Tumbu Ramelan Ditaklukkan Batik Kuno

0
631
Tumbu Ramelan

Tumbu Ramelan cemas dengan kondisi batik kuno.

Tumbu Ramelan 2
Tumbu Ramelan mengaku ia tak segan memburu batik hingga ke pelosok Jawa.

Teks @ghewakary
Foto @BayuHerdianto88

Ghiboo.com – MATAHARI MERANGKAK KIAN TINGGI, pada akhir pekan lalu. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 10.50 WIB. Artinya, saya masih memiliki waktu 10 menit lagi sebelum memulai agenda utama saya bertemu Tumbu Ramelan, salah satu kolektor sekaligus pakar batik Indonesia di Museum Tekstil Jakarta.

“Saya memang selalu meluangkan waktu setiap pekan untuk ke Galeri Batik yang ada di museum ini. Rasanya tak pernah bosan melihat keelokan kain-kain ini,” tutur wanita parobaya yang masih terlihat enerjik ini, saat menjabat erat tangan saya.

Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, istri mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia ke-26 ini langsung membuka percakapan dengan cerita singkat tentang kecintaan awalnya pada kain batik.

“Pernah merasakan jatuh cinta, kan? Mata kita tidak akan melihat yang lain, kecuali pada satu yang kita cintai. Nah perasaan itulah yang terjadi saat saya melihat selembar kain batik, hadiah untuk perkawinan saya. Saya jatuh cinta pada kain itu,” kata Tumbu sambil sesekali matanya terlihat menerawang.

Menurut dokter spesialis anestesi lulusan Rusia ini, ia besar dan hidup sebagai keluarga Jawa yang begitu menghargai adat dan budaya Jawa. Mau tidak mau kondisi itu membuatnya mengenal dengan baik si batik.

Tumbu Ramelan 4
Tumbu Ramelan memperlihatkan halaman demi halaman bukunya berjudul The 20th Century Batik Masterpieces kepada Ghiboo.

Namun chemistry pada kain indah ini, nanti dirasakannya saat ia dan suami membuka hadiah tangan dari salah satu kerabatnya di hari pernikahannya, 44 tahun silam. Kain batik dengan motif yang sangat Jawa tersebut, terlihat di mata Tumbu begitu cantik dan memukau. Kain batik hadiah itu ternyata juga adalah sebuah kain batik kuno asal Yogyakarta, yang hanya diperuntukkan bagi para mempelai serta dikhususkan sebagai doa restu keluarga.

Dari situlah hasrat untuk memiliki kain batik dari wanita yang masih berdarah biru keturunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini kian menggebu. Ia tak segan memburu batik hingga ke pelosok Jawa.

“Suami saya sangat mendukung hobi ini. Namun ia sering protes jika proses pemeliharaan kain batik saya dimulai. Rumah kami terlihat mulai tidak mampu menampung batik-batik indah itu,” ucap Tumbu yang hingga kini masih dipercaya sebagai Kepala Galeri Batik di Museum Tekstil Jakarta ini, sambil tertawa lepas, sambil mengajak Ghiboo berkeliling di Galeri Batik.

Rahardi Ramelan, sang suami, disebut Tumbu akan kelabakan dengan kain-kain indah koleksinya tersebut, saat ia melakukan ritual bulanan untuk pemeliharaan, yang memang digelar di beberapa ruang utama dalam rumah mereka. Dan karena hal ini juga, mantan menteri di era Presiden BJ Habibie ini meminta Tumbu untuk mendonasikan sebagian koleksinya ke Museum Tekstil. “’Agar rumah masih bernafas’, kata suami saya seperti itu,” tambahnya.

Membuat Buku tentang Batik

Kecanduannya terhadap pesona batik Kuno Indonesia membuat wanita yang tetap terlihat memesona inipun memutuskan untuk membuat sebuah buku tentang batik.

Maklum saja, koleksi kain batik kuno Tumbu yang kini mencapai angka 700-an ini, membuatnya harus menghafal di luar kepala tentang makna dan arti motif dari batik-batik kuno yang ditemuinya mulai tahun ’70-an lalu.

“Batik-batik indah ini perlu disosialisasikan. Sayang jika hanya segelintir orang saja yang tahu. Untuk itu saya pun membuat bukunya dengan judul, The 20th Century Batik Masterpieces, yang isinya mulai dari asal usul, motif, ragam, dan penjelasan tentang keberadaan batik-batik kuno tersebut,” terangnya.

Tumbu Ramelan 3
Buku The 20th Century Batik Masterpieces berisia sal usul, motif, ragam, dan penjelasan tentang keberadaan batik-batik kuno.

Dengan menggunakan dwibahasa Indonesia dan Inggris, Tumbu membagi bukunya dalam lima bab, yaitu “Batik from Java”, “Batik from West Java”, “Batik from Central Java”, “Batik from East Java”, dan “Batik from Sumatera”. Tentu saja, penjelasan terbanyak ada di bab tiga, Batik dari Jawa Tengah.

Foto-foto koleksi batik dari berbagai daerah di buku itu antara lain adalah hasil jepretan sang suami tercinta. Di setiap foto tercantum penjelasan terperinci tentang asal batik, motif, teknik, bahan, cara pewarnaan, tahun pembuatan, hingga ukuran. Penjelasan ini membantu pembaca lebih memahami karakteristik setiap batik.

Pada bab satu, Tumbu secara komprehensif menjelaskan sejarah batik di Jawa. Tulisannya yang informatif membantu pembaca memiliki pengertian tentang batik tanpa merasa digurui.

Ia, misalnya, dengan fasih menjelaskan karakteristik batik Pasundan yang didominasi warna krem, hijau muda, dan merah muda. Begitu juga dengan perbedaan motif batik di Jawa Barat, seperti batik Garut yang dikenal dengan motif Tapak Kebo atau motif batik Indramayu.

Tumbu juga menjelaskan keistimewaan tiap-tiap jenis batik di Jawa Timur. Misalnya batik Tuban yang memiliki keistimewaan dalam proses pembuatannya. Atau batik Tulung Agung, yang merupakan perpaduan batik Solo dan Yogya dengan motif Lereng, Truntum, dan Gringsing dengan hiasan buketan dan burung merak.

Buku ini ditutup dengan penjelasan soal batik dari Sumatera, seperti Bengkulu, Jambi, dan Palembang. Menurut dia, batik di tiga provinsi di Sumatera ini berasal dari para pedagang asal Jawa.

Perlu diketahui juga, buku dengan hardcover yang begitu indah ini, adalah buku yang benar-benar semuanya diproduksi dan dibuat dengan uang pribadinya, tanpa bantuan siapapun. Buku ini sendiri masih bisa ditemui di beberapa toko buku elit di Jakarta, dengan harga sekitar Rp 300.000.

Tumbu Ramelan 5
Tumbu cemas kini banyak bertebaran kain tekstil bermotif batik.

Cemas Keberadaan Batik Kuno

Walau batik kini makin digemari dan dicintai, namun ada hal lain yang membuat Tumbu cemas dengan keberadaan batik kuno.

“Kini banyak bertebaran kain tekstil bermotif batik dan batik-batik dengan motif yang modern. Ini pula yang mungkin membuat keberadaan batik-batik kuno sedikit terpinggirkan. Saya cemas,” aku Tumbu dengan tatapan nanar.

Kecemasan Tumbu ini didasari oleh hilangnya sebagian besar kain-kain batik kuno dari Indonesia. Keberadaan batik-batik yang sarat makna ini, diduga Tumbu telah dimiliki oleh kolektor kain di luar negeri.

“Jika sudah seperti ini, kan sangat disayangkan. Karena batik kuno milik kita akhirnya tidak bisa kita lihat dan nikmati. Untuk itu saya dan beberapa teman terus melakukan penjajakan agar batik kuno yang ada di luar negeri, bisa kembali lagi ke Indonesia, sebagai koleksi Indonesia,” jelasnya.

Bagi Tumbu, batik kuno yang dimiliki Indonesia amat sarat dengan sejarah dan disebut sebagai kain sejarah karena asal dan tahunnya kebanyakan berasal dari abad ke-18.

Sebelum mengakhiri bincang-bincangnya dengan Ghiboo, Tumbu juga berharap keinginannya untuk membawa kembali batik-batik kuno ke Indonesia mendapat support dari pemerintah dan para pencinta batik. Anda kah salah satunya? «

SHARE