Yang Ketawa, Denda 50 Ribu..

0
410

Siapa yang kita tertawai dalam film Comic 8? 

Angga 2
Anggy Umbara: “Yeaaaaaaahhh!”

“Saya minta ibukota Negara Republik Indonesia ini dikasih pindah ke Papua sana! Karena di Papua sana pemandangannya indah, udaranya juga masih segar. Tidak macam kamu punya Jakarta ini. Macet! Polusi juga banyak! Kamu punya sungai saja itu penuh dengan kucing mati. Saya mau monorail selesai. Bisa bikin macet tiap hari. Saya mau Jakarta bebas banjir kapten. Kasihan mama saya tiap hari ngangkatin kasur melulu!”

Begitulah potongan permintaan para rampok di dalam film Comic 8. Permintaan tersebut yang pada akhirnya menggugah hati Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi. Permintaan tersebut mengena untuk dirinya yang kini bertanggungjawab atas keadaan Kota Jakarta.

Anggy Umbara, sang pembesut film Comic 8, menceritakan bagaimana Jokowi merasa Comic 8 sangat mengena untuk dirinya. “Waktu itu Pak Jokowi lagi nonton film lain. Tapi dia lihat trailernya [Comic 8]. Waktu dengar permintaan rampoknya, dia geli, ketawa sendiri. Dia merasa kok ini saya banget, ” ujar Anggy, saat ditemui di 87.6 Hard Rock FM Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena tertarik dengan Comic 8, Jokowi berjanji akan hadir di penayangan perdana Comic 8. Sayangnya, karena banjir mengepung Jakarta, Jokowi tak bisa hadiri di acara yang berlangsung pada Kamis, 23 Januari lalu. Namun, Jokowi mengatakan Comic 8 akan laris di pasaran.

Benar saja. Baru sehari penayangannya, pada 29 Januari lalu, film yang dibintangi delapan stand-up comedian [belakangan disebut comic] ini sudah meraup 65 ribu penonton. Film ini pada intinya menceritakan sejumlah perampok bank yang meminta tebusan tak biasa. Permintaan mereka, tak lain dan tak bukan, berkaitan dengan kondisi sosial yang tengah terjadi di Jakarta, seperti yang telah disebutkan di atas.

Comic 8
Ahhh, jangan om badut!

Sebenarnya film ini mengangkat kegelisahan rakyat Jakarta. Hanya saja, dalam penyajiannya dibalut dengan komedi yang mampu mengocok perut penontonnya. Idenya perpaduan dari sang produser, Frederica yang ingin membuat film komedi, bercampur dengan keinginan sutradara, Anggy Umbara, yang ingin membuat film bertema kritik sosial. Jadilah formula baru dalam wujud Comic 8.

Film ini dibintangi delapan comic, yaitu; Mongol, Mudy Taylor, Ernest Prakarsa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, dan Arie Kriting. Anggy-lah yang langsung memilih kedelapan pemain tersebut. Menurutnya, kemampuan para comic ini sudah tak perlu diragukan lagi dalam hal komedi. Tinggal melatih mereka untuk bisa bekerjasama dengan pemain lainnya di depan kamera.

Gue bilang ke mereka [comic], kita mau ambil sesuatu yang fresh. Kita mau membentuk sesuatu from zero to hero,” kata Anggy dalam obrolan santai, malam itu. Tak ketinggalan, film ini juga diwarnai artis-artis lainnya seperti Indro Warkop, Nirina Zubir, Coboy Junior, dan Nikita Mirzani.

Tanpa ada ekspektasi berlebih, semua proses pengerjaan selesai dalam kurun waktu tiga bulan. Proses syutingnya hanya memakan waktu 19 hari. Tak ada kesulitan berarti dalam pembuatan film ini. Cerita uniknya, justru hal tersulit selama syuting adalah menahan tawa. Bagaimana tidak, semua yang dilakukan pemain memang apa adanya. Semua mampu membuat tertawa terpingkal-pingkal, tanpa dibuat-buat.

Comic 8-1
Eitts, yang kiri senjata virtual.

Karena terlalu banyak tertawa, ia dan kru lainnya sampai menerapkan denda selama syuting berlangsung. Anggy mengenang saat-saat denda tersebut berlaku, “Kalo ketawa lagi bayar Rp 50 ribu. Berlaku buat semua, mau pemain, mau kru, sutradara, sama aja. Uangnya kami kumpulin buat kita-kita juga sih, hahaha.” Ups, Anggy ketawa. Dan yak, 50 ribu masuk ke kantong Ghiboo..

Tak segan, Anggy mengungkapkan kekesalannya karena tawa yang susah dihentikan. Salah satu hal yang membuat semua kru tak berhenti tertawa saat adegan Pandji Pragiwaksono bersama dengan Agung Hercules. Tanpa bermaksud spoiler, adegan tersebut membuat seluruh tim mengulang adegan hingga larut malam.

“Mereka ceritanya lagi berduaan dan itu lucu banget. Itu diulang-ulang sampe malam. Sampai sebel. Sampai kepotong makan mie instan dulu. Abis makan baru lanjut lagi,” ujar Anggy sambil tertawa mengingat kembali kejadian tersebut.

Pada akhirnya, film ini boleh disebut sukses di pasaran. Semua kejadian saat syuting pun terbayar. Yang terpenting adalah, Anggy bisa berbangga hati karena pesannya menyangkut kritik sosial bisa didengar penduduk Jakarta, bahkan juga masyarakat se-Indonesia.

“Intinya gue berkarya yang ada isinya. Ini bukan menyindir tapi mengkritik. Film ini mengingatkan bahwa kita masih punya masalah dan kita masih butuh menyelesaikannya,” ujarnya.

Dengan lugas, Anggy mengungkapkan pentingnya menonton film ini. Ia berharap yang sudah menonton, bisa menangkap pesan yang ada di film ini. Selain penyajian komedi fresh, ada hal yang lebih penting dari semua itu. “Karena ini bisa jadi refleksi buat kita sebagai rakyat Jakarta. Comic 8 adalah potret keseharian kita. Kalau kita tertawa, sebenarnya kita mentertawai diri sendiri,” ujar Anggy. Ia mengajak kita bercermin dari film ini dan menjadi sesuatu yang lebih baik lagi untuk Kota Jakarta tercinta. « [teks @nandaindrih | foto @gregbimz]

 

SHARE