, Solo, dan Cirebon. Semua didasari kecintaannya terhadap tradisi Indonesia.

Meski awalnya tak tahu mau bikin apa saat melakukan riset, namun lambat laun kegiatan yang didasari cinta ini menuntunnya memahami arti suatu kain, bisa diapakan saja, bagaimana memperlakukannya, dan keanggunan seperti apa yang akan ditampilkan.

Melalui penjelajahannya selama ini, Edo menggambarkan, “Passion mereka [para pengrajin batik] bagaimana mereka mengontribusikan dan mempertahankan budaya itu, tapi mereka hidup sangat sederhana dan mereka menghadapinya dengan senyum,” [dalam wawancara untuk program teve One Fine Day di salah satu stasiun televisi nasional].

Karena itu satu kain batik wajar mendapatkan nilai yang tinggi. “Bagi saya, kain batik tertentu terbilang murah dengan harga 3 juta rupiah. Bayangkan saja, lama dan rumit proses pembuatan batik Gentongan. Paling tidak butuh 6 bulan untuk membuat corak, mewarnainya, dan menghilangkan lilinnya dalam air panas. Jadi dapatkah kita kalkulasikan berapa rupiah pembuat batik terima setiap bulannya?” ucapnya kepada Jakarta Post, beberapa waktu lalu.

“Batik itu,” kata Edo, “harus di-combined dengan barang-barang impor supaya dia global. Saya ingin sekali mengatakan kepada dunia, pilihan adalah batik, karena dia bukan print. Cara pembuatan batik inilah yang saya rasa sangat istimewa,” terangnya lagi pada program One Fine Day itu. Posisi batik, ada di atas brand internasional itu, karena proses pembuatannya. “The modern batik when the less is more,” sambungnya lagi.

Edo menambahkan, “Batik itu harus dibikin simpel, karena dia harus

ditambah dengan yang lain. Jadi PD saja dengan batik itu, biarkan demikian,

tunjukan keindahan batiknya, karena dia sudah istimewa.”

Sejalan dengan visinya itu, selain telah beberapa kali menggelar pagelaran busana batik karyanya, pada tahun 2006, Edo membuka butik Part One yang merupakan galeri busana batik yang mampu dipadu-padankan dengan merk busana dan aksesori internasional.

Sekarang batik sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia. Bukan hanya itu, keindahannya pun sudah menyebar ke seluruh dunia. “Sekarang rasa bangga tidak hanya bisa kita tuturkan, tapi memang harus direfleksikan melalui keikutsertaan kita untuk melihat, mencintai, mendalami, menekuni, dan mengembangkan batik,” pungkasnya. «

SHARE