Love is in the Air

0
121

Selamat datang di Februari. Bulan yang kabarnya penuh cinta..

Karena pada tanggal 14 di bulan ini, hampir separuh penduduk bumi merayakan Valentine’s Day. Saya bilang separuh, bukan berarti setengah ya. Kita toh nggak akan pernah tau, siapa saja yang memperingati, siapa yang mati-matian anti, dan siapa yang tak ambil peduli.

Tapi sudah lah. Mari kita bicara soal cinta. Dan hanya karena cinta juga kita masih bisa bicara. Bicara soal penciptaan, bicara tentang dunia dan alam semesta, bicara soal kehidupan, bicara tentang kebersyukuran. Dan karena cinta lah, semua yang terserak bisa kembali terekat. Semua yang gugur bisa kembali bersemi. Dan semua yang terpisah bisa bersatu lagi.

Ghiboo_GVox_LoveCurah hujan yang mendera belakangan ini, tampaknya bisa menjadi batu ujian cinta kita. Ia seakan menyadarkan, betapa selama ini manusia kerap melupakan kecintaannya kepada alam sekitar. Pemanasan global, laju pembangunan properti tak ramah lingkungan yang melahap lahan serapan, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan beragam tingkah polah kita, yang membuat alam terpaksa menyeimbangkan dirinya. Sayangnya, aksi alam menyeimbangkan dirinya itu kerap kita maknai sebagai bencana. Karena tak jarang, bumerang yang pernah kita lempar, dan tak pernah kita duga kapan kembalinya, kini acap membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Beragam aksi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan aliran sumbangan bagi tempat-tempat pengungsian menjadi headline dan trending topic santapan kita sehari-hari. Hati kita diketuk. Jiwa kita digugah. Kepedulian kita dipanggil. Agar mau mengulurkan tangan, menyingsingkan lengan, memberi bantuan, untuk saudara-saudara kita yang sedang terkena bencana alam. Banjir, longsor, erupsi, semua adalah alarm agar kita makin mengasah kemanusiaan kita, membantu yang kurang mampu, menolong yang kesusahan.

Lalu kemudian kita disadarkan, bahwa memang kita acap lalai. Dan untuk memperbaikinya, kita hanya butuh satu kata: Cinta. « [@hagihagoromo | foto sxc.hu]

SHARE