Cakra Khan: Skripsi, Oh Skripsi!

0
344

Cakra Khan di antara musik dan skripsi.

Cakra KhanDi Januari ini, Cakra Khan sedang asyik mempromosikan single ketiga berjudul “Mengingat Dia”. Setelah melejit dengan single perdana, “Harus Terpisah”, solis dengan suara serak berat ini mendadak tenar di kalangan penggemar pop.

Cakra, 21 tahun, jadi harus keluar masuk stasiun televisi, siaran di radio, atau manggung demi melebarkan sayap kariernya di industri musik. Tapi apa ada yang tahu apa goal Cakra di awal tahun 2014?

Ghiboo menemui Cakra di sebuah ajang penghargaan di Kemayoran, Jakarta. Pemuda Sunda ini mengenakan kemeja merah dengan corak dari Kalimantan. Cakra mengaku kepalanya sering cenat-cenut, dilema, dan tidak karuan akhir-akhir ini.

Tapi, stres itu bukan akibat putus cinta apalagi karena dompetnya kosong. Tidak. Ini jauh lebih berat, menurutnya. Penyebab dilema yang ia alami pun dialami oleh semua mahasiswa tingkat akhir di seluruh dunia. Ada tujuh huruf; dimulai dengan huruf “S”; diakhiri dengan huruf “i”. Yup, skripsi!

Pelantun tembang “Setelah Kau Tiada” ini juga sedang menghadapi semester akhir masa perkuliahannya. Cakra tercatat sebagai mahasiswa institut seni musik di Bandung. Saat ini, ia sedang mendalami perkembangan musik Indonesia untuk bahan skripsinya.

“Iya, sekarang saya lagi istirahat promo single dulu,” ujarnya. “Lagi diburu-buru sama skripsi, akhir Januari ini draftnya sudah harus masuk. Dospem [dosen pembimbing] saya juga sudah nanyain melulu kapan ini draft-nya dikumpulin. Kalau nggak sekarang, ketunda dong saya lulusnya.”

“Mendingan mengurus kuliah dulu deh, daripada saya harus cuti buat karier,” ungkapnya ketika diminta memilih mana yang akan ia dahulukan antara kuliah atau karier. “Target saya sih lulus dalam waktu 3,5 tahun. Hehehe,” ujarnya tersipu.

cakra Khan 3Beasiswa ke Manchester United

Saat ini, Cakra memang memfokuskan energinya pada skrispsi, tok. Soal promo ina-ini, ita-itu, sejenak ia diamkan dulu. Cakra membeberkan, skripsinya itu berisi tentang perjalanan industri musik Indonesia sejak jaman pita hingga RBT ataupun i-tunes –seperti sekarang. Dari riset mendalam yang ia lakukan, Cakra mendapatkan kalau akar dari genre musik modern ialah Blues. Musik yang dimainkan oleh para kaum budak di awal abad 21.

Setiap hari untuk mengejar deadline, peraih penghargaan “Pendatang Baru Terbaik” versi AMI ini begadang hingga dini hari. Itu demi bisa mengenakan toga di pertengahan tahun ini. Tapi ya, tidak dipungkiri olehnya rasa malas itu kerap hinggap saat ia harus mengerjakan skripsinya.

“Kalau lagi malas, ya paling mainan game  Counter Strike atau PlayStation. Biasa itu, mainan FIFA. Lumayan buat ngusir pusing. Hehehe,” ujarnya.

Salah satu dosennya pun ada yang menawarkannya beasiswa untuk melanjutkan sekolah di kota Manchester. Tapi, belum dijawabnya segera. Cakra mengaku masih ingin berkarier di sini, belum ada rencana hingga sejauh itu. Namun, –beber cakra– tidak menutup kemungkinan dirinya akan menginjakkan kaki di kota ‘Setan Merah’ suatu saat nanti untuk menempuh pendidikan.

“Ini yang skripsi aja dulu, 3,5 tahun selesai. Setelah itu nerusin karier lagi,” katanya sambil melempar senyum yang jumawa.« [teks @HaabibOnta | foto @gregbimz]

Also read:
Sedikit intim bersama Nicholas Saputra
Tertawa bersama Pandji Pragiwaksono
Betapa sempurnanya Cameron Diaz

SHARE