Film Anak Bangkit dari Kubur

0
143
Princess, Bajak Laut & Alien

Quo vadis film anak Indonesia?

Princess, Bajak Laut & Alien
Princess, Bajak Laut & Alien

Masih ingat bocah hitam asli Betawi yang pandai mengaji tapi juga usil? Atau anak perempuan yang bertualang dari kebun teh menuju teleskop besar di Lembang? Yang baru-baru ini, kisah tentang bocah keriting dari Bangka-Belitung. Ya, pasti kalian dapat menerkanya. Si Doel, Sherina, dan Ikal. Itu tiga tokoh dari tiga zaman yang berbeda. Di akhir liburan Tahun Baru 2014, bioskop Indonesia diisi lagi dengan satu film anak-anak, Princess, Bajak Laut, dan Alien.

Hal ini sedikit meredakan keresahan, tentang film bergenre ‘HorSex’ yang acapkali beredar di bioskop. Ada getar-getir kerinduan tentang hiburan menarik dan layak disuguhkan bagi anak-anak. Tak perlu muluk akan sarat penuh makna, juga nilai. Cukup, menghibur saja. Ya, karena bukan orang dewasa saja yang perlu dihibur. Anak-anak dengan kompleksitas dunia, antara realita dan imaji pun perlu hiburan. Karena faktanya, untuk lingkup kecil, yaitu film, anak-anak Indonesia sering tidak mendapatkannya.

Keresahan serupa pun dialami sutradara Princess Bajak Laut dan Alien, Upi, Rizal Mantovani, Eko Kristianto, dan Alfani Wiryawan. Kuartet ini sepakat, kalau anak-anak seharusnya menonton film anak. Maka, mereka berkolaborasi membentuk film omnibus. “Jarang banget film anak-anak Indonesia. Sudah saatnya, gue bikin film anak,” ungkap Upi saat menyambangi Ghiboo beberapa waktu silam.

Dewasa ini, bioskop kerap didominasi film untuk orang dewasa. Sehingga acapkali, film yang semestinya bergenre “Dewasa”, ditonton remaja yang sedang puber, atau bahkan bisa disusupi anak yang usianya lebih dini. Mengapa bisa? Maklum, aturan penjualan tiket film “Dewasa” belumlah ketat diberlakukan, seperti penjualan rokok bagi anak di bawah umur 18 tahun.

Jadi, jika stereotip tentang “Anak zaman sekarang lebih cepat besarnya”, itu tidaklah salah. Barangkali, itu karena orang dewasa terlalu mendominasi –mengesampingkan dunia anak kecil– seluruh ruang; teve, internet, koran, buku, dan film. [saksikan video empat sutradara cerita tentang film anak]

Pita sejarah film Indonesia, mulai berputar di tahun 1926. Ketika itu, produser Belanda, Heuveldrop, mengangkat cerita rakyat Lutung Kasarung ke layar lebar. Sepanjang tahun 1926-2014, baru ada 74 judul film anak-anak yang diputarkan. Yap, pita perfilman Indonesia telah berputar selama 88 tahun, namun tak banyak film anak yang dibuat. Bahkan antara tahun 1996-1999, tidak ada sama sekali film yang bergenre anak-anak. Saat itu, industri perfilman memang sedang lesu.

Menurut Alfani, film anak-anak tidak diberikan kesempatan untuk tumbuh. Asal diberikan kesempatan, pasti banyak yang akan meliriknya. Bukan cuma film “Dewasa” saja yang diminati penikmat film. Begitu juga sutradara film Jelangkung, Rizal Mantovani. Ia merasa anak-anak zaman sekarang perlu tontonan yang menghibur. “Ke bioskop itu ada pengalaman tersendiri. Beda lho, nonton di bioskop sama di DVD. Tapi gimana bisa anak-anak nonton di bioskop kalau isinya… Ya kamu tahulah,” ucapnya penuh arti.

Tiga tahun terakhir, industri film dalam negeri, khususnya film anak-anak, sedang kembali merangkak naik. Sepanjang 2012-2013, ada sepuluh judul film yang berhasil diproduksi, salah satunya: Ambilkan Bulan dan Rumah di Seribu Ombak. Lalu bagaimana dengan tahun 2014?

Awal tahun 2014, sudah ada 4 judul: Kamu Bully Aku B-Boy, Misteri Rumah Nenek, Babeh Oh Babeh, dan Princess, Alien, dan Bajak Laut. Itu semua terangkum dalam film omnibus keempat sekawan itu. Upi, yang untuk pertama kali mengerjakan film anak mengaku kalau meng-handle anak-anak itu beda. Harus mengerti karakternya agar men-direct mereka lebih mudah.

Anak-anak itu belum mengerti arti bekerja. Kerja juga masih setengah-setengah, tahunya bermain. Jadi ya, bujuk mereka untuk bermain,” tambah Rizal. Melalui filmnya, Rizal ingin menularkan melawan kekerasan tidak selalu dengan kekerasan. Masih ada cara lain, misalnya menari.

Upi, Rizal Mantovani, Eko Kristianto, dan Alfani Wiryawan paham jika anak-anak perlu tontonan untuk seusianya. Jadi, jika ingin tahu lebih soal film omnibus mereka, ajak sanak familimu ke bioskop dan tonton film yang memang diperuntukkan bagi anak-anak. « [teks @HaabibOnta | foto dok Ghiboo]

SHARE