Electric Cadillac: Blues Vintage Rasa Modern

0
301

“Cadillac itu sebuah simbol blues era 50-60 an.”

Electric Cadillac 4
Ki-ka: Arif, Kongko, Meidi

Tak ada yang pernah tahu, dan berani meramalkan, kalau tahun 2014 akan menjadi tahun emasnya para grup band. Namun, berkibar atau tidaknya grup band tanah air di tahun 2014, tak membuat langkah Electric Cadillac ragu-ragu.

Mengusung musik yang bukan mainstream, Electric Cadillac memutuskan untuk serius dalam karier musik mereka, lewat rilisan mini album bertajuk Take A Ride,  dua bulan lalu. Sebelum sampai di titik berhasil meluncurkan mini album, band beraliran musik blues ini sempat mengalami jatuh-bangun, serta bongkar-pasang personel.

Electric Cadillac kini adalah Kongko [vokal dan gitar], Dian [keyboard], Arif [bass], dan Meidi [drum].

Sore yang bertabur hujan itu, Ghiboo kedatangan tiga pria berdandan sederhana, namun tetap kece. Hanya Kongko, Meidi, dan Arif yang muncul. Dian tidak bisa ikut nimbrung karena sedang ada urusan keluarga.

Meski habis kena hujan dan terlihat sedikit kedinginan, namun Kongko Cs tak keberatan langsung memulai bincang-bincang.

Obrolan akrab pun dimulai oleh sang frontman, yang menceritakan awal terbentuk Electric Cadillac. Band blues ini resmi berdiri sejak tahun 2008. Diakui Kongko, sejak mendirikan Electric Cadillac, ia memang ingin band ini berkonsep minimalis player tapi maksimal. Makanya, saat pertama kali terbentuk, Electric Cadillac hanya digawangi tiga personel. Seiring bongkar pasang personel, akhirnya Kongko bertemu dengan Meidi, Arif, dan Dian, yang dianggap sebagai formasi paling klop dan punya visi sama.

“Ketemu sama Meidi awalnya di acara Jajan Jazz di Teraskota, Tangerang. Saat itu kami ‘jatuh cinta’ pada pandangan pertama, dan ngerasa cocok. Ketemu sama Arif pas kebetulan gue bikin komunitas blues Jakarta, Break Time. Arif adalah salah satu anggota komunitas. Terus gue coba-coba buat jamming bareng. Ternyata antara si bass dan drum ini ‘kawin’ banget. Terakhir Dian, dia anak komuntas blues di Jogja. Sekitar tahun 2011, kami menemukan formasi klop ini,” cerita Kongko.

Melirik Arif dan Meidi, Ghiboo jadi penasaran, apakah kedua personel ini sebelum bergabung dengan Electric Cadillac memang berasal dari musik blues, atau terpaksa pindah haluan, karena sudah ‘terkontaminasi’ sang founder, Kongko. Ini jawaban Arif dan Meidi.

“Gue awalnya di musik jazz, sering-sering ikut komunitas jazz. Cuma gara-gara diajak Kongko, lama-lama jadi suka blues. Asyik juga sih,” ujar Meidi.

“Kalau gue emang dari jaman baru kuliah udah main blues, tapi belum punya teman. Terus masuk komunitas Break Time, ngerasa mainannya sama, lagu-lagu Jimi Hendrix,” timpal Arif.

Electric Cadillac 2Asal Mula Nama Electric Cadillac
Bicara soal musik blues, memang macam ragamnya. Tapi, Electric Cadillac berani mengukuhkan kalau musik blues yang mereka usung, mengarah pada warna musik Chicago Blues. Meski begitu, Kongko Cs tak memungkiri bila mereka juga terpengaruh musik blues era Muddy Waters, Buddy Guy,  Tibbon Walker, dan blues tahun ’40-’50an.

Berkaitan dengan musik blues era ’50-an, Kongko pun jadi teringat asal mula band ini dinamakan Electric Cadillac. “Cadillac itu sebuah simbol blues pada eranya, tahun ’50-’60an. Dulu itu kalo menyebut mobil Cadillac itu nge-blues banget. Electric karena kami bawain musik vintage tapi dengan rasa modern. Kami hidup di era sekarang,” tambah vokalis berbadan kekar ini.

Pengaruh musik blues jadul pun ternyata menginspirasi penampilan para personel Electric Cadillac saat manggung. Baik Kongko, Arif, dan Meidi membocorkan siapa insipirasi mereka saat ‘menggila’ di panggung.

Gue banyak terinspirasi gaya nge-drumnya, si  Steve Gate. Dia memang drummer musik jazz, tapi gue suka gayanya,” ujar Meidi.

Sedangkan Kongko mengakui lebih banyak mencampuradukkan gaya-gaya para musikus dalam penampilannya. “Gue lebih melihat pada kekurangan dan kelebihan gue, sih. Jadi gue lebih banyak nyomot dari beberapa musikus. Kalau gaya main gitar, gue lebih suka Jimi Hendrix yang liar. Gue suka Steve Vai yang keras, tapi gue juga mengombinaskan dengan Buddy Guy yang mudah mencairkan dan menghangatkan suasana. Sedangkan untuk  segi vokal, gue terinspirasi James Brown. Dia sosok yang unik.”

Arif, sang bassist, yang penampilan luarnya berkacama, terlihat lugu dan polos ternyata ter-influence dengan gitaris legendaris Chuck Berry. “Saat di panggung, gue nggak banyak lihat dari gaya bassist lain, malah lebih ke seorang Chuck Berry. Dia gitaris, mainnya jingkrak-jingkrakan,” terang Arif dengan semangat.

Electric Cadillac 3Usai Mini Album, Lalu Apa?
Akhir November lalu, saat Electric Cadillac meluncurkan Take A Ride, Ghiboo turut diundang. Kongko kembali membeberkan, kalau penggarapan mini album tak memakan waktu lama.

“Mulai digarap sejak awal tahun 2013, prosesnya termasuk cepat. Kami mulai dari penggarapan materi lagu. Uniknya, materi lagu kami ini baru semua. Padahal sebelumnya kami punya lagu-lagu lama, yang sudah sempat masuk recording dulu. Pokoknya, dari take recording, sampai pembuatan video klip “Ini Blues Jakarta”, sebentar. Mulai di Febuari, launching November 2013.”

Usai merilis album, hal selanjutnya yang dilakukan setiap penyanyi atau band adalah promosi album. Meski tak dinaungi major label, bukan berarti Electric Cadillac tak punya strategi mempromosikan album mereka.

Band yang bermarkas di kawasan Cikini, Jakarta Pusat ini membidik komunitas musik blues di seluruh Indonesia sebagai market.  “Selain menjual dengan sistem hand to hand, atau jual saat buka booth di sebuah acara, kami juga sebar ke setiap komunitas yang ada. Kami distribusikan ke sana. Hal ini kami lakukan, karena ingin tahu sejauh mana animo mereka,” jelas Kongko lagi.

Ternyata strategi ini berhasil. Terbukti, belum lama dirilis, album yang diproduksi sebanyak 1.000 keping itu, sudah dipesan komunitas musik blues di sejumlah daerah. Di antaranya, Bandung, Karawang, Cianjur,  Bogor, Purwokerto, Magelang, Jogja, Malang, Solo, Medan, Lombok, Palembang, dan Makasar.

“Ini artinya, ternyata banyak juga, bahkan hampir seluruh daerah di Indonesia punya komunitas blues. Jadi kami bisa tahu dan bisa menjamah market kami. Inilah strateginya,” jelasnya.

Usai mini album sukses di pasaran, tak menutup kemungkinan Electric Cadillac segera mewujudkan merilis full album perdana mereka. Tahun 2014, merupakan target Kongko Cs menggarap full album, dan rencananya album ini akan memasukkan lagu-lagu lama yang mereka miliki.

Tak hanya lagu-lagu lama, rencananya di full album nanti Electric Cadillac juga akan mengajak teman-teman musisi lain, seperti, Gugun and the Blues Shelter, Didit Sa’ad, Ipank, dan Syaharani.

Dari segelintir rencana tersebut, Electric Cadillac bisa memperkenalkan karya musik mereka dan meramaikan industri musik tanah air, melalui musik blues. Itu semua harapan Kongko, Arif, Meidi, dan Dian. « [teks @dont_d4 – foto boyMALI]

Also read:
Rahasia pribadi personel SM*SH
Film bokef buatan Joko Anwar
Yang terjorok di Project Pop

SHARE