Ikat Tradisonal Didiet Maulana

0
307

Kain tradisional Indonesia tak hanya batik.

Didit Maulana

Dari Sabang sampai Merauke tak hanya berjajar pulau-pulau. Tapi juga tersimpan kekayaan yang menjadi identitias negara, yaitu kain tradisional.

Indonesia tak hanya punya batik. Negara ini juga punya kain ikat atau kain tenun yang tak kalah cantik dan indahnya.

Beragam dan indahnya ikat Indonesia itu berbeda-beda. Lihatlah kain ikat Bali yang terkenal dengan motif dan warnanya yang sangat berani. Berbeda dengan Sumetera, kain songket yang sudah sangat populer dan sangat kuat distrukturnya. Bila bergeser ke Indonesia bagian Timur, kain ikat justru cenderung memiliki corak yang lebih khas dan sedikit kasar.

Di tangan desainer muda inilah bahan-bahan tradisional Indonesia dicoba diperkenalkan sebagai dailywear. Kecintaanya terhadap kain ikat membuat namanya kini sangat berpengaruh di dunia mode tanah air. Dialah Didiet Maulana.

“Kain tradisional Indonesia itu energinya sangat kuat. Dilihat dari jauh saja orang sudah notice karena kain kita dibuat dengan hati dan perasaan,” kata Didiet di kantor Ghiboo. “Ada orang-orang yang ketika membuatnya mencurahkan energinya untuk membuat sebuah produk. Ini bukan barang semata, tapi ini hasil jerih payah dan ada ceritanya,” ia menambahkan.

Ikat Indonesia yang didirikannya sejak 2010 mencoba mengangkat bahan tradisional yang dulunya hanya bisa dipakai untuk acara formal menjadi dailywear. Modal nekatnya pun kini membuahkan hasil.

“Saya memulainya pada waktu sedang ramai-ramainya batik ini milik siapa, perebutan batik antara Indonesia dan Malaysia. Lalu saya berpikir, ‘daripada gue jadi generasi yang cuma bisa ikut ribut-ribut saja atau nggak ikut berkontribusi, mendingan gue membuat sesuatu yang nyata,” ungkap desainer lulusan Universitas Parahyangan Bandung itu.

“Saya memilih kain ikat, karena pada saat itu kain ikat belum banyak orang yang memakainya untuk baju sehari-hari. Dan kinilah saatnya orang Indonesia bantu orang Indonesia,” tambahnya.

Demi mendapatkan kain ikat berkualitas, Didiet rela mencari kain ikat terbaik di seluruh Indonesia. Palembang, Denpasar Bali, hingga Kelungkung Makasar sudah dijelajahinya. “Biasanya memang kita eksplor sendiri. Yang menurut kita kurang, pengrajinnya akan kita bina,” ujar Didiet.

Hasil kerja kerasnya kini berbuah manis. Bahan-bahan tradisional itu kini menjadi tren yang banyak digandrungi anak muda. “Saya kaget karena apresiasi terhadap kain tradisional semakin tinggi. Terlihat dari anak muda yang semakin banyak memakainya.”

Setiap hari saya menerima email dari teman-teman hampir di seluruh Indonesia karena mereka concern dengan perkembangan kain di tempat mereka masing-masing. Inilah saat yang tepat karena masyarakat Indonesia sekarang sudah sangat kritis dan semuanya sangat apresiatif,” ungkapnya. Next: tip memilih kain tradisional berkualitas baik.

1
2
SHARE