The Silent Hero

0
307

Beban mereka, tak bisa dianggap enteng. 

 

Image 1

 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.”

— Soekarno

 ____________________ Page 1 0f 7 ____________________

Teks & Foto:[email protected] | @boyMALI | @dont_d4 | @haabibonta

YA, SETUJU SANGAT. Tapi kalau memang bangsa itu benar-benar punya pahlawan. Atau setidaknya, seseorang atau sekelompok orang, yang mereka anggap sebagai pahlawan. Atau paling tidak, orang-orang yang benar-benar punya jasa bagi bangsa itu.

Pernyataan itu terdengar sinis, ya. Tapi untuk sebuah bangsa yang kerap mengalami krisis kepribadian –karena gempuran efek globalisasi, misalnya– kadang kita lupa, bahwa kehidupan yang sekarang kita rasakan kini, adalah juga berkat usaha keras para pendahulu dan para bapak [juga ibu] bangsa ini. Mereka adalah pejuang yang lebih sering ‘hanya memberi tak harap kembali’.

Guru sering diidentikkan dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Mengapa demikian? Karena lewat jerih payah mereka, sebuah bangsa bisa tercerdaskan. Merekalah ‘pelita dalam kegelapan’ yang –sayangnya– nasibnya acap terlupakan.

Meski sering tak dianggap punya jasa besar, faktanya, karena merekalah kita bisa ikut mengenyam pendidikan, dan merasakan peningkatan kualitas hidup seperti sekarang. Beban mereka, tak bisa dianggap enteng. Bukan hanya sebagai pendidik, para guru juga dituntut untuk bisa menjadi pengayom, pembimbing, dan bahkan bertindak sebagai orangtua kita di sekolah, formal ataupun tak formal.

Di antara barisan para ‘embun penyejuk dalam kehausan’ ini, ada satu profesi yang boleh dibilang, punya beban lebih berat. Merekalah para guru bagi murid-murid berkebutuhan khusus. Sekolah Luar Biasa dan sekolah khusus bagi para penyandang kelainan yang membutuhkan perhatian khusus menjadi sorotan Ghiboo di G-Spot kali ini.

Walau punya banyak kegelisahan dan kepiluan dalam menjalani kehidupan sebagai guru, suara mereka kerap tercekat di kerongkongan. Mereka lebih berkonsentrasi kepada kemajuan para anak didik. Merekalah THE SILENT HERO.

 __________________________________________________________________________________

The biggest problem of Multiple Disabilities in Asia is TEACHER. Teacher is the biggest hope of children with Multiple Disabilities 

– Namita Jacob

Ibu Risnah
Kegiatan Risnah di dalam kelas 5 tuna rungu SLBN 5 Jakarta.

NAMANYA RISNAH, seorang perempuan biasa yang tinggal di bilangan Ciledug, Selatan Jakarta. Ia tidak terkenal. Tidak memiliki lukisan wajah dengan bingkai apik yang menggantung di atas papan tulis sekolah. Atau memiliki cetakan wajah di lembaran uang kertas yang kita pegang. Wajar jika tak banyak yang tahu tentang perempuan itu. Karena memang sekilas, tak ada yang benar-benar istimewa darinya, sampai kita ikut ke dalam kegiatannya sehari-hari.

Siang itu, Risnah masuk ke ruang kelas untuk mengajar. Ya, Risnah adalah seorang guru. Di hadapannya sejumlah murid sudah duduk dengan rapi menunggunya memberikan pelajaran yang siap mereka serap.

Selama lima tahun terakhir, setiap hari Risnah mengajarkan anak-anak itu berbicara. Tapi tak kunjung ada yang bisa bicara secara normal. Jangankan bicara, melafalkan nama “Risnah” saja mereka masih sering terbata-bata. Maklum saja, murid-murid Risnah adalah penyandang tunawicara. Mereka lebih fasih jika harus menggunakan isyarat tangan untuk semua hal yang ingin mereka katakan kepada Risnah.

quote risnahRisnah memang seorang guru luar biasa bagi anak-anak luar biasa.

“Ya, begini aktivitas saya setiap hari. Mengajar anak-anak itu pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan yang lainnya,” kata Risnah.

Kompatriotnya, Wulan Aggraeni, juga memiliki aktivitas yang sama. Mengajar anak-anak luar biasa setiap hari. Seperti juga Risnah, tak ada yang ‘melihat’ dia selama ini. Padahal mereka adalah murid-murid yang ia temui di kelas. Tak satupun yang melihatnya.

“Saya guru untuk anak-anak tunanetra di sini,” tutur Wulan saat memperkenalkan diri kepada Ghiboo.

Risnah dan Wulan adalah dua guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri [SLBN] 5 Jakarta. Sekolah mereka berada tepat di belakang Kantor Lurah Slipi, Jakarta Pusat. Agak sulit menemukannya karena berada di dalam gang. Beberapa orang yang kami temui, tak bisa memberi petunjuk letak sekolah ini. Beruntung ada tukang ojek, yang memberi arahan kepada Ghiboo. Tukang ojek itu bilang, sering mengantar seorang anak yang bersekolah SLBN 5.

Sekolah ini sedang dipugar. Jadi ada banyak puing berserakan. Bambu-bambu melintang. Tumpukan pasir. Gundukan batu bata. Ruangan guru pun berantakan. Ada banyak sarana yang diamankan. Buku, kompor, hingga ring basket, terserak di situ. Beruntung sekolah ini berdekatan dengan Sekolah Dasar Negeri 18 Pagi. Proses mengajar SLBN 5 untuk sementara diungsikan ke sekolah tetangga itu. Anak-anak yang semula masuk pukul 06.30 sampai pukul 15.00, kini berubah dari jam 12.30 hingga jam 17.30.

Meski harus pulang petang, guru-guru di SLBN 5 tidak merasa keberatan. Mereka mafhum, setelah ini, kondisi sekolah mereka akan jauh lebih baik dari sebelumnya untuk para murid.

Risnah dan Wulan memang berada di bawah atap yang sama. Tapi tidak demikian dengan honor yang mereka terima. Risnah sudah lebih beruntung. Tiga tahun lalu, angin segar menyapanya, saat Dinas Pendidikan mengangkat Risnah menjadi PNS.

“Baru tahun 2010 saya diangkat jadi PNS, lalu dipindahkan ke sini,” tutur ibu dua anak ini sumringah.

Perlu banyak kesabaran serta waktu panjang bagi Risnah untuk bisa menjadi PNS. Beberapa kali mencoba, ia tak juga diterima. Belum saatnya, dia bilang.

Detail-detailSemua berawal dari tanah kelahiran Risnah di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Tahun 1991 jadi awal karirnya sebagai pengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Saat itu laju perekonomian Indonesia sedang dalam masa jaya, karena PELITA V berjalan mulus. Dapur bisa mengebul hanya dengan uang seribu rupiah.

“Wah, dulu waktu di Dompu, saya digaji 42.000 per tiga bulan. Dan itu udah gede banget,” ujarnya penuh semangat

Risnah menetap hanya untuk dua tahun saja. Tahun 1993, dia memilih untuk hijrah ke Jakarta. Mencoba peruntungan yang lebih baik, pikirnya. Saat itu ia baru berumur 23 tahun ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibukota.

Dewi Fortuna sedang menghampirinya, Risnah tak perlu waktu lama untuk mendapat pekerjaan. Bekalnya sebagai guru di Dompu, dapat terpakai di ibukota. Risnah kembali menjadi guru di Sekolah Swasta Kuntum Mekar. Tugas yang ia jalani pun tetap sama, menjadi pengajar bagi anak-anak berkubutuhan khusus. Soal gaji, ia juga mengaku senang dibayar 50 ribu per bulan. Jauh lebih banyak dari honornya ketika masih di Dompu.

wulan copy
Wulan Anggraeni, guru SLBN 5 Jakarta.

1
2
3
4
5
6
7
SHARE