Bahaya Hujan Abu Vulkanik

0
141

Waspadai bahaya hujan abu vulkanik.

Ilustrasi abu vulkanik

Dampak letusan Gunung Kelud telah dirasakan di sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura hingga Yogyakarta. Bukan hanya itu, hujan abu pun kini sudah mencapai Tasikmalaya dan Bandung.

Kini, hujan abu meninggalkan kekuatiran tentang masalah kesehatan. Abu vulkanik yang terbentuk selama letusan gunung berapi merupakan gabungan antara partikel dan gas berbahaya.

Beberapa di antaranya adalah pasir, debu, karbon monoksida, sulfat [sulfur dioksida], asam klorida, dan asam hydroflouric. Masing-masing partikel dan gas berbahaya ini memiliki efek berbeda namun serius pada kesehatan manusia.

Partikel abu vulkanik yang berukuran 10 mikrometer atau lebih kecil dapat melewati hidung dan tenggorokan, lalu masuk ke paru-paru. Sementara partikel yang lebih besar dari 10 mikrometer biasanya tidak akan bisa mencapai paru-paru, tetapi tetap bisa mengiritasi mata, kulit, hidung dan tenggorokan. Tingkat keparahan masalah ini bergantung pada konsentrasi abu dan durasi paparan abu.

Masalah gangguan pernapasan
Abu vulkanik mencemari udara dan juga mempengaruhi tanaman yang tumbuh di sekitar area gunung berapi. Ketika udara tercemar tersebut terhirup dan masuk ke dalam tubuh, maka akan mengendap di saluran udara dan sel-sel paru-paru.

Dengan eksposur yang tinggi, bahkan individu yang sehat akan mengalami ketidaknyamanan di dada dengan meningkatnya intensitas batuk, iritasi tenggorokan yang disertai batuk kering, gejala bronkitits, sesak nafas, mengi’, dan batuk.

Anak-anak, orang tua, dan orang dengan masalah jantung dan paru-paru, seperti bronkitis, emfisema, asma, dan gagal jantung kronis, mungkin yang paling berisiko dari paparan abu vulkanik. Menghirup asap dan partikel debu dapat meningkatkan risiko masalah pernapasan minor, penyakit jantung dan paru-paru semakin parah, serta mengakibatkan kematian dini.

IlustrasiMasalah pada mata
The US Geological Survey memperingatkan bahwa paparan abu vulkanik cukup kasar bisa menyebabkan iritasi mata. Orang yang mengenakan kontak lensa sebaiknya tidak menggunakannya saat debu turun.

Gejala yang paling sering dilaporkan adalah mata menjadi pedih, gatal atau memerah, keluar air mata berlebihan, hingga konjungtivitas akut atau peradangan pada kantung konjungtiva yang mengelilingi bola mata yang membutuhkan perawatan medis.

Iritasi kulit
Meskipun jarang, debu vulkanik dapat menyebabkan iritasi kulit pada sebagian orang. Umumnya, kulit menjadi kemerahan akibat paparan abu vulkanik.

Apa yang harus dilakukan saat terjadi hujan abu?
1. Gunakan masker, sapu tangan atau pakaian untuk meminimalkan risiko.
2. Hindari pula kegiatan di luar ruangan, seperti jogging, bersepeda, atau berkebun.
3. Sementara untuk orang dengan kondisi jantung dan paru-paru kronis, pastikan ketersedian obat-obatan.
4. Konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki gejala apapun yang Anda pikir mungkin berhubungan dengan paparan abu vulkanik.
5. Mereka yang tinggal dekat dengan letusan gunung berapi harus melindungi kulit dengan kemeja lengan panjang dan celana panjang. Terkadang, abu panas juga bisa menyebabkan luka bakar di kulit.
6. Bersihkan mata dengan air bersih jika Anda mengalami masalah iritasi mata. Hubungi dokter jika iritasi berlanjut dan apabila Anda mengalami kesulitan bernapas. « [teks @innesspw | foto courtesy of sxc.hu]

SHARE