Artphoria, Menikmati Seni 3D

0
628

Pameran seni 3D terbesar di Indonesia

Lukisan karya Kurt Wenner
Lukisan karya Kurt Wenner

Ketika melangkah keluar dari lift Satrio P11 Ciputra World 1, Kuningan, Jakarta, tampak tak ada yang istimewa. Beberapa dinding, plafon dan lantai di sudut ruangan terlihat belum sempurna dikerjakan. Maklum, Ciputra Artpreneur Centre ini masih dalam tahap penyelesaian.

Beberapa sekuriti dan panitia menyambut ramah di samping lift. Hari itu [Sabtu, 14/12], pameran karya seni tiga dimensi [3D] terbesar di Indonesia, Artphoria, mulai dapat dinikmati publik.

Event tahunan ini menggandeng seniman top dunia, Kurt Wenner. Selain itu, ada pula lima seniman Indonesia dan beberapa komunitas kreatif yang ikut bergabung dalam event yang dibuka mulai 14 Desember 2013 – 26 Januari 2014.

Artphoria adalah kelanjutan dari pameran seni “Trick Art Japan” yang sukses menyedot 60 ribu pengunjung di Grand Indoensia, Jakarta, pada tahun 2012 lalu. Kedua pameran seni ini konsisten mengedepankan karya seni 3D.

Namun tahun ini, Artphoria memamerkan 11 3D street painting karya Kurt Wenner. Ia adalah lulusan Rhode Island School of Design dan Art Centre College of Design. Seniman asal Amerika Serikat ini juga hadir di Jakarta dalam sesi jumpa pers kemarin.

Kurt beraksi di Artphoria 2013
Kurt beraksi di Artphoria 2013

“Saya sudah berkeliling dunia dan mengunjungi banyak negara, tapi Indonesia adalah tempat di mana saya memamerkan banyak karya-karya saya,” ujar mantan karyawan NASA itu sambil tersenyum.

“Indonesia juga tempat di mana kompleksitas desain dan warna ada di dalamnya. Seperti baju batik, dan sekarang saya memakai baju batik, seperti Nelson Mandela ya?”

Berbeda dengan pameran seni yang cenderung kaku, suasana hangat dan santai sangat terasa saat menginjakkan lantai pameran. Pameran seni ini membebaskan pengunjung untuk mengekspresikan dirinya dengan lukisan-lukisan tersebut.

Pihak penyelenggaran pun menyarankan setiap pengunjung membawa kamera untuk berpose dengan karya-karya yang dipamerkan. Bahkan, diadakan pula kompetisi foto “Fun with Artphoria” yang berhadiah smartphone dan tablet.

Tiga lukisan dalam kanvas besar di lantai menyambut sesiapa pun yang datang ke Artphoria. Ketiga lukisan dengan tema berbeda-beda itu adalah karya Kurt Wenner. Di setiap kanvas, diletakkan sebuah lensa berukuran besar. Lensa inilah yang membantu memanipulasi daya pandang manusia.

Lukisan karpet terbang karya Kurt Wenner yang menyedot perhatian pengunjung
Lukisan karpet terbang karya Kurt Wenner yang menyedot perhatian pengunjung

“Lensanya juga saya yang menciptakannya. Bagian depan lensa adalah kaca datar tapi di dalamnya seperti gelombang/gelembung yang sebelumnya diisi air dan itulah yang kemudian menjadi lensa,” ujarnya, menjelaskan sambil mengajak kami berkeliling mengenali lukisannya.

Di Artphoria, setiap lukisan didampingi satu usher yang siap membantu para pengunjung. Berbalut kaos dan jeans hitam yang dilapisi celemek merah bertuliskan Artphoria, para usher melayani dengan ramah.

Mereka juga tak segan menawarkan diri untuk membantu memotret atau sekadar menunjukkan titik pose terbaik di lukisan agar pengunjung mendapatkan angle foto terbaik dari lukisan itu.

Beberapa lukisan di dalam figura juga dipajang di sudut dinding. Pengunjung juga bisa tahu lebih banyak mengenai sejarah 3D street painting dan profil Kurt Wenner yang dipajang di sudut dinding seberangnya.

Perjalanan menikmati ilusi tak berhenti sampai di situ. Masih ada delapan lukisan Kurt lainnya yang diletakkan di ruangan dekat pintu keluar pameran. Namun jika diperhatikan, lukisan karpet terbang adalah lukisan favorit para pengunjung.

“Inspirasi saya adalah geometri yang kini sudah tertinggal. Saya hadirkan kembali dan menggabungkannya dengan zaman modern sekarang. Gambar-gambar klasik di Eropa juga menjadi inspirasi, yang kenyataannya kini sudah hampir rusak dan hancur karena invasi fotografi,” katanya.

Lukisan Kurt Wenner
Lukisan Kurt Wenner

“Dalam kesenian, terutama menggambar, kita terhubung dengan ilusi di mana mata kita bekerja seperti kamera. Namun mata kita lebih mirip seperti radar karena ketika kita melihat sesuatu, kita menjadi memiliki sebuah pengalaman dan itu menjadikannya lain. Saya sangat yakin, mata manusia jauh lebih baik dibandingkan teknologi.” 

Menurut Kurt, street painting tidak hanya menggunakan jalanan sebagai medianya. Tapi juga kanvas, trotoar, atap bangunan, dan berbagai area publik sudah menjadi ‘kanvas’ luas baginya. Kurt menolak seniman street painting disamakan dengan seniman grafiti. Baginya keduanya sangat berbeda.

“Seniman grafiti cenderung mengendap-endap dan melakukannya di malam hari saat membuat karyanya,” katanya. “Sementara saya, selalu melukis di siang hari, duduk santai, ditonton banyak orang dan bisa menggunakan fasilitas publik untuk beraksi. Dan tentunya menghasilkan uang.

Bahkan pernah dalam dua hari melukis di jalanan, saya mendapatkan uang tiga kali lipat besarnya dari gaji saya di NASA. Ini sebuah berkah dari surga bagi saya. Tapi karena uang ini dari orang lain maka saya juga membagikannya kepada orang lain.” 

Lantas dalam kunjungan ke Jakarta adakah keinginannya untuk melakukan 3D street painting? “Haha, tampaknya jalanan di Jakarta harus diperbaiki dulu,” ujarnya. [teks @innesspw dan foto Tri Aji dan Courtesy of Kurt Wenner]

SHARE