Satu Iklan, 125 Juta Rupiah

0
300

Facial coding memungkinkan kita membandingkan perubahan emosi dan keterlibatan penonton dengan membandingkan frekuensi, intensitas, dan waktu ekspresi.

ilustrasi facial coding
Ilustrasi

Teks @ratihwinanti
Foto Courtesy of sxc.hu

[dropcap style=’square’]V[/dropcap]IDEO PRESENTASI DIPUTAR. Terlihat ada tiga orang secara bergantian tengah menonton sebuah iklan sabun pembersih wajah. Ketika diperhatikan, ketiga kaum hawa itu menunjukan ekspresi yang berbeda kala menyaksikan iklan di monitor besar.

Mereka ada yang tersenyum, mengerutkan dahi dan menunjukan ekspresi kebingungan. Raut wajah mereka terekam webcam yang dipasang di depan monitor. Kemudian dengan menggunakan teknologi facial coding, kita jadi tahu respon penonton terhadap sebuah iklan.

Facial coding memungkinkan kita membandingkan perubahan emosi dan keterlibatan penonton dengan membandingkan frekuensi, intensitas, dan waktu ekspresi – saat menonton pertama kali dengan menonton berikutnya. Hal tersebut dapat menggambarkan isu-isu penting seperti komprehensif dan kelayakan tayang.

Masih bingung? Jadi teknologi facial coding ini dilakukan dengan cara mengumpulkan 100 sampai dengan 150 responden. Setelah itu, mereka bakal dihadapkan ke sebuah televisi atau layar besar yang sudah dilengkapi dengan webcam.

Webcam yang sudah dipasang tersebut akan menangkap ekspresi wajah mereka. Kemudian, mereka diberi tugas untuk menonton sebuah iklan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Perubahan ekspresi raut wajah secara langsung dapat terlihat dengan menggunakan titik-titik ukur pada wajah responden. Teknologi ini dapat mengenali berbagai komposisi respon emosional dan kognitif, seperti rasa senang [enjoyment], perhatian [attention], dan bingung [confusion].

Teknologi facial coding ini dapat memperlihatkan gambaran detik demi detik. Bagian mana dari sebuah iklan yang sesuai dengan respon emosionalnya. Sehingga dapat dijadikan alat diagnosa yang kompeten untuk mengukur apakah sebuah iklan diterima penonton atau tidak. Hasil dari tes tersebut akan keluar setelah 10 hari.

Setelah hasil keluar, si pembuat iklan tersebut bakal memutuskan apakah iklan tersebut akan tetap ditayangkan atau perlu dilakukan sedikit pengeditan. Usai dilakukan pengeditan dan iklan tayang ke publik, iklan tersebut tetap akan dilakukan survei dengan menggunakan kuesioner konvensional.

Millward Brown
Mark Chamberlain, Managing Director Millward Brown

Teknologi ini merupakan terobosan dalam pengukuran respon emosional secara obyektif hasil kerjasama perusahaan Millward Brown dan Affectiva

Facial coding sudah digunakan untuk menguji lebih dari 1.200 iklan di wilayah Asia. “Untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia adalah negara yang paling tinggi menggunakan teknologi ini,” kata Mark Chamberlain, Managing Director Millward Brown Indonesia, di Jakarta. “Sudah ada 226 iklan di Indonesia yang diuji coba melalui teknologi ini.”

Sejak diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 2001, sudah banyak perusahaan-perusahaan yang menggunkan facial coding. Di antaranya Coca-Cola, Unilever, Aqua, Frisian Flag, BCA, Mayora, Garnier, dan masih banyak lagi.

Kalau  mau iklan Anda dites pakai facial coding sebelum tayang, siapkan saja uang 125 juta rupiah untuk satu iklan.

SHARE