Kurt Wenner, Pelukis Jalanan Jebolan NASA

0
1035

Ia pelopor Anamorphic Street Painting.

Kurt Wenner
Kurt Wenner

Kurt Wenner. Mungkin bagi sebagian orang, namanya terdengar asing. Tapi bagi pencinta seni, karya-karyanya tak perlu dipertanyakan lagi.

Kurt merupakan master artist atau master of illusion yang sangat terkenal karena menciptakan karya-karya gambar 3 Dimensi. Pria berusia 54 tahun ini sudah membuat karya mural pertamanya di usia 16 tahun dan setahun kemudian, Kurt sudah bisa mendapatkan uang dari pekerjaannya sebagai seniman grafis. Kini karya seninya sudah melintasi semua usia dan budaya, bahkan telah dipamerkan di lebih dari 30 negara di seluruh dunia.

Keluar dari NASA
Lulus dari Rhode Island School of Design and Art Center College of Design, Kurt memutuskan untuk bekerja di NASA sebagai scientific space illustrator, yaitu orang yang  membuat gambar-gambar konseptual proyek luar angkasa. Akhirnya di tahun 1982, Kurt memilih meninggalkan NASA dan hijrah ke Roma, Italia untuk mengejar hasratnya dalam bidang seni klasik.

Kini, sosoknya dikenal sebagai pelopor 3D Pavement Art atau Anamorphic Street Painting. Tak hanya kanvas, melainkan juga jalanan, trotoar, atap bangunan, dan berbagai area publik sudah menjadi media melukis yang luas baginya.

Ghiboo memiliki kesempatan untuk mengobrol sebentar dengan Kurt dalam sebuah pameran seni ‘Artphoria’. Di Artphoria, Kurt menampilkan 11 karyanya dan mengajarkan teknik menggambar. Semuanya bisa dinikmati di Ciputra Enterpreneur Center, Ciputra World 1, Casablanca, Jakarta.

Berikut ini adalah bincang-bincang Editor Innes Sabatini dengan Kurt Wenner di sela-sela pembukaan Artphoria beberapa waktu lalu.

Anda terkenal sebagai pelukis 3D yang lebih banyak menggunakan jalanan sebagai kanvas. Apakah ada perbedaan karya Anda dengan karya seniman lain?
Pada awal menggambar di jalanan, gambar-gambar saya sempat terhapus atau pudar. Awalnya saya menggunakan kapur untuk menggambar, tapi ternyata hasilnya kurang bagus. Hingga akhirnya saya memutuskan menggunakan pastel untuk menggambar. Pastelnya juga saya buat sendiri yang tentu kualitasnya lebih tahan lama dan lebih permanen dibandingkan produk komersial.

Selain itu, semua lukisan saya juga dilengkapi sebuah lensa berukuran besar. Lensa yang digunakan juga saya buat sendiri. Bagian depan lensa adalah kaca datar tapi bagian dalam lensa adalah gelembung akrilik. Lensa ini membantu menegaskan efek 3D karya saya dan memfokuskan satu titik. Jadi benda apa saja yang ditaruh di depan lensa itu akan lebih fokus.

Kurt beraksi di Artphoria 2013
Kurt beraksi di Artphoria 2013

Anda sempat bekerja untuk NASA. Apa arti NASA untuk karier Anda?
NASA menjadi bagian penting dalam perjalanan karier saya. Bekerja di NASA membantu meningkatkan kemampuan menggambar 3D saya. Saya juga menjadi seniman terakhir yang menggambar luar angkasa untuk NASA.

Saat saya masih bekerja di sana, NASA sudah mulai menggunakan komputer untuk menggambar. Karena mulai menggunakan komputer, saya berpikir ada kemungkinan seniman tidak akan dipakai lagi. Sama halnya seperti mulai hilangnya gambar-gambar manual saat menggambar geometri. Tapi saya tetap yakin, kemampuan manusia dengan teknologi berbeda. Kemampuan manusia lebih baik dibandingkan dengan teknologi saja.

Apa yang menjadi inspirasi Anda dalam menggambar?
Inspirasi saya adalah geometri yang sudah tertinggal dan saya hadirkan kembaliyang digabungkan dengan zaman sekarang. Gambar-gambar klasik di Eropa yang hampir rusak dan hancur karena invasi fotografi juga menjadi inspirasi saya. Jika kita melihat karya-karya yang ada, kita akan terbawa.

Konsep 3D tidak personal, lebih ke lingkungan. Karya-karya yang sering saya buat lebih banyak mengenai lingkungan, termasuk orang-orang di sekitar. Saya seperti seorang arsitek yang bisa memproyeksikan mana gambar dengan ukuran sebenarnya dan mana yang tidak. Di kesenian, perspektif dilihat dari satu titik saja. Jadi lensa yang saya buat juga mengacu ke satu titik saja.

kurts

Kendala apa yang biasa Anda hadapi dalam membuat sebuah karya?
Kendala yang sering dihadapi adalah deadline. Tapi kemudian semuanya menjadi bukan masalah asalkan tujuan tercapai, karena semua hasil adalah perjalanan dari proses. Menggambar di jalanan tak akan ada habis-habisnya, kapan pun, di mana pun.

Sebenarnya, setiap karya memiliki tantangan tersendiri. Menurut saya, tantangan yang kerap datang adalah memadukan ide-ide baru, geometri baru dan jenis ilusi-ilusi baru. Dan masalah lainnya adalah menyatukannya dengan permintaan dari klien.

artpoBerapa lama Anda mengerjakan satu karya?
Secara umum, saya membutuhkan sekitar dua sampai tiga minggu untuk menyelesaikan satu karya seni 3D. Selama waktu pengerjaan, biasanya setengah waktunya saya habisnya untuk merancang desain. Sisanya untuk mewarnai karya.

Dalam pameran kali ini di Jakarta, saya membuat satu karya yang berjudul Shangri La. Untuk karya ini saya menghabiskan waktu hampir satu bulan karena desainnya agak lebih rumit dibandingkan karya yang lain.

Ada yang mengatakan bahwa seniman grafiti juga termasuk street painting artist. Bagaimana pendapat Anda?
Keduanya tentu berbeda. Saya bisa leluasa menggunakan ruang-ruang publik, sementara grafiti cenderung mengendap-endap untuk membuat sebuah karya dan biasanya menggerjakannya di malam hari. Tapi saya bisa menggambar di siang hari, ditonton banyak orang, duduk santai, dan menghasilkan banyak uang.

Pernah pada dua hari mengerjakan lukisan di jalanan, saya mendapatkan uang tiga kali lipat besarnya dibandingkan gaji saya di NASA. Ini seperti berkah dari surga, tapi karena uangnya dari orang yang menonton pekerjaan saya, maka uangnya saya berikan lagi ke orang lain.

Apa rencana ke depan Anda selanjutnya?
Saya kini dalam proses menyelesaikan sebuah buku mengenai teknik seni 3D. Ya, saya berharap bisa mengedukasi banyak orang. Tak mudah untuk menjabarkan tekniknya secara lisan, karena dalam kesenian terutama menggambar, kita terhubung dengan ilusi dan mata kita bekerja seperti kamera. Tapi sebenarnya mata kita lebih mirip seperti radar, karena ketika melihat suatu hal, kita juga memiliki pengalaman-pengalaman dan hal itu menjadikannya berbeda.

Saya juga ingin memberikan yang terbaik selama saya bisa, karena saya sadar pekerjaan saya ini besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan sebuah karya. Di sini, saya juga bekerja dengan banyak orang, bukan bekerja sendiri dan duduk diam di dalam sebuah studio. Layaknya seorang arsitek yang membutuhkan klien, karena tanpa klien mereka tidak akan menciptakan karyanya.

artpohSelama berkarya selama 30 tahun, adakah karya yang menjadi favorit Anda pribadi?
Ya, memang ada beberapa karya yang saya suka, tapi sebenarnya lebih bagaimana karya itu memberikan pengalaman dan cerita tersendiri. Saya juga memiliki proyek favorit, yaitu sebuah event pameran di Kaoshiung, Taiwan. Pameran di Taiwan menjadi pengalaman terbaik bagi saya. Di sana saya disambut dengan sangat hangat dan pengunjungnya mencapai 250 ribu orang selama 6 hari pameran.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Menurut saya, Indonesia memiliki rasa desain dan warna yang unik, bahkan mungkin salah satu yang terbaik di dunia. Memang sih, setiap budaya memiliki landasan tersendiri, tetapi Indonesia memiliki sebuah kekuatan yang berbeda. Dan hebatnya, kebudayaan itu masih bertahan dari gempuran modernisasi. Saya suka dengan semua aspek kesenian di Indonesia.

Jika Anda melihat gambar atau ilusi di pameran ini, semuanya adalah total pekerjaan saya selama 30 tahun. Saya sangat senang sekali, karena sebenarnya seni hampir punah, tapi sekarang kembali disukai banyak orang dan menginspirasi banyak seniman lain dari belahan dunia lain. « [teks @innesspw – foto Tri Aji Pramono dan dok. Artphoria 2013]

Also read:
Rahasia pribadi personel SM*SH
Film bokef buatan Joko Anwar
Yang terjorok di Project Pop
Solusi praktis mengukus makanan

SHARE