Ini Aksiku, Mana Aksimu?

0
174

Kekuatan besar dengan tanggungjawab besar

earthhour 1

Sudah jadi kewajiban bagi semua manusia untuk menjaga kelestarian alam raya. Tanpa terkecuali. Agar bisa terlepas dari amukan semesta. Banjir bandang, longsor, hilangnya unsur hara, atau ozon yang keropos adalah kesalahan yang anak Adam buat tiga abad terakhir ini. Demi menjaga kelangsungan hidup manusia di bumi, khususnya Indonesia, maka Earth Hour Indonesia memilih ranger-ranger untuk melakukan tujuh aksi berbeda di tiap daerah.

Dalam acara Earth Hour Indonesia City Champions Talk, para ranger itu diperkenalkan. Mereka semua berasal dari tujuh kota: Banda Aceh, Samarinda, Banten, Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Bali. Dan semua memiliki caranya masing-masing untuk menjaga kelestarian tempat mereka tinggal.

Earth Hour [EH] Aceh bersama 30 komunitas lokal menggelar aksi penanaman mangrove di Pantai Lambade, Aceh. Lokasi ini dipilih karena hingga sekarang sisa-sisa kerusakan akibat hantaman tsunami masih terasa. Tak ada tanaman yang tumbuh secara kokoh, suasana gersang justru meliputi desa setempat.

Tak hanya melimpahkan tanahnya, mereka pun melepas 1.000 tukik penyu ke lautan. Supaya semakin banyak kehidupan di sana. EH Banten pun melakukan penanaman pohon mangrove di daerah Muara Gembong, untuk merevitalisasi pesisir pantai agar terhindar dari bahaya abrasi.

Semangat serupa juga ditunjukkan EH Samarinda. Mereka melakukan penanaman pohon bakau di tepian Sungai Mahakam. Agar terbebas dari ancaman abrasi yang meneror pemakaman yang menjorok ke sungai di beberapa titik. Jika pemakaman ini sampai terkena abrasi, akibatnya jasad yang telah lama dikubur dapat tergenang air.

Diakui oleh mereka, Sungai Mahakam, telah sangat tercemar. Padahal ini sumber air utama masyarakat Samarinda. Mereka berharap dengan aksi daur ulang sampah plastik, dapat mengembalikan kelestarian ekosistem sungai.

Yang menarik ialah aksi yang dilakukan EH Bali. Mereka melakukan pengadopsian koral serta penghijauan di lereng Gunung Batur, Kintamani. “Yang perlu dihijaukan bukan cuma tanahnya saja, tapi laut juga perlu dibirukan oleh koral-koral ini,” ungkap relawan EH Bali.

Koral-koral tersebut bisa diadopsi oleh siapapun dengan cara membelinya. Selama tiga bulan akan ada newsletter tentang kabar dari koral yang telah diadopsi. Lebih dari itu, biar laut yang mengambil alih untuk menjaganya. EH Yogyakarta yang prihatin melihat kotanya jarang lahan kosong akibat ditutupi oleh konblok, mengampanyekan agar tiap pintu rumah maupun kos-kosan memiliki satu tanaman di pot. Agar udara yang tercemar dapat disaring oleh tanaman-tanaman tersebut. EH Bandung berusaha mengelola sampah kota yang menumpuk. Dan EH Makassar menyebarkan konsep kampung hijau serta sekolah satelit.

Tahun ini EH telah memasuki tahun keenam. Sebagai gerakan yang digagas WWF, EH tiap tahunnya semakin masif dilakukan pihak sipil. Artinya, banyak yang sadar akan pentingnya kelestarian bumi ini. Isu tentang lingkungan hidup sudah berkembang di tahun ’70-an, telah banyak yang berteriak agar mulai menjalani hidup yang harmonis dengan alam.

Tetapi seiring waktu berlalu, isu itu ibarat rongsokan yang ditaruh di bagian pojok gudang. Tak ada yang menggubris hingga bencana datang. Padahal, persoalan mengenai lingkungan menyangkut kelangsungan segala makhluk hidup di bumi ini. Tujuh kegiatan tadi adalah aksi mereka dalam menjaganya, lalu mana aksimu?

Aksi Para Eco-Warrior

earthhour 2
Berlangsungnya EH kali ini diharap akan membawa dampak yang lebih besar. Untuk membangun kepedulian masyarakat luas, pihak WWF Indonesia menunjuk beberapa publik figur untuk mendukung aksi ini.

Nadya Hutagalung, Joe Taslim, dan Ario Bayu siap bergabung dalam kegiatan EH 2014. Mereka siap membuat gaung EH lebih keras di luar sana. Pemilihan mereka juga memiliki alasan yang jelas.

Nadya Hutagalung, memang dikenal sebagai aktivis yang peduli dengan perburuan gading gajah. Nadya melakukan kegiatan pribadinya terkait dengan kehidupan gajah-gajah yang mencakup wilayah Asia. Serupa dengan Nadia, Joe Taslim sebagai putra daerah Sumatera juga merasa peduli dengan jumlah harimau Sumatera yang semakin hari semakin berkurang. Ia yakin, jika setiap individu memiliki kepedulian untuk berubah ke arah yang lebih baik, akan tercipta sebuah kekuatan besar.

Senada dengan keduanya, Ario Bayu, yang ditunjuk sebagai eco-warrior orangutan, juga satu suara dengan Nadia dan Joe. Bahwa setiap orang pasti ingin membuat perubahan yang lebih baik. WWF adalah salah satu wadah. Mulai dari hal yang kecil yaitu peduli pada lingkungan dan juga makhluk hidup di dalamnya.

Dan sebagai simbol bahwa setiap individu mau peduli pada kelestarian alam adalah dengan dilakukannya pemadaman lampu bersama. Tahun ini kegiatan tersebut akan dilakukan pada Sabtu, 29 Maret 2014, dilakukan selama satu jam, mulai pukul 20.30 wib. Kalau kita mampu memadamkan lampu, berarti kita mampu untuk melakukan hal yang lebih besar lagi untuk kelestarian lingkungan.

Belajar dari Ranger

earthhour 3
Di saat WWF berusaha menyelamatkan kelestarian bumi dengan berbagai kegiatan, seperti EH, cerita miris di luar sana juga terus berjalan. Apa yang kalian rasakan jika hutan yang rimbun hilang seketika dalam waktu beberapa minggu? Semua pepohonan rindang berubah menjadi tanah lapang.

Itulah yang dialami seorang ranger perempuan asal Sumatera, bernama Kamila. Ia mulai bertanggungjawab sebagai ranger sejak tahun 2008 silam. Banyak peristiwa yang dialaminya semenjak menjadi ranger. Namun, salah satu hal yang menyentuh hati adalah saat satu keluarga harimau hilang karena tempat tinggalnya berubah menjadi tanah lapang.

“Kami biasanya melihat perkembangan satwa lewat kamera. Saat itu kami senang sekali melihat seekor harimau dengan dua anak hidup di satu tempat. Tapi, beberapa minggu setelahnya, saat kami mencoba melihat perkembangan anak harimau itu, semua hilang. Harimau itu tidak lagi di sana, karena hutannya sudah musnah,” Kata Kamila menceritakan pengalamannya ditemui di Kawasan Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Cerita itu hanya sedikit contoh dari banyaknya hal menyedihkan yang terjadi di dalam hutan. Bagaimana hutannya bisa musnah? Mengapa ranger bisa kecolongan? Itulah pertanyaan yang harus kita pecahkan bersama-sama. Kenapa? Karena kenyataannya dari sekian ribu hektar hutan yang membentang si Sumatera Barat, Riau, dan Jambi, hanya terdapat delapan ranger.

Ketika delapan orang di hutan mampu berjalan demi kelestarian alam dengan segala keterbatasan, mengapa kita tidak bisa berbuat hal sederhana untuk membantu para ranger? Ranger di hutan sana sudah seperti hero bagi pegiat kelestarian alam. Mereka adalah ujung tombak bagi orang-orang yang peduli pada kelangsungan kelestarian alam raya. Kita membutuhkan hero seperti para ranger tersebut. Apakah kita masih memiliki kesadaran akan hal itu?

Bergabungnya Superhero

spiderman
Jika ranger adalah hero dan pionir mereka yang peduli kelestarian alam, maka superhero yang satu ini juga tak mau kalah. Spider-Man, sang manusia laba-laba akan ikut mendukung berlangsungnya EH 2014.

Tahun ini EH bersama The Amazing Spider-Man 2 yang dibintangi Andrew Gardfield, Emma Stone, Jamie Foxx dan sutradara Marc Webb akan mencanangkan dukungan untuk Earth Hour Blue, menjaring kekuatan untuk menggalang dana bagi misi-misi pelestarian lingkungan yang dilakukan di berbagai penjuru dunia.

Beberapa skema yang akan dilakukan dalam kegiatan Earth Hour Blue antara lain, membantu keluarga di Madagaskar dengan mengirimkan kompor hemat energi. Selain itu juga memberikan modal untuk komunitas di Filipina, membangun kapal fiberglass supaya mereka mampu menghadapi dampak cuaca ekstrim seperti Topan Haiyan, dan masih banyak kegiatan lain yang akan dilakukan di masa mendatang.

Dengan banyaknya kekuatan yang bergabung dalam kegiatan EH tahun ini, diharapkan juga semakin banyak yang mau peduli. Dengan bergabungnya Spider-Man dalam kegiatan ini, juga mengingatkan kita akan satu hal. Bahwa dalam kekuatan yang besar akan terdapat tanggungjawab yang besar pula. Oleh karena itu, bagi siapapun individu, bisa menunjukkan aksinya masing-masing demi kelestarian alam raya. With great power, comes great responsibility. Ini aksiku, mana aksimu? « [teks @HaabibOnta dan @nandiyanti | foto courtesy of Earthhour.org]

SHARE