“Jangan Diam! Lawan!”

0
236

 Film pendek Kamis ke-300 diputar perdana. 

Butet Kertaradjasa di kamis 300
LIhat, lihat saya, sayalah pembunuh Munir, kata Butet Kertaradjasa

Hari itu hujan, ketika Bom Molotov beterbangan di udara dan tentara memukul mundur aliansi mahasiswa. Semanggi berkecamuk seperti medan perang. Tepatnya 12 November 1998, saat tragedi perampasan nyawa oleh negara itu terjadi. Rintik hujan menggeliat di aspal kering kelabu seperti para korban yang menggelepar meregang nyawa saat peluru tajam milik aparat menembus tubuh mereka. Hari itu, tujuh belas tubuh pemuda membiru, tergeletak kaku, menghembuskan napas terakhir di sambut gas air mata dan kekacauan. Penguasa sedang berperang dengan rakyatnya.

Pada 7 September 2004, hujan juga turun di hati kerabat mendiang Munir. Tepatnya ketika almarhum diketahui mangkat. Tapi Munir wafat bukan sekadar atas kehendak Yang Maha Kuasa, melainkan kemauan ‘Yang Berkuasa’. Beliau meninggal diracun saat menempuh perjalanan dari Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan studi atas pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

Piihak berwenang Belanda menemukan kandungan racun arsenik pada jasad korban. Hari itu, untuk kesekian kali penguasa membungkam rakyatnya untuk selamanya.

Munir, aktivis HAM Kontras yang berisik menuntuk keadilan atas korban Tragedi Semanggi, pun ‘dihilangkan’ secara paksa. Barangkali agar tak ada yang merongrong kuping penguasa. Kematiannya menjadi tonggak sejarah dalam perjuangan HAM di Indonesia. Dari sinilah, kemudian, Aksi Kamisan dimulai.

Tujuh tahun setelah aksi itu pertama kali digelar, Jakarta pun sedang diguyur hujan. Jumat, 17 Januari, film pendek Kamis ke-300 diputar perdana di Goethe Institut. Film besutan Happy Salma ini menceritakan tentang perjuangan para kerabat serta sahabat korban pelanggaran HAM yang selalu melakukan Aksi Kamisan di depan Istana Negara.

Mereka berdiri pada pukul 4 sore, menggunakan pakaian serba hitam, serta payung hitam. Tak ada teriakan protes, atau aksi bakar ban, seperti demonstrasi pada umumnya. Sesekali mereka melakukan teatrikal, tapi tidak sering. Para kerabat serta sahabat hanya berdiri termangu, meminta negara mengembalikan korban pembungkaman secara hidup-hidup.

Kru kamis ke 300
Happy Salama bersama kru Kamis Ke-300

Kamis ke-300 merupakan gubahan dari cerpen yang dibuat oleh Happy Salma berjudul “Kamis Ke-200”. Cerpen dibuat Happy sebagai bentuk keresahannya terhadap pelangaran HAM yang terjadi di Indonesia.

Aktris cantik ini dibantu oleh Bambang Supriadi, Andhy Pulung, Ricky Lionardi serta Key Mangunsong yang ikut membantu dia selama proses pengerjaannya di belakang layar. Sementara yang mengisi di jajaran depan layar, ialah Amoroso Katamsi, Sita Nursanti, Nugie, Aji Santosa, dan Putu Wijaya. Diakui oleh Happy Salma, proses pengerjaan film ini memakan waktu dua hari.

Ketika pemutaran perdana Kamis Ke-300, semua tamu undangan datang dengan pakaian hitam. Mirip seperti Aksi Kamisan. Sekitar 300 orang duduk memenuhi ruang teater Goethe Institut. Acara malam itu dibuka pertama kali dengan sambutan dari Nyonya Sumarsih, orang tua BR Norma Irmawan [Wawan] korban Tragedi Semanggi.

Ia berdiri dengan pakaian serba hitam di atas panggung, hanya rambutnya yang putih dimakan jaman. Sesekali nada suaranya meninggi, geram dengan ketidakadilan yang ia dapat. Sesekali nada itu turun, diganti sedu sedan ketika ia ingat Wawan sudah tiada. Dari matanya, tersirat perlawanan yang belum menyurut hingga keadilan untuk Wawan ia terima. “Jangan Diam! Lawan!!! Lawan!!Jangan Diam,” begitu pekiknya di akhir pidato.

Penyanyi Jazz sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, pun ikut menyumbangkan dua lagu malam itu untuk perayaan Kamis ke-300. Sama seperti Nyonya Sumiarsih, ia juga mengenakan pakaian serba hitam. Semua tamu undangan dibuai magis suara piano dan empuknya lentingan Tompi ketika menyanyikan “Angin Mamiri”. Sejenak itu bisa menghibur di tengah suasana sendu.

Selama tujuh tahun ini, banyak yang selalu bertanya siapa yang memberi tugas kepada Polycarpus untuk membunuh Munir. Siapa pembunuh Munir sesungguhnya? Lalu, seniman teater, Butet Kertaradjasa maju ke depan. Di hadapan ratusan orang, dengan pengeras suara, ia umumkan sekeras-kerasnya malam itu,”Akulah Pembunuh Munir…”

Dan semua diam, terkesiap, menatap dan memasang kuping jelas-jelas apa yang dilakoni Butet di atas sana. Bukan, ternyata bukan Butet pembunuh aslinya. Ia pun bagian dari pengisi acara malam itu. Butet sedang mentreatrikalkan cerpen Seno Gumira berjudul “Akulah Pembunuh Munir”. Sejenak semua orang percaya apa yang ia katakan di atas sana.

Aktingnya terbilang sempurna. Butet benar-benar hadir dengan peran pembunuh Munir. “Aku adalah anjing kurap, karena itu aku membunuh Munir!” serunya. “Ya, diriku dilahirkan oleh manusia. Kukenali cerlang matahari, halus pipi bayi, harum melati, dan pesona kecerdasan para cendekiawan, tetapi akulah yang membunuh Munir.” Lewat teatrikalnya, Butet menunjukan kebengisan serta seringai penuh kemenangan dari pembunuh aslinya.

Hidangan utama pun diputarkan di penghujung acara, Kamis ke-300. Menceritakan tentang seorang ayah menuntut keadilan atas nyawa anaknya yang dibungkam oleh penguasa. Di ujung hari-harinya, ia masih bersemangat melakukan Aksi Kamisan meski tubuhnya separuh sudah terkena Stroke. Semangat itu ia tidak simpan sendiri. Semangat itu ia bagi kepada cucunya agar ada yang meneruskan. “aparicion con vida! lepaskan mereka hidup-hidup!” begitu serunya sambil mengangkat kedua tangan ke atas, bukti perlawanan kepada penguasa.

Wawan, Engkus Kusnaedi, Heru Sudibyo, Widji Thukul, dan Munir, satu dari sekian banyak korban yang sudah dihilangkan suaranya secara sengaja. Penguasa mungkin luput bahwa “mati satu tumbuh seribu” tetaplah berlaku. Mereka yang sudah diam tidak bersuara, justru kini berteriak. Mereka tetap ada dan berlipat ganda hingga keadilan bisa ditegakkan seperti bunyi sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Malam itu, hujan terlalu deras, menghanyutkan bunyi sila itu, entah ke mana. « [teks @HaabibOnta | foto @gregbimz]

Also read:
Pilihan sulit Maudy Ayunda
Sophia Muller tolak anak band

SHARE